"Baiklah mati kita mulai pertanyaannya," ucap Relci sambil terkekeh.
Relci berjalan duduk kembali di sofa sudut ruangan. Dia akan menyerahkan sisanya pada Zian.
Zian berdiri di depan Ardi. Sebenarnya tangannya sangat gatal ingin memukul wajah Ardi sekarang. Tapi, kalau dia benar-benar melakukannya, dapat di pastikan Ardi akan menemui ajalnya hari ini.
Bagaimana tidak? Kondisi Ardi sangatlah buruk dengan semu luka dan lembam di beberapa tempat di tubuhnya. Zian sangat tau bagaimana kerasnya pukulan Relci, dan dia berharap tidak akan pernah menerima pukulan separah ini. Itu sangat buruk.
"Jawab saya dengan benar jika tidak ingin keluarga mu kenapa-napa," mulai Zian. Dan Ardi hanya dapat menganggukkan kepalanya. Jika boleh jujur, dia tidak yakin bisa berbicara sekarang. Rahangnya sangat sakit.
"Kau di suruh seseorang bukan? Siapa?" Zian dapat melihat Ardi yang terdiam sebentar seperti bingung ingin menjawab apa.
"J-jay, Jay Pratama. Orang i-itu bilang na-namanya Jay." Jawab Ardi susah payah. Sial, rasanya dia akan mati sekarang.
Relci mengerutkan keningnya. Jay? Dia yang melakukannya?
"Kau yakin?" Tanya Zian lagi.
"Y-ya. Aku sangat ya-yakin."
Zian melirik sebentar ke arah Relci. sepertinya Relci memikirkan hal yang sama dengannya.
"Menurut mu Zian?" Tanya Relci sambil bangun dari duduknya.
"Sama seperti yang anda pikirkan Nona."
Relci berjalan mendekat ke arah Ardi. Dia terus menelisik penampilan Ardi, Melihatnya dari atas sampai bawah, "Hmm, ayo kita pergi." Putus Relci setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Dan kalian, Lepaskan keluarganya. Pastikan ada orang yang selalu mengawasi mereka 24 jam." Perintah Relci pada para bodyguard yang berdiri di dalam ruangan itu sejak tadi.
Sebelum benar-benar keluar, Relci melirik sebentar ke arah Ardi. Dia sudah tidak sadarkan diri.
'Again'
_________________________________
________________________
Xabiru mengikat tali apron di tubuhnya. Hari ini adalah giliran shift nya bekerja di cafe. Dia tidak mood bekerja saat ini, tapi mau bagaimana? Kalau dia pulang sekarang Relci pasti akan marah padanya. Padahal dia sangat ingin merawat Relci di mansion.
"Gema kau sudah siap? Tolong bantu aku mengantar pesanan ke meja nomor 8, di pojok jendela." Ucap Dion. Dia teman satu shiftnya di cafe, seorang barista.
"Sudah, Akan aku antarkan." Xabiru buru-buru mengambil pesanan pelanggan yang di berikan Dion.
Xabiru mulai berjalan menuju tempat meja pesanan itu. Namun, langkahnya berhenti saat melihat siapa yang menjadi pelanggannya.
Jay. Ya itu Jay bersama dua temannya yang lain. Kenapa dia bisa berada disini? Letak mansion atau sekolahnya tidak berada di sekitar sini. Apa karena Xabiru bekerja di sini?
Xabiru menggelengkan kepalanya. Mau bagaimanapun dia harus tetap mengantar pesanan ini. Xabiru menapik semua pikiran negatifnya dan melanjutkan langkahnya mendekati meja dimana Jay dan teman-temannya duduk.
"Aww.... lihat siapa ini. Jay, ini kakak lo kan? Kok jadi pelayan?" Tanya salah satu teman Jay saat Xabiru meletakkan pesanan mereka di atas meja.
"Hm? Kakak? Dia cuma anak pungut di keluarga gw. Nyokap gw ngadopsi dia cuma karena kasian. Dan sekarang dia udah di usir dari mansion." Jelas Jay sambil melempar pandangan remeh ke arah Xabiru.
"Di usir? Wah parah lo Jay." Sahut teman Jay yang satu lagi.
"Pasti di usir lah. Ini anak nggak ada gunanya, cuman jadi beban di keluarga gw. Udah nggak normal bego lagi." Jay tertawa bersama teman-temannya.
Sedangkan Xabiru hanya dapat diam menerima semua hinaan itu. Dia sepenuhnya sadar apa yang di ucapkan Jay itu benar. Dia hanya menjadi beban bagi orang lain. Bagi keluarga Pratama dan sekarang dia juga jadi Beban bagi Relci.
"Haha.... parah-parah." Mereka terus tertawa ke arah Xabiru.
Xabiru tidak bisa berada di sana terlalu lama lagi, dia mengambil nampannya dan langsung pergi dari sana.
