Bagian dua puluh :

552 27 5
                                        

"Dek, mau jalan sama kakak sama kak Chan nggak?" Lino bertanya ketika ia sibuk menyendok nasi goreng buatannya pada piring Jeongin.

Jeongin menatap kakaknya bingung, mereka kan sedang berada di Tangerang? Lalu, Jeongin harus ikut ke Depok? Mana mungkin. Besok ia masih harus bersekolah.

"Besok sekolah kak."

Lino mengangguk, menyuap nasi goreng untuk dirinya sendiri. "Nanti Chan jemput kakak, kita jalan dulu ke mall sini bentar. Makan siang lah."

"Aku males jadi nyamuk."

"Bangchan ngajak Felix kok." Lino tersenyum, menatap sang adik. "Kamu mau ikut?"

Dan tanpa rasa ragu, Jeongin akhirnua mengangguk setuju.

"Tapi, emang dia mau? Ketemu aku loh kak."

"Uhm..." Lino tampak sedikit berfikir, "kayaknya mau sih, tadi Bangchan nggak bilang apa-apa. Dan harusnya dia juga tau kalo kakak kemungkinan besar akan ajak kamu."

"Menurut kakak, berapa presentasi Lix bakal mau maafin aku?"

Lino mengangkat bahunya, "kakak nggak sedeket itu sih sama Felix. Dan sebagai orang yang pernah deket sama dia, kamu harusnya tau gimana caranya biar maaf kamu diterima, kan?"

Jeongin terdiam, apa yang dikatakan kakaknya ada benarnya. Dia harusnya jadi yang lebih tau.

"Kayaknya, kamu harus fokus untuk minta maaf dulu. Atau, ajak Felix jadi teman kamu lagi dulu. Seenggaknya, bikin dia bisa balik percaya sama kamu. Kalo kalian jodoh, nggak akan kemana."

"Tapi, kakak bilang kak Changbin suka sama Lix?"

Lino terkekeh, "ya memang. Tapi, setau kakak Changbin nggak diterima kok. So, fokus dulu aja ya? Jangan bikin Felix terkesan lihat kamu jadi obsesi buat dapetin dia sebagai pacar, dan malah menyampingkan perasaan dia. Gimanapun, dia pihak yang tersakiti secara sengaja ataupun nggak sengaja. Adek kakak yang ini paham kan?"

Jeongin kembali mengangguk, kemudian ia menarik sang kakak kedalam pelukannya. Memeluk Lino dengan erat dan hangat. Seperti yang selalu mereka lakukan sejak mereka kecil.

*** ** ***

Bangchan hampir saja gagal untuk mengajak Felix jika saja Changbin tidak datang dan akhirnya ikut untuk berjalan-jalan sambil menjemput Lino.

Felix sejak semalam menolak, alasannya? Tentu saja dengan keberadaan Jeongin yang masih belum biasa ia lihat setelah lebih dari setahun menghilang dan tak ia temukan sosoknya.

Ada sedikit pemikiran tentang mungkin saja Felix harus bertemu secara langsung dengan Hyunjin. Bertanya apa maksud Hyunjin dengan semua ini.

Mungkin, Felix harus meminta tolong Seungmin untuk mengatur waktu keduanya.

Changbin mengusap bagian depan toyota fortuner milik Bangchan lalu bersiul. "Wah, anjing juga lo Chan, kata gue mendingan abis ini lo pindah ke apartemen deh. Bikin sempit parkiran kosan aja si anjing."

Bangchan tertawa, kemudian melempar Changbin dengan ciki yang sedang ia makan. "Ngaca babi, mobil lo juga sama gedenya. Udah paling bener kita sewa rumah sendiri aja nggak sih biar seru."

"Wah, bisa sih itu. Ajak Lino sekalian."

"Bangsat, bisa digorok gue sama bokapnya."

Changbin tertawa geli, "nggak lah, kan tahun depan adeknya ngampus disini juga. Bisalah. Sewa aja rumah yang tahunan gitu. Yang paling nggak ada tiga atau empat kamar gitu."

"Ntar diomongin lagi deh Bin." Bangchan menoleh kearah Felix, "udah siap Lix? Yuk, nanti keburu panas nyampe Tangerangnya."

Felix hanya mengangguk, tangannya memegang tali tas selempangnya. Kemudian menghela napas. Matanya bertemu pandang dengan Changbin, "everything will be alright, Lix. Don't worry."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 12, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ONLY (2Min/Banginho)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang