Badan capek setengah mati tuh mintanya pengin ditidurin aja. Sayangnya, entah, kenapa semalaman aku justru nggak bisa memejamkan mata.
Aku bangun dari pembaringan. Kupeluk kedua kaki sembari melihat isi ponsel. Ada satu panggilan tak terjawab dari Bagas. Apa urusannya? Cuma sekali. Bisa jadi dia hanya iseng.
Pandanganku justru tertuju pada ventilasi terbuka di atas jendela. Kini telah tertutup strimin untuk meminimalisir nyamuk masuk. Aku bertanya lagi. Kapan Bagas memasangnya? Tadi sebelum ke pasar, ventilasi ini masih terbuka lebar.
Sulit memejam, kuputuskan berjalan ke sofa single di bawah jendela. Entah sofa lusuh darimana, yang pasti, kurasa ini satu-satunya tinggalan penghuni sebelumnya. Kubuka sedikit gorden. Langit tampak gelap dari pantulan kaca bening ini. Bulannya nggak bulat. Sedangkan, bintang juga hanya segelintir. Malam yang menenangkan tanpa perlu ada yang bersinar. Kesukaanku.
Bagas ... Bagas ... Rendra Bagas ....
Apa yang harus kulakukan padanya?
Aku pusing. Kurebahkan kepala ke sandaran sofa. Mau berkali-kali bertanya pada hati, aku masih nihil menemukan jawaban yang tepat.
Tentang bagaimana perasaanku pada Bagas sekarang?
Tentang apa yang harus kuminta dari Bagas agar rasa sakitku setelah bertahun-tahun ini hilang?
Tentang seperti apa isi hati Bagas?
Apakah ia juga sedang menahan rasa ingin menangis sepertiku?
Bagaimana ia bisa semantap itu ingin mengembalikanku ke sisinya?
Tak takutkah ia, jika kejadian masa lampau terjadi kembali?
Tak jerakah ia, dimusuhi lebih banyak keluarga daripada mempertahankanku yang hanya seorang?
Tak ingatkah ia, komunikasi kami nggak pernah sebaik pasangan-pasangan lain?
Tarananta:
Kenapa? Bisa nggak, nggak gangguin?
Aku mengirim chat tersebut. Nggak mengganggu maksudku adalah tolong jangan memenuhi isi kepalaku. Tolong jangan menampakkan diri di depanku. Tolong jangan membicarakan apapun yang membuatku nampak bagai orang jahat dan dia korban.
Lalu lihat, ternyata dia nggak mengabulkan pintaku.
Bagas:
Hei, nggak tidur?
Tarananta:
Nggak usah basa-basi. Saya terganggu.
Bagas:
Aku mau ketemu lagi sebelum berangkat nanti pagi. Bisa ya?
Tarananta:
Liat nanti.
----------
Tarananta bukan manusia egois yang nggak mengerti terima kasih. Jam 3 aku bangun. Membuka lemari es yang isinya wow sekali. Bagas benar-benar memenuhi kulkasku dengan belanjaannya.
Kuambil dua butir telur, sayur bayam, tomat, daging. Tak ada keju. Kuceplok telur, sedangkan bayamnya kurebus. Tomat kuiris tipis. Daging kucincang, lalu kutumis menggunakan bawang. Setelah jadi, kumasukkan semua dalam setangkup roti tawar bermargarin. Bagas nggak suka pedas. Aku ragu mau memberinya saos kemasan kesukaanku. Kusiapkan juga susu UHT sekaligus dalam satu kotak makan. Udah mirip bekal sehat Iyut.
Aku nggak tahu bagaimana menyiapkan bekal sehat. Tapi kata Bagas, masakanku nggak pernah sehat. Semoga yang ini, nggak terlalu mengecewakannya. Lidah Bagas kebiasaan makan pakai sendok emas. Masakan para chef keraton.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini ( Tara Bagas) TAMAT
RomanceTara adalah perempuan bebas. Bebas tidur sembarangan, bangun siang, belanja sekehendak hati, makan junk food, nyetir kemana aja dia suka, dan yang pasti nggak ada orang ribet yang akan negur dia. Nggak lagi-lagi akan dia ulangi hidup dalam kekangan...