"Kamu nggak apa-apa Gema?" Tanya Dion saat Xabiru sudah kembali ke dapur. Tadi dia bisa mendengar semua yang di katakan Jay dan teman-temannya. Bukan hanya dirinya, bakan pelanggan yang lain juga ikut melihat kejadian itu.
"Aku nggak apa-apa kok kak." Xabiru berusaha tersenyum Pada Dion. Dia tidak mau terlihat lemah hanya karena perkataan itu. "Ada lagi yang harus aku anter?" Tanya Xabiru mencoba mengalihkan pembicaraan.
Dion menghela napas melihat Xabiru. Bagaimana bisa anak sekecil ini bisa menghadapi semua cemoohan itu? Dia merasa kasian dan salut secara bersamaan pada Xabiru.
"Enggak ada, mending sini kamu kakak ajarin cara buat kopi. Siapa tau kamu berbakat kan?" Dion berusaha mengembalikan mood Xabiru. Dan itu berhasil, dia bisa melihat sudut bibir Xabiru yang sedikit terangkat. Sepertinya dia tertarik untuk belajar membuat kopi.
Syukurlah pikirnya. Setidaknya dia bisa mebuat Xabiru sedikit melupakan kejadian tadi. Dia tau Xabiru anak yang sangat lugu. Dia berharap semoga Xabiru bisa segera mendapatkan kebahagiaannya. Kasian jika anak sekecil ini harus merasakan pahitnya kehidupan terlalu cepat.
_________________________________
________________________
Relci melangkahkan kakinya memasuki pintu utama mansion. Dia sangat lelah setelah pulang dari kantor Papinya. Papinya itu sangat kejam, sudah tau anaknya sedang sakit tapi malah menyuruh dirinya belajar semua bisnis itu.
Ya walaupun nggak benar-benar sakit, tapi setidaknya pekerjaan itu jangan langsung harus di selesaikan semuanya hari ini juga. Dia jadi telat pulangnya. Bagaimana kalau Xabiru pulang lebih awal dari dirinya? Dia pasti akan khawatir karena menganggap Relci masih sakit.
Dan benar saja. saat dia membuka pintu kamar, dia bisa melihat Xabiru yang duduk termenung di meja belajar. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu dengan sangat dalam. Buktinya dia tidak sadar kalau Relci sudah berada di belakangnya.
Relci meletakkan sebelah telapak tangannya menutupi mata Xabiru dan menariknya pelan untuk bersandar di perutnya.
"Memikirkan apa hm?" Tanya Relci sambil mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala Xabiru.
Xabiru tidak menjawabnya. Dia mengabil tangan Relci yang menutupi matanya, meletakkan di bahunya yang menjuntai di dadanya.
"Kenapa?" Tanya Relci lagi saat tidak mendapat jawaban apapun dari Xabiru.
Relci memutar kursi yang Xabiru duduki menghadap dirinya. Dia juga duduk bersimpuh agar bisa berbicara dengan Xabiru lebih leluasa.
"Hey kenapa, hm?" Tanya Relci lembut sambil mengelus pipi Xabiru.
"Nggak apa-apa," jawab Xabiru. Sejak tadi dia hanya menundukkan kepalanya.
Pasti ada sesuatu yang terjadi pikir Relci. Dia akan mencari taunya nanti.
"Mau peluk boleh?" Tanya Xabiru tiba-tiba, sedikit memelas.
"Tentu, sini." Xabiru langsung saja berhambur memeluk Relci membenamkan kepala di ceruk leher kekasihnya itu. Relci tentu saja membalas pelukan Xabiru, sebelah tangannya mengelus pelan punggung Xabiru. Dia ingin menggendong Xabiru tapi sebelah tangannya masih sakit. Jika dia nekat, bisa-bisa jahitannya robek lagi.
"Ingin cerita?" Tanya Relci saat Xabiru sudah melepas pelukan mereka.
Xabiru menatap Relci ragu-ragu, apa dia harus menceritakan kejadian di cafe tadi?
"Tadi.... aku ketemu Jay di cafe."
_________________________________
________________________
Visual Relci dkk sama Gema dkk udah aku up di tiktok, jangan lupa mampir.
Follow, vote, and komen habis baca
See you....
Kamis, 28 september 2023
Ig :huswarelci
Ttk :huswarelci
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema Relci [End] [Terbit]
Teen Fiction#FOLLOW DULU SEBELUM BACA! #MASA REVISI Biasanya di dalam sebuah hubungan, cowo lah yang akan memegang kendalinya. Namun, Bagaimana jika yang terjadi adalah kebalikannya? sifat yang mendominasi, obsesi, dan yang memegang kendali dalam hubungan malah...
![Gema Relci [End] [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/345209377-64-k255226.jpg)