Jaemin saat ini mengawasi Jisung yang sedang berbincang dengan sang ibu. Jaemin, bisa melihat betapa anggunnya dua orang ibu dan anak ini, terkhususnya Jisung. Dia meminum tehnya dengan gerakan yang anggun, tersenyum lembut layaknya seorang bangsawan penuh harga diri. Pesona yang dipancarkan oleh Jisung terasa begitu lembut sekaligus memiliki harga diri yang tidak bisa dimiliki oleh orang lain dengan mudah.
Hal ini kadang membuat Jaemin bingung, kenapa ayahnya Jisung tidak bisa melihat orang-orang yang indah dan malah menyukai seorang pembantu yang haus akan harta? Bahkan tindakan pembantu dan anaknya itu seperti orang udik. Tapi setelah dipikir-pikir, ayahnya Jisung juga berasal dari daerah yang sama, mungkin alasan inilah yang membuat ayahnya Jisung hanya merasa nyaman dengan orang rendahan seperti itu, karena nilainya sama-sama rendah.
Diam-diam Jaemin mengiyakan perkataan ayah dan ibunya, bahwa orang kaya lebih baik mencari jodoh yang setara. Karena mereka memiliki nilai moral yang setara, mereka bisa berinteraksi dengan lingkungan yang setara dan mengendalikan kondisi. Berbeda jika menikahi orang yang memiliki level dibawah mereka, maka nilai moralnya berbeda, orang itu juga akan merasa tertekan sehingga menumpuk semuanya di dalam hati, siapa yang tahu rasa tertekan itu diubah menjadi rasa semangat untuk memperbaiki diri atau malah menjadi rasa iri dan menganggap dunia orang kaya itu egois hingga ingin menghabisi orang-orang egois itu.
"Jaemin," panggil Jisung dengan pelan dan lembut.
Jaemin mendatangi Jisung dengan se-buket bunga mawar putih, Jisung mengambil buket itu dan memberikannya kepada sang ibu.
"Maaf, aku tidak memberikan hal lain. Karena ayah membatasi pergerakan ku, ibu." Ucap Jisung dengan tenang.
Nyonya Park hanya menghela napas, dia tidak tahu apa yang diinginkan suaminya, dulu dia terlihat seakan-akan sangat mencintai mereka. Tapi sekarang dia bersikap tidak peduli dan membatasi pergerakan mereka. Dia harus mencari tahu kebenarannya, setidaknya jika dia tidak mendapatkan cinta dari suaminya maka sang suami harus mencintai anaknya atau memberikan hak kepada anaknya.
Nyonya Park menatap Jaemin yang berdiri di samping Jisung dengan gagah. Saat melihat Jaemin, dia langsung menyadari bahwa pemuda ini memiliki latar belakang yang tinggi, dilihat dari tingkah lakunya. Hal, ini membuat Nyonya Park bingung kenapa Jisung memiliki seorang pelayan yang memiliki latar belakang yang tinggi.
Jaemin tersenyum tipis saat Nyonya Park melihatnya curiga. Sepertinya dia harus mempercepat semua rencananya, sebenarnya Jaemin ingin mengulur waktu. Agar dia bisa lebih lama lagi menikmati waktu bersama Jisung, Jaemin masih ingin melihat senyum lembut itu, masih ingin mendengar nada bicara yang lembut penuh kehangatan, dia masih ingin berada di sekitar Jisung. Tapi rasa curiga ini bisa membuat rencananya terbongkar, jadi Jaemin harus secepatnya menyelesaikan tugasnya yaitu, membunuh nyonya Park.
Jika rencananya dipercepat bagaimana cara Jaemin untuk mendapatkan Jisung (?) Ah, Jaemin memiliki ide yang cukup bagus. Bagaimana jika dia mengadu domba Jisung dengan ayahnya menggunakan kematian nyonya Park. Jadi Jaemin akan membunuh nyonya Park lalu menulis surat wasiat yang serupa dengan tulisan nyonya Park, kemudian mengatakan bahwa ia mati dibunuh tuan Park. Jadi dia ingin Jisung lari dari sini dan hidup menjauh dari keluarga Park.
Bukankah ini bagus? Apalagi Jaemin tidak berbohong, yang ingin membunuh nyonya Park kan suaminya sendiri, Jaemin di sini hanyalah kaki tangan. Lagipula kali ini Jaemin akan menggunakan cara yang sangat lembut yaitu meracuni nyonya Park, jika biasanya Jaemin akan membunuh dengan memenggal kepala korban ataupun menusuk leher korban dengan pisau, kali ini sudah cukup lembut. Jaemin sih mengganggap tindakan lembut ini sebagai penghormatan kepada calon ibu mertuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Evil Helper
AçãoTidak seharusnya Jisung mempercayai orang asing yang tiba-tiba membantu dirinya.
