Kami tak ingin gagal untuk kedua kali. Menurutku, Bagas juga, hubungan ini perlu diperjuangkan hingga titik darah penghabisan. Maksudnya, kami takkan lagi saling berburuk sangka. Bertabayyun hingga menemukan inti masalah dan solusi yang bisa diterima keduanya.
Ya, namanya juga manusia. Ego tetap melekat sampai akhir. Aku, sih, yang kebanyakan begitu. Karena kusadari belakangan, ternyata Bagas udah mengalah banyak sekali untukku. Sekarang, giliran aku mengalah hanya demi panggilan sayang terbaru, yang sedang kami rundingkan ini. Menurutku nggak penting. Tapi baginya, ini puenting banget! Kami nggak boleh melewatkan kesempatan pacaran yang dulu tergeser oleh kesibukan sekolah, konflik kami, juga negative thinking-ku.
Nggak tahu deh. Kayaknya dia lupa umurnya hampir memasuki kepala 4. Dan aku udah 34 tahun.
Air laut menyapu kaki-kaki telanjang kami yang beriringan menyusuri tepian pantai ini. Bagas udah mengatur itinerary kami makan malam di satu resto Banda Aceh setelah ini. Tadi, sesiangan, dia mengajak belanja ke pasar ikan, memasak menu spesial—yang aku nggak ngerti tapi enak—dan aku didapuk sebagai asisten koki yang mengiris-iris bahan. Capek makan lalu haha-hihi sama Bagas, aku merengek minta ditemani ke pantai.
"Mamas aja. Mamas Gagas."
Aku mau muntah. Tawaku menyembur tanpa bisa ditahan. "Nanas Gagas aja gimana? Ya Allah, duh Gusti, aku geli... Asli! Jangan ah! Biasa aja napa sih?"
"Ya apa? Aku udah putuskan bakal manggil kamu Dedek Yaya."
"Jangaann!!!"
Aku yang malu andai dia beneran manggil begitu!
Malu sama teman, Kak Tiya, Iyut, Mami. Oh no!!!
"Dek Tara aja. Oke?"
Dia cemberut. Nggak cocok banget akting jadi bocah manja yang lagi ngambek.
"Adek Tara boleh deh. Udah biasa dipanggil Tara sama kamu. Jadi kalau diganti malah jadi nggak kedengeran romantis tahu," rayuku padanya.
Senyumnya muncul tapi nggak lebar. Nggak papalah. Daripada aku dipanggil Yaya.
"Dan kamu? Punya panggilan sayang apa untukku?"
Waduh!
"Kita nih nggak ada bahasan yang lebih berbobot ya? Malu sama penonton."
"Nggak ada yang nontonin kita."
"Ih, Fiona aja pasti stop baca novel cerita kita deh kalo male lead-nya aneh betul macam Mas. Apa kek? Kasih tahu aku! Pernah nemu kasus pasien langka apa selama kita pisah dulu? Aku tuh masih suka dibimbing sama Mas lho ini."
Kemeja putihnya berkibar. Celana yang telah ditekuk di bawah lulutnya pun tetap basah oleh air laut. Kami menunggu sore. Sekalian sunset. Besok kami akan pulang. Entah kapan ke sini lagi. Rumah ini juga akan kami jadikan homestay setelah Bagas izin akan menambah cantik beberapa sudut agar tampak menarik pelanggan.
"Belum ada pelajaran tambahan buat Adek. Biar fokus aja dulu sama program buah hati kita."
"Apa nggak aneh kamu punya anak terus aku panggil Adek. Kamunya manggil ibunya si adek, Adek, juga. Nggak belibet tuh?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini ( Tara Bagas) TAMAT
RomanceTara adalah perempuan bebas. Bebas tidur sembarangan, bangun siang, belanja sekehendak hati, makan junk food, nyetir kemana aja dia suka, dan yang pasti nggak ada orang ribet yang akan negur dia. Nggak lagi-lagi akan dia ulangi hidup dalam kekangan...
