Tirta baru saja sampai di kediamannya, ia langsung meletakkan bibi alias motor Agip ke dalam bagasi di samping rumah. Setelah melepas helm ia mengusak rambutnya yang sudah tak lagi berwarna merah. Masih ingat kan kenapa rambutnya sempat merah?
Kemarin ia sudah mengganti warnanya menjadi warna cokelat sedikit kuning. Sekolahnya memang memperbolehkan murid memiliki warna rambut hitam atau cokelat, karena ada beberapa murid yang sudah terlahir berambut cokelat.
Tirta melangkah masuk ke dalam rumah yang dominan berwarna putih itu, lumayan besar.
"TEGA KAMU MAS, SELAMA INI AKU GAK PERNAH PERCAYA SAMA OMONGAN ORANG-ORANG ITU KARENA AKU PERCAYANYA SAMA KAMU!!!"
"YAUDAH SEKARANG KAMU MAU APA? MINTA CERAI, IYA?"
"MAS! KAMU GAK MIKIRIN PERASAAN ANAK-ANAK? MAU BILANG APA AKU KE MEREKA NANTI?!"
Baru beberapa langkah memasuki ruang tamu, rungu Tirta menangkap suara wanita dan pria yang begitu nyaring. Nampaknya sedang bertengkar hebat.
Tirta semakin melangkah mendekat, ia melihat papa dan mamanya tengah duduk berdua di sebuah sofa panjang. Mamanya menyandarkan kepala pada dada bidang papanya, tangan pria itu sibuk mengelus surai lembut sang istri yang menangis tersedu-sedu. Pasangan suami istri itu tak sadar jikalau putranya sedang mengamati mereka berdua. Tirta berdiri tepat di belakang sofa.
"Mama papa kenapa?" Benda persegi panjang di depan sana kembali mengeluarkan suara. Menampilkan seorang anak kecil menghampiri kedua orang tuanya yang sedang mengalami permasalahan rumah tangga.
"Huaaaa, anaknya masih kecil juga. Pah kamu jangan kaya gitu ya!" Tunjuk mama Tirta pada televisi.
Papa Tirta menggeleng. "Bisa dioseng Ayah aku kalo kaya gitu mah," sahutnya mengingat sang Ayah--Tara yang sudah pernah memperingatinya tentang perselingkuhan.
Tirta tersenyum hangat melihat orang tuanya sangat romantis ketika menonton bersama seperti ini. Iya betul, mama papanya sedang menonton sinetron dari sebuah Chanel televisi.
"Padahal Tirta mau punya mama dua pa." Alatas dan Serena kompak menoleh ke belakang ketika mendengar suara anak lelaki mereka.
"Gak usah kompor kamu tir!" peringat Alatas--ayah Tirta.
Serena berdiri. "Serius kamu ingin punya mama lagi? Kamu udah gak sayang mama ya? Mama masih kurang buat kalian?" Serena--mama Tirta bertanya dengan wajah sembabnya.
Tirta menganga mendengar mamanya malah menganggap ucapannya seserius ini, mamanya kenapa jadi sangat sensitif sekarang?
"E-enggak b-bukan gitu maksud Tirta ma," Tirta hampir kehabisan kalimat sekarang, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Alatas mengelus bahu istrinya pelan. "Tirta cuman bercanda itu Mah, udah ah nontonnya lagian sore udah mau abis," ucap Alatas berusaha menenangkan, namun Serena malah menepis tangannya.
"Kamu malem ini tidur aja sama Tirta, aku mau tidur sendiri!" Serena lalu pergi meninggalkan Alatas dan Tirta. Alatas menatap kepergian istrinya dengan menjatuhkan rahangnya.
"Kenapa bisa sensi banget pa?" tanya Tirta pada papanya.
Alatas kembali menjatuhkan bokongnya pada sofa dan menghembuskan nafas pelan. "Mama kamu lagi menstruasi, makanya mode senggol bacok."
Tirta mengangguk mengerti, pantas saja mamanya gampang emosi. Padahal biasanya kalau diajak bercanda seperti tadi, mamanya tidak akan mudah ambil hati.
"Terus gimana, papa tidur sama aku jadinya?"
Alatas menggeleng. "Gampang nanti papa bujuk mama kamu pake album artis yang baru rilis juga bakal gak ambekan lagi."
Tirta menggeleng sambil tertawa yang juga diikuti ayahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SALVATORE (on going)
Dla nastolatków"Dulu cool boy sekarang tantrum boy." "Tirta Theodore, (t) nya tantrum." ★★★★★★ Salvatore, nama club voli di SMA MAHATAMA yang berisikan tujuh laki laki. Diketuai oleh Tirta Theodore. Selain mengejar cita-cita untuk menjadi seorang Atlet voli, masa...
