Tirta saat ini sedang berada di sebuah bengkel ternama khusus motor sport. Menatap setiap pergerakkan pria di depannya yang sudah lumayan berumur itu kini tengah sibuk mengotak-atik motor dengan begitu serius.
"akhirnya tuntas sudah" Bumantara Theodore, kerap dipanggil tara. Pria itu adalah kakek tirta, seseorang yang sangat menyukai motor sport karena hobinya memang balapan. Bukan balapan ilegal, tapi balapan di sirkuet yang memang memperebutkan sebuah piala. Namun di usia yang sekarang dia hanya balapan untuk bersenang senang dengan para sahabatnya. Dan juga melatih beberapa murid yang ia punya.
"nih kek" tirta menyodorkan air mineral yang tentu diterima sang kakek.
"gak ada vodka ya tir?" tanya beliau sambil terkekeh.
Tirta hanya membalas dengan gelengan kepala sambil tertawa. Dia tau kakeknya hanya bercanda, lagi pula sudah lama kakeknya itu berhenti meminum alkohol. Manusia berumur lima puluh lima tahun memang seharusnya tidak menyentuh minuman sejenis vodka kan?
"Emangnya tadi kalah kek?" tanya tirta, setelah mendaratkan bokongnya pada kursi. Diikuti tara yang meneguk air mineral tadi sebelum menjawab.
"Iya, si rama punya motor baru ternyata. Harusnya bilang dulu jadi kakek bisa bawa yang lain, bukan si butut ini" tunjuk tara pada motor yang tadi baru di servisnya.
"waduhh, jadi apa yang ilang kali ini?" Tirta tau setiap kakeknya balapan pasti mereka akan membuat perjanjian untuk yang menang boleh meminta apapun dari yang kalah. Begitulah kelakuan kakek kakek yang masih berjiwa muda.
"mau bonsai katanya" wajah tara sedikit khawatir "nanti dia ke rumah buat milih sendiri, semoga aja gak yang wah banget dia ambil" harapnya.
"bukan kakek rama kalo gak ngusilin kakek" celetuk tirta yang membuat tara meneguk ludah kasar.
Tara ini sangat gemar mengoleksi beberapa tanaman bonsai. Hampir dari separuh koleksinya itu hasil bonsai buatan sendiri yang tentu ia rawat dengan sangat telaten. Makanya ia sedikit tidak terima ketika rama--temannya itu meminta bonsainya, tapi mana bisa ia ingkar janji. Jadi mau tidak mau ia terima saja.
"gimana sama kamu tir? voli sukses?" tanya tara pada tirta.
Tirta mengangguk "salvatore udah mulai pada bagus mainnya, kita juga banyak yang ngajak latihan tanding dari beberapa sekolah. Harus sering latihan juga karena pak juli bilang dia udah mulai daftarin salvatore ikut turnamen" jelasnya.
"cepet juga ya setahun" puji sang kakek.
Tirta tersenyum samar "iya, gak nyangka ternyata yang lain beneran serius main volinya. Kirain cuman iseng aja ngikutin tirta."
"lebih gak nyangka lagi si kamu tir, suka banget sama voli tapi malah masuk sekolahannya Tama yang lemah di voli" ujar tara lalu melempar botol kosong di tangannya mengarah pada bak sampah yang jauh delapan meter dari tempat mereka duduk.
duk!
tepat sasaran, botol itu masuk tanpa kendala.
"Ya gimana, denger cerita kek Tama yang mau voli di sekolahnya supaya berkembang juga jadi bikin tirta merasa tertantang"
Jawaban tirta membuat tara tertawa puas "kamu memang cucu tara ya hahaha" ujarnya sambil mengusak kepala tirta dengan gemas.
Tama pemilik SMA MAHATAMA yang juga sahabat tara sejak masih muda. Pria itu memang pernah bercerita tentang sekolahnya kepada tirta, tama tau cucu tara memang sangat menyukai voli. Jadi ia sedikit menghasut cucu sahabatnya itu untuk masuk sekolahnya saja dan mengembangkan voli di sana. Kalau memang tirta cucu tara, seharusnya ia akan merasa tertantang sama seperti sifat kakeknya. Dan ya dugaannya benar, tirta sungguh melakukan apa yang tama bilang.
"kakek laper, kita nyari makan di luar aja" ujar tara yang disetujui tirta, kemudian keduanya melangkah pergi dengan tirta yang mengekori sang kakek.
Dan di sini lah mereka sekarang, tengah menatap tangan cantik di depan mereka sedang menaruh beberapa makanan yang keduanya pesan.
"kamu masih sekolah?" tiba-tiba tara mengajukkan pertanyaan. Tirta sedikit mengerutkan keningnya tanda kurang mengerti kepada siapa kakeknya bertanya. Begitupun dengan gadis cantik yang kini sudah berdiri tegak tanda tugasnya telah selesai.
"nanya saya ya om?" ujar gadis itu.
om? tirta membatin.
Tara mengangguk "iya" sahutnya yang membuat pegawai restoran tempat mereka makan itu memasang wajah agak...
malu-malu? batin tirta lagi.
"iya saya masih sekolah om"
"dimana?"
"sma mahatama om"
"sama kaya cucu saya ini dong" tunjuk tara pada tirta.
"cucu?" tanya gadis itu.
"iya cucu, saya ini udah kakek kakek tapi emang masih ganteng banget makanya kamu panggil om kan?"
persis kelakuan raka ucap tirta dalam hati.
"iya masih..." ucapan gadis itu tergantung karena melirik wajah tirta sekilas "ganteng" lanjutnya.
"kelas berapa? terus ikut eskul apa? udah punya pacar belum? kalo saya jodohin ke cucu saya ini kira kira mau gak?"
"kek!" tirta sedikit malu mendengar pertanyaan bertubi tubi kakeknya itu yang sangat hadeuhh tirta geleng kepala begitupun gadis di depannya yang nampak tersenyum kikuk. Untung saja sekarang ini restoran tidak terlalu ramai.
"kelas sebelas om eh kek, eh om, eh kek"
"panggil kakek aja, siapa tau beneran jadi cucu saya kan?"
"athena!" percakapan mereka terpaksa berhenti ketika seorang pegawai lainnya menghampiri gadis cantik itu dengan nampak tergesa gesa.
oh namanya athena
"dipanggil ke ruangan katanya"
Athena menoleh "oh? iya thanks, ini gue kesana" sahut athena mengerti dan menatap tara sambil sedikit membungkuk "saya permisi ya pak, silahkan menikmati menu yang sudah tersedia." ucap athena.
Tara mengangguk kemudian melihat athena dan temannya tadi mulai menjauh meninggalkan ia dan tirta.
"yah gak dapet nomernya tir" tara meneguk secangkir teh hangat miliknya. Kalo makan harus ada teh hangat memang orang tua satu ini.
"gampang nomernya mah kek, nanti hatinya yang Tirta dapetin" ucapan tirta barusan hampir membuat tara menyemburkan minumannya.
"uhuk, yang bener kamu?"
tirta mengangguk "doain aja."
"tapi jangan cepet-cepet tir, nanti kamu bucin siapa yang nemenin kakek kalo gabut gada temen gini?"
Tirta terkekeh pelan "cucu kakek yang satunya sekarang sibuk banget ya" celetuknya sambil mengelap sendok dengan tisu.
Tara mengangguk "kayanya hampir tiap hari dia ngirim foto dunianya sambil bilang cantik, kadang cantik, seringnya cantik banget katanya" membuat tawa lepas dari tirta terdengar. Selanjutnya mereka makan sambil bercerita hal hal kecil lainnya.
Begitulah keakraban tara dengan cucu-cucunya, sang kakek yang membuat tirta bercerita seperti bersama teman. Kehangatan yang tercipta diantara keduanya bisa membuat siapa saja yang melihat akan merasa iri, mungkin.
Namanya athena...athena...athena...athena.
entah batin siapa kali ini yang berisik berusaha mengingat nama wanita pemeran utama dari cerita ini.
tbc...
********
menurut kalian siapa yang akan mengejar dan dikejar, antara tirta dan athena nanti?
jangan lupa vote:)
KAMU SEDANG MEMBACA
SALVATORE (on going)
Подростковая литература"Dulu cool boy sekarang tantrum boy." "Tirta Theodore, (t) nya tantrum." ★★★★★★ Salvatore, nama club voli di SMA MAHATAMA yang berisikan tujuh laki laki. Diketuai oleh Tirta Theodore. Selain mengejar cita-cita untuk menjadi seorang Atlet voli, masa...
