Ampuunnn!!! Aku nih emang terjebak sama orang lama ya? Baru kemarin bilang, dia bukan Bagas yang dulu. Nggak tahunya, ada yang tetap sama dari dirinya.
Gimana dong? Udah terlanjur nikah, masih aja nemenin dia begadang bola begini. Padahal, umur tuh nggak bisa bohong. Kalau aku, besokannya badanku udah remuk redam seperti habis kayang 7 tanjakan 7 turunan, kalau nggak diganti bobok panjang habis jaga malam.
Nah, ini! Bapak Rendra Bagas katanya mau akreditasi. Ini saja dia bawa laptop yang sambil diketik. Semoga nggak salah ya ngetiknya! Bukan malah narasi lika-liku bola di Stadion Old Trafford yang sedang digiring oleh Thomas Soucek ke gawang.
Kuakui dia pintar mengerjakan banyak hal sekaligus. Tapi ... tapi ...
Goooolll!!!
Gol 1-0 dari West Ham United—lawannya MU—, yang kini membuat Bagas dan seluruh lelaki di sini berdiri lalu berteriak kencang, ngomel-ngomel. Kalau bisa misuh, misuh deh mereka. Sayangnya, ada sungkan pada keberadaan Bagas. Aku tahu, lelaki berkaos V neck putih itu bakal uring-uringan setengah mampus di hari-hari setelah ini.
"Kalah, Sayang ..."
Nadanya lelah, letih, lesu. Bibirnya melengkung ke bawah. Lalu tubuh tingginya memelukku. Kepalanya ndusel-dusel.
Tersisa Bagas, Bagus dan terakhir aku di teras dalem Kanjeng Ibu ini. Yang lainnya langsung kabur begitu aku datang. TV dari dalam, sengaja mereka oper keluar karena takut membangunkan Ibu. Mereka lesehan menggelar karpet, minum, camilan. Semangat sekali mau mendukung MU.
Nggak tahunya ...
"Belum. Kan masih ada waktu." Kuusap rambut lurusnya. Memberi kalimat menenangkan. Padahal ... mau ketawa sendiri dalam hati.
"Feeling-ku nggak bagus nih. Apa udahan aja nontonnya?" katanya.
"Ah, lemah! Bilang aja udah kangen Mbak Tara. Ya, kan, Mbak?"
Bagus menaikkan kedua alis. Sudut bibirnya menyeringai jahil.
"Lanjutkan, Mbak. Seru kalo MU kalah nih, kita bakal lihat muka Mas Bagas makin suram."
Bagus berkelakar tanpa malu, yang mengundang lemparan kulit kacang dari kakaknya.
Mereka juara kalau soal ledek-ledekan. Hebatnya, giliran salah satu dari bersaudara ini memiliki masalah serius, satu yang lain akan membantu sampai selesai. Segila apapun itu.
Sejauh Bagus terbang dari Inggris untuk mempersatukan hubunganku dan Bagas.
Sefrustasi Bagas ketika membersihkan nama Bagus dari skandal-skandal masa remajanya.
Sehebat Bagas menyelamatkan adiknya dari amarah Gusti Prabu sedari kecil. Membebaskannya tumbuh menjadi lelaki tanpa beban.
Dan kini ... seringan Bagus mengorbankan kebebasan hidup, untuk menetap dalam keraton menggantikan kakaknya.
Aku jelas mengangguk. Memang seru, Gaes, andai klub kesayangan suamiku ini kalah malam ini! Setelahnya, kujamin, dia nggak bakal nonton bola lagi sampai berbulan-bulan demi menyembuhkan kecewa kekalahan. Cuma tega scrolling dan melihat hasil klasemen Liga Inggris dari Google aja. Aman untuk mataku, kewarasan juga jam tidurku, yang nggak harus nemenin dia nonton lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Tak Berharap Bintang Hadir Malam Ini ( Tara Bagas) TAMAT
RomansaTara adalah perempuan bebas. Bebas tidur sembarangan, bangun siang, belanja sekehendak hati, makan junk food, nyetir kemana aja dia suka, dan yang pasti nggak ada orang ribet yang akan negur dia. Nggak lagi-lagi akan dia ulangi hidup dalam kekangan...
