Athena baru saja turun dari motor tukang ojek yang ditumpanginya, tepat di depan pagar rumah yang terlihat abu-abu di netranya. Sudah dua bulan lamanya ia tidak pernah singgah ke rumah ini, hingga ada sedikit rasa rindu yang ia rasakan. Puas memandangi, Athena mulai membuka pagar itu sendiri--ia sudah terbiasa. Sambil berjalan masuk ia sedikit mengamati keadaan halaman rumah. Tanaman bunga yang dulu selalu berjejer rapi dalam keadaan segar kini terlihat kering. Sepertinya pemilik bunga-bunga itu memang sengaja membiarkannya untuk mati dengan sendirinya.
Athena menghentikan langkahnya, kini ia sudah berhadapan dengan pintu utama rumah yang dikunjungi. Sunyi, hampa. Seperti tak ada kehidupan di dalamnya. Dulu memang sepi namun rumah ini masih terasa hidup, sekarang sangat ketara kehampaan yang terasa karena kembali hilang satu penghuni.
Athena mengerjabkan matanya, menarik nafas dalam lalu dihembuskan. Tangan lembutnya mulai menyentuh gagang pintu, membuka perlahan dan kembali menutupnya setelah badannya sudah berada di dalam.
"Bunda?" Panggilnya dengan suara sedikit keras namun masih lembut untuk didengar.
Tungkainya kembali mengayun guna menemukan orang yang ia cari. Orang yang memintanya untuk bertamu kembali setelah kehilangan.
"Bunda?" Panggilnya lagi untuk yang kedua kali. Masih belum ada sahutan, membuat dahi Athena sedikit mengkerut. Athena terus melangkah hingga indera penciumannya merasakan aroma yang begitu nikmat ketika dihirup. Dengan pasti langkahnya membawa Athena menuju dapur yang memang terletak sedikit terkebelakang.
Disana, orang yang ia cari tengah berkutat pada spatula yang tergenggam di tangan kanan--sibuk mengaduk sesuatu di dalam wajan.
"Bunda?"
"Eh? Athena? Udah dateng ya...?" Bunda melepas spatula yang ia genggam.
Athena mengangguk. "Aku panggil dari depan gak ada sahutan Bund," jawabnya dengan tangan kanan terulur ke depan untuk bersalaman.
Bunda menyambut tangan Athena dengan wajah tersenyum hangat. Athena mencium punggung tangan Bunda dengan sedikit menunduk yang membuat tangan kiri wanita berumur empat puluh tahunan itu mengelus kepala Athena pelan.
"Maaf ya sayang. Bunda gak denger karena lagi bikin nasi goreng buat kamu."
Athena tersenyum ramah, mengambil spatula yang tadi Bunda gunakan untuk mengaduk nasi goreng. Sekarang ia yang mengaduk nasi goreng itu karena memang belum selesai.
"Sebentar lagi udah mateng, nanti kita makan sama-sama di meja ya? Sama Bunda."
"Iya Bunda."
Disinilah Athena dan Bunda, duduk berdua di sebuah meja makan lumayan panjang, yang seharusnya bisa diisi enam orang.
"Gimana sekolah kamu, sayang?" Tanya Bunda pada Athena.
"Gak ada yang banyak berubah sih Bund, cuman aku udah gak eskul musik lagi. Pindah ke eskul Voli sekarang," sahut Athena.
Bunda tersenyum mendengarnya, "makasih, ya. Kamu udah nemenin anak Bunda selama ini."
Athena meneguk tandas segelas air putih yang juga Bunda siapkan untuknya. Sebelum menyahut, "aku juga mau bilang banyak makasih sama Bunda, makasih udah mau baik selama ini sama aku." Athena menatap wajah Bunda sembari tersenyum manis.
Athena dan Bunda memang belum sempat mengucapkan terimakasih satu sama lain sebelumnya. Keduanya masih dalam suasana kehilangan pada saat itu, terlebih Bunda.
"Kamu baik sekali, pantas anak bunda sebegitu sayangnya sama kamu." Ucap Bunda mengingat putra semata wayangnya sangat sering menceritakan tentang Athena kepadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SALVATORE (on going)
Fiksi Remaja"Dulu cool boy sekarang tantrum boy." "Tirta Theodore, (t) nya tantrum." ★★★★★★ Salvatore, nama club voli di SMA MAHATAMA yang berisikan tujuh laki laki. Diketuai oleh Tirta Theodore. Selain mengejar cita-cita untuk menjadi seorang Atlet voli, masa...
