12. DI LAIN TEMPAT

76 40 42
                                        


Seorang pria yang masih mengenakan setelan jas rapi pada tubuh tegapnya itu melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Ia bernapas dengan susah payah akibat kelelahan. Mengurut dahinya yang juga terasa berdenyut ngilu hingga ke pangkal hidung mancungnya.

"Satu proyek lagi, kalau kamu berhasil. Kamu boleh pulang."

srakk

Pria itu menatap sebuah map yang dilemparkan tepat di atas mejanya, menatap benda yang tidak ia suka itu tanpa minat untuk menyentuhnya. Rasanya sekarang ia ingin merobek kertas-kertas sialan itu.

"Siksaan terakhir kamu."

Pria itu menghempaskan punggung tegapnya pada sandaran kursi, menengadahkan kepalanya ke atas sambil tersenyum getir. Tak berniat menyahut ucapan pelaku yang selalu membawakannya beban–map yang berisikan tugas proyeknya.

"Putri kamu sudah SMA." Namun untuk pembahasan yang satu ini selalu berhasil membuatnya bersemangat. Sehingga ia kembali menarik diri dan menatap lawan bicaranya dengan antusias.

Yang ditatap juga menyunggingkan senyumnya ramah. Berdiri tepat di balik kaca tebal sebagai dinding ruangan ini, yang dimana di luar sana menampilkan pemandangan kota. Pikirannya kembali mengingat ucapan temannya itu di beberapa belas tahun yang lalu.

"Mimpi kamu ingin merayakan yang ke tujuh belas bersamanya kan?"

›››»»»»»«««««‹‹‹


"Kita udahan ya?"

Seorang wanita yang hampir seluruh tubuhnya ditelan oleh selimut tebal itu membulatkan matanya tatkala mendengar kalimat dari sang kekasih.

"M-maksud k-kamu apa?" Tanya wanita itu terbata-bata.

Sang kekasih nampak menghembuskan nafasnya pelan, mendaratkan bokong di samping wanitanya.

"Aku gak bisa ldr." Jawab lelaki itu.

"Maksud kamu apa sih? Tolong jelasin dulu ke aku! Ldr apanya? Hubungan jarak jauh? Kamu mau kemana?!" Rentetan pertanyaan wanita itu lontarkan dengan perasaan yang menggebu-gebu.

"Aku dapet kerjaan di luar kota yang jaraknya lumayan, rencananya nyari tempat tinggal di sana aja."

Hening, keduanya saling tatap. Yang satu mencari kebohongan di mata lelakinya, yang satu berusaha meyakinkan sang puan ini agar bisa mengerti keadaannya.

"A-aku gak masalah kalau kita ldr." Wanita itu mendudukkan dirinya sambil menyangga selimut agar tidak terjatuh dari tubuh bagian atasnya. Mengambil sebelah tangan lelaki itu dengan lembut, menggenggam dan mengelusnya perlahan.

"Aku gak bis–"

"Setelah semua yang udah kita lakuin?" Wanita itu menggigit bibir bawahnya, kedua netra mulai basah dengan sendirinya. "Kamu...mau ninggalin aku gitu aja?"

Lelaki itu menarik tangannya tersenyum miring, "gak usah berlagak seolah lakuin itu semua dengan terpaksa, kita lakuin itu emang karena sama-sama mau."

Tumpah sudah air mata sang puan yang berusaha ia tahan. Bibir dan tangannya bergetar dengan bersamaan, dadanya terasa sesak-sangat.

"K-kam-mu–"

"Aku gak perlu izin dari kamu, mau dilarang pun aku tetap pergi." Lelaki itu berdiri dan mengambil ponselnya di atas nakas. Ia melihat wanita yang menangis itu lewat pantulan cermin.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 24, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SALVATORE (on going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang