41. Pangeran Posesif

8.9K 776 33
                                        

Udah baca part 31-40 di sebelah kan? Karena banyak kata kunci di sana. 🤭

Voucher nya masih ada. Bisa dipakai. Kode voucher ada di bab sebelum ini.

----

"Mesti banget ya, Nek, balik ke Aceh? Kenapa sih lo? Dah enak tahu. Lo sama Dokter Rendra dah baik-baik aja. Udah nikah. Keluarga pada damai. Apa yang masih lo kejar?"

"Pasien gue lah! Gue harus jadi dokter bertanggung jawab. Bukan gara-gara udah nemu suami terus pasien ditinggal."

"Doi kasih restu?"

Mmm... merestui sih. Tapi Bagas dikit-dikit merengek. "Pindah sini aja lagi, gimana? Aku siap bayar pinaltinya."

Memang dipikirnya, semua masalah bisa diselesaikan pakai uang? Nggak dong! Ini soal profesionalitas, dedikasiku pada amanah yang telah diberi. 

"Oh, harus dong! Wajib! Udah kesepakatan sebelum dia nikahin gue!" ngototku.

Aku menyesap teh yang kuhadiahkan untuk Fiona. Oleh-oleh dari Kanjeng Ibu. Sejak Bagas curhat pada ibunya, jika aku mulai bergaya hidup nggak sehat, Kanjeng Ibu rajin mengirimkan teh. Biar kebiasaan ngopiku tergantikan. Padahal, lebih sehat air mineral dibandingkan ini semua. Yee kan?

"Cariin jodoh gue juga dong, Nek? Mestinya gue happy ya. Jujur sih, happy banget lo nikah. Tapi gue kesepian, Nek. Apalagi dari lo ke Aceh. Terus sekarang tiap balik Jakarta lo dipenjara suami. Aah, kapan mainnya lo ma gue?"

Fiona mengibaskan rambutnya frustasi. Belum tahu aja dia! Nikah itu bisa jadi surga tapi bisa jadi neraka, kalo dia asal comot cowoknya.

"Uluuh... uluhhh..."

Aku memeluk Fiona. Lalu, mengeplak punggungnya. Keras. Biar sadar. "Sakit, Nek!"

Habisnya aku gemas. Dari dulu aku jodoh-jodohin sama civitas hospitalia RS UNI yang masih single fresh from the oven, berattitude baik, cowok sholeh, dianya enggak mau. Katanya, mau menemani masa kejombloanku. Nggak tahunya, sekarang jalan takdirku begini.

"Emang udah sembuh sakit hati sama mantannya? Ni gue main ma lo, kan?"

Fiona menghela nafas panjang. Dia pernah dibohongi pacar pertamanya. Makanya sekarang awet nggak mau cari jodoh. Apalagi setelah dengar cerita-cerita horor tentang rumah tanggaku sama Bagas tempo dulu.

"Main, kata lo? Lo nggak lihat tuh HP? Ting tang ting tung mulu dari tadi chat-nya?" 

Fiona melirik ke ponsel di atas meja. Kuikuti arah tatapnya.

Aku meringis kuda. Emang nih! Si Bagas nggak ngerti apa ya quality time dalam pertemanan? Minta waktu bentar aja bersenang-senang sama teman, dia mulai posesif lagi. Mana katanya kemarin mau membebaskanku ke mana aja? Seperti merpati bebas dari dalam sangkar. Ini mah, sifat lama nggak bisa diubah.

"Dah sana! Males gue lihat love bird begini."

Aku terbahak. Fiona cemberut. Aku tahu dia merasa sedikit kehilangan teman berisik. Tapi yakin dari dalam hati, teman-teman Fiona banyak kok. Dia nggak sebegitu kesepiannya tanpa aku. Akhirnya, aku cek jam tangan. Iya sih. Tadi janji jam 4 sore kelar dan ini udah lewat 5 menit. Ah, segitunya.

Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini ( Tara Bagas) TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang