27. Dalem Ratu Sekar

8.1K 788 15
                                        

Tara terbawa arus. Tak sadar jika kakinya melangkah kian jauh mengikuti karnaval hingga ke Balai Kota. Atraksi di sini lebih menarik perhatian. Getar ponsel di tas, bahkan Tara abaikan sejenak. 

Tara berbincang bersama warga yang ramah menyapa. Sesekali jika sekitarnya mulai ramai, Tara menyelip gesit bagai belut. Mencari posisi depan demi dapat mengabadikan atraksi secara sempurna. Mau jungkir balik atau jongkok, tak jadi soal bagi Tara. Kemeriahan acara serasa enggan sirna meski matahari hampir tenggelam di ufuk.

Tara adalah gadis petualang. Ia tak takut tersesat. Tawaran Bagas agar Pak Kirno menemanipun, ditolaknya. Takut justru dirinya nggak nyaman diikuti.

Pukul 17.00, pertunjukan terakhir adalah Tari Gambyong. Tara melesat dari belakang menuju depan lagi. Begitu seterusnya. Maklum, badan kecil, kekuatan juga tak seberapa. Meskipun melawan arus orang berbadan besar yang saling berebut posisi, Tara terdorong mundur lagi dan lagi.

Masih merekam dengan kamera digitalnya, Tara tersenggol penonton lain. Mulai ada yang menginvasi wilayah. Seorang anak remaja menghalangi kamera Tara. Sudah berjinjit-jinjit pun tak berhasil. 

Tara menunduk sedih. Menggerutu kecewa. Masih tenggelam dalam kekesalan, tiba-tiba genggaman hangat seseorang berhodie putih meraih pergelangan tangan kecilnya. Tara sontak menampik lengan usil tersebut. Sebelum lelaki itu menunjukkan wajahnya dengan mengangkat tudung kepala.

"Ini aku," bisik Bagas. Tangannya kembali meraih jemari Tara yang masih belum sadar dari kekagetan. Menggenggam dan menarik Tara dari kerumunan.

"Mas? Kamu udah di sini?"

Bagas melepaskan tangan Tara ketika keadaan cukup lengang. 

"Iya. Kenapa teleponku nggak diangkat."

"Rame banget. Rencana baru mau aku buka setelah lihat tari yang ini. Kok tahu aku di sini?"

Bagas menengok ke belakang. Menunjukkan posisi lelaki berkemeja batik yang berdiri di bawah pohon. Nggak terlalu jauh dari posisi Tara dan Bagas sekarang. Pak Kirno menunduk hormat ketika Tara dan Bagas menujukan tatapan pada beliau.

"Pak Kirno aku suruh ngikutin kamu."

"Kan, aku udah bilang nggak usah."

"Jagain kamu, Ra. Banyak orang di sini. Takut hilang anak SMA-nya Mas," goda Bagas.

"Ish!" Tara memberengut sebal.

Bagaimana mungkin, Bagas meninggalkan mantan koas kesayangan tenggelam di lautan manusia? Sang pangeran terlalu menaruh hati pada gadis satu ini.

-------

Mereka menyempatkan diri berjalan menuju Pasar Gede yang tak jauh dari Balai Kota. Menyicipi jajanan ringan yang disediakan di barisan stand makanan di trotoar. Duduk di atas bangku kayu bersama warga lain yang melepas dahaga. Mampir ke angkringan sekitar Pasar Gede. Makan makanan merakyat. Nasi kucing dan sate-satean. Minum es susu jahe.

Orang-orang mengenali Bagas. Mau tak mau, situasi berubah menjadi jumpa fans singkat. Dimana ibu-ibu, bapak-bapak, hingga kawula muda meminta foto bersama. Tara terbahak riang memandang Bagas yang tampak kewalahan ketika orang-orang memeluk lengannya. Mencubit pipi tirusnya.

"Meniko mbaknya calonnya Raden Mas, nggih? (Itu mbaknya pacarnya Raden Mas, ya?) Tanya salah seorang wanita berusia 40-an.

Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini ( Tara Bagas) TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang