28. Heningnya Meja Makan

7.4K 708 26
                                        

Kanjeng Ibu memberitahu anak-anaknya jika Gusti Prabu datang, selagi langkah beliau menjauh menuju ruang tamu, atau bahkan teras. Menyambut sang suami. Bagas dan Bagus berdiri. Tara yang kebingungan, mengikuti. Tubuh kecil pendeknya, ia sembunyikan di belakang sosok Bagas yang cukup tinggi. Ia masih memikirkan kalimat tepat macam apa, yang pantas untuk menyapa Gusti Prabu, raja tanah Surakarta ini.

Bagas menoleh ke belakang. Pasangan ini saling bersitatap. Bagas tahu benar jika Tara ketakutan dan gugup. Pun, Bagas. Bedanya, Bagas telah menyiapkan diri untuk ini. Mau seperti apa Gusti Prabu menentang, Bagas tetap akan memperjuangkan Taranya.

Tangan Bagas terulur ke belakang. Mengusap puncak kepala Tara sekali. Senyuman hangat menyalurkan kekuatan. Bagas harap Tara sanggup menangkap maksudnya. Tak ada kata terucap di antara keduanya, karena dalam sekejap, penguatan hati barusan terpotong oleh kedatangan seorang pria tinggi berbadan gagah dengan tongkatnya, yang dituntun oleh Kanjeng Ibu ke ruang tamu.

Menyusul di belakang para orang tua, sosok seorang gadis Jawa, melenggang cantik dalam balutan kebaya modern warna emas dan kain jarik rapat. Memberi senyum dan tatapan semanis madu pada pria tinggi yang menyembunyikan sosok Tara di belakangnya. 

"Gayatri?" tanya Bagas tak percaya.

Bagas menoleh mengamati punggung sang ayahanda.

Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ... ketika Bagas meminta waktu berharganya demi bertemu dengan calon istri pilihan Bagas, pria keras kepala itu membawa perempuan lain ke sini?

Tangan Bagas mengepal marah. Ia menarik nafas dalam demi meredakan kemarahan.

"Mas, maaf. Jadi ke sini. Karena sendirian, jadi Gusti Prabu ngajakin saya makan makan malam di sini. Nggak papa, kan?" 

Gayatri mengulas senyum cantik ketika tiba-tiba mencium tangan Bagas. Singkat saja karena segera Bagas tepis.

Tara syok. Kehabisan kata-kata.

Bagus yang melihat bagaimana reaksi calon kakak iparnya, kelabakan bergeser menempelkan bahu ke bahu sang kakak. Menghalangi si Gadis Mungil menonton adegan dewasa. Kanjeng Ibu menunduk sedih dalam langkahnya menuntun sang suami ke meja makan.

"Mbak Gayatri sama siapa ke sini?"

Bagus berusaha mengalihkan perhatian.

"Kan, aku udah bilang sendiri." Bagus mendadak tolol. Apapun pertanyaannya, yang penting Mbak Tara teralihkan. "Bapak Ibuku nggak bisa datang. Ada konferensi di Jenewa," jawab Gayatri pada Bagus. Lantas, tatapan Gayatri beralih pada Bagas lagi. "Gimana? Mas beneran nggak ada yang harus aku bantu nih? Kayaknya, Pak Ketua Panitia kita kelelahan."

Gayatri tertawa kecil.

Bagus dan Bagas kembali mengisi pasokan udara amat dalam agar sanggup berpikir jernih di situasi tak mengenakkan begini. Mereka saling menukar pandang. Sembari melirik ke belakang. Bagas dan Bagus bersamaan memijat pelipisnya. Bagai anak kembar yang sama-sama frustasi. Mengapa urusan perempuan sebegini rumitnya?

Isi kepala Tara mendidih. Bercandanya Gayantri nggak lucu. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ada yang memanggil Mas Bagasnya semanja itu dan mencium tangannya? Sejak kapan? Tara saja enggak pernah. Astaga. Kepalanya hampir pecah. Ia menahan banyak ocehan untuk Bagas dan perempuan yang punya tinggi badan setara Bagas. Tara menggeser kaki kecilnya ke samping. Unjuk diri agar nggak dianggap tak ada.

Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini ( Tara Bagas) TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang