Bagian enam belas ;

340 64 1
                                        

Lino menggigiti kukunya, sungguh lucu tentang bagaimana sang adik ternyata berteman dengan orang yang hampir membuatnya emosi setiap kali bertemu. Hwang Hyunjin. Lino tidak tau sedekat apa hubungan sang adik dengan Hyunjin, hingga keduanya bisa sampai berjanji untuk masuk ke universitas yang sama.

"Kamu sama temenmu itu deket banget, dek?" Pertanyaan Lino keluar begitu saja.

"Ya, deket karena udah saling kenal pas jaman mos sih. Kenapa kak?"

Lino menggeleng, "kamu naksir dia?"

"Hah? Yakali.. Nggak kak, dia tuh udah sahabatku banget. Soalnya, tiap dia berantem sama pacarnya, curhat ke aku terus."

"Nama pacarnya siapa, dek?"

Tatapan Ayen menerawang, "siapa ya? Seungji? Eh, Seungmin, kak."

Jleb. Jantungnya mencelos. Agaknya, takdir dunia memang suka mengerjainya. Bagaimana bisa, seorang Hyunjin—lelaki yang ternyata pacar Seungmin—adalah teman dekat dari adiknya.

"Tapi, Seungmin emang playboy sih kak. Dia tuh, pernah—uhm, pernah juga digosipin sama gebetanku."

"HAH?"

Ayen tertawa, suara beratnya memenuhi kamar Lino. "Iya. Dulu, padahal aku tinggal jawab Iya, terus dia bisa jadi pacarku. Tapi, tiba-tiba Hyunjin bilang kalo gebetanku ini malah selingkuh sama Seungmin."

"Terus kamu percaya?"

"Hyunjin nggak mungkin bohong kak."

Lino tertawa kecil, "sedekat apapun hubungan seseorang, mereka bisa aja berbohong, dek. Bukan maksudnya kakak menuduh, tapi, kamu udah liat atau punya bukti kalo gebetanmu itu beneran selingkuh sama Seungmin?"

"Nggak. Soalnya, pas aku tanya ke dia, dia nggak kasih jawaban. Dia cuma dian, terus nangis. Jadi, itu udah pasti bener kan?"

Lino paham, pasalnya usia Jeongin masih lebih kecil darinya. Masih remaja yang penuh dengan kata labil.

"Terus sekarang gimana?"

"Nggak tau lah kak, udah telat juga kok. Udah lama banget. Mungkin aja dia udah move on."

Lino terkekeh, "adek kak ino gimana? Udah move on juga belum?"

Dan Ayen hanya ciptakan senyum masam sebagai jawaban dari perkataan sang kakak.

*** ** ***

"Jadi, gue nggak punya kesempatan, Lix?" Changbin membuka suara, ketika Felix tiba-tiba saja menyuruhnya berhenti. Meski selama ini Changbin tidak mengatakan secara blak-blakan perihal ia yang menyukai Felix, tapi, sepertinya Felix adalah tipe orang yang peka dengan keadaan sekitar.

"Sorry banget, Bin." Ujarnya lirih, "gue sejujurnya ngerasa nggak enak ngomong kayak gini. Seakan-akan lo beneran naksir gue."

Changbin tertawa kecil, "kalo boleh jujur, ya gue naksir Lix, sama lo."

"Lo orangnya baik banget, Bin. Serius. Tapi, kayaknya gue jadi orang jahat tiap kali gue nerima kebaikan lo, tapi gue nggak bisa bales perasaan lo."

"Lo sayang banget Lix sama dia?"

Felix mengangguk kecil, "gue sayang dia, meskipun kesannya dia udah jahat karena nggak kasih kesempatan sama sekali buat gue. Tapi, gue tetep masih sayang dia."

"Lo kalo mau jadiin gue pelarian juga nggak papa, Lix."

Felix menggeleng ribut, kemudian menatap Changbin. "Nggak, Bin. Gue nggak mau nyakitin orang lain. Gue sendirian aja masih suka susah move on, ditambah lo, gue justru lebih takut kalo gue makin gagal move on."

ONLY (2Min/Banginho)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang