"Kak, penawaran taekwondonya masih ada?" tanya Vano secara tiba-tiba di meja makan.
Vanka sampai tersedak mendengar permintaan adiknya itu. Baru kali ini ia minta sesuatu lagi kepada Vanka setelah tiga tahun lalu minta dibelikan ponsel baru.
Dengan semangat Vanka menyanggupi permintaan adiknya itu dan ia bergegas mengantarkan Vano ke Dojang Birendra. Tempat di mana Vanka pernah berlatih di sana. Suasana tempat latihan masih sama seperti tiga belas tahun lalu. Tempatnya semakin luas disertai tempat gym di lantai atas.
Sesampainya di pintu masuk Vanka disambut oleh petugas administrasi. Perempuan berkerudung cokelat tersenyum ramah memberikan brosur kepada Vanka. Vanka menggigit bibirnya berusaha menahan tawa karena wajah dan penampilan Mbak Mia tak lekang oleh waktu. "Mbak Mia, ya?" tanya Vanka sambil menaikkan alisnya.
Mbak Mia yang tengah berbadan dua itu menyengir kuda. "Pasti anak lama ya?"
Vanka membalas dengan tawa jahil. "Iya, tapi saya dulu cuma dua bulan di sini. Sekarang adik saya yang mau belajar taekwondo. Belum terlambat, kan?"
Tampak wajah Mbak Mia sedang menebak-nebak siapa sosok Vanka. "Oh, pantesan. Mbak angkatan berapa? Dan Adiknya kelas berapa?"
"Saya 2009-an Mbak. Waktu itu dilatih sama Sabeum nim Jerry. Kalau Adik saya sekarang kelas dua SMA," jawab Vanka seraya merangkul bahu adiknya.
Mbak Mia tertawa terbahak-bahak. "Oalah, ini Vansa bukan, ya? Yang dulu manggil Sabeum nim jadi Sabeni?" Mbak Mia berusaha mengingat-ingat kembali.
"Vanka, Mbak. Bukan Vansa," Vanka cemberut.
Mbak Mia kembali ke mode semula seraya mengelus perutnya. "Iya, iya. Untung saya masih ingat sama kamu, Van. Ngomong-ngomong Sabeum nim Jerry lagi ngurusin cabang baru di Jakarta. Sekarang lagi diganti sementara sama anak latihnya dulu." Mbak Mia menunjukkan brosurnya kepada Vanka. "Untuk anak SMA yang baru masuk, kami ada kelas prestasi, Van. Seminggu latihan empat kali. Hari Selasa, Rabu, Jum'at, dan Sabtu kelas mulai jam empat sore. Untuk pendaftaran 100.000 Rupiah. Iuran bulanan 300.000 Rupiah. Dan nanti UKT sekitar 500.000 Rupiah," jelas Mbak Mia menunjuk poin-poin penting di dalam brosurnya.
Bola mata Vanka terbelalak. Begitu juga dengan Vano yang sama terkejutnya. Harganya naik berkali-kali lipat dari pertama kali Vanka berlatih. Namun, tak mengapa. Asal Vano senang, uang bukanlah kendalanya.
Lain halnya dengan Vano. Setelah dirinya mengetahui harga latihan yang fantastis itu. Ia langsung enggan untuk mendaftar taekwondo. Sempat ada pertikaian di antara dua bersaudara itu di depan meja administrasi. Vanka yang bersikeras ingin membahagiakan adiknya. Sementara Vano bersikeras tidak ingin merepotkan kakaknya.
"Ya sudah, Mbak. Saya bawa dulu brosurnya. Saya coba bujuk dulu si kutu kupret ini biar mau," ujar Vanka sambil mencubit lengan adiknya hingga meringis kesakitan.
Mbak Mia paham mengangguk. Momen seperti Vanka dan Vano bukanlah hal yang biasa baginya. "Kabarin saja ke nomor saya yang di bawah brosur. Ditunggu loh, Van."
Vanka mengangguk dan mengajak adiknya melihat suasana latihan. Anak remaja berlatih di dalam ruangan sementara anak kecil berlatih di luar. Vanka berusaha membujuk adiknya supaya mau berlatih taekwondo.
"No, kamu nggak perlu mikirin biaya. Yang penting kamu mau. Itu sudah cukup buat Kak Pan."
"Nggak mau, Kak. Lagian Pano sudah ketuaan ikut taekwondo. Udahlah, olahraga bukan cuma taekwondo aja," ucapnya enteng.
Saking gemasnya, Vanka mengangkat siku setinggi-tingginya. Tangan kanannya siap untuk menyadarkan Vano dengan tabokan mautnya. Namun, sudut siku lengan Vanka mengenai seseorang yang sedang berjalan di sampingnya. Orang itu refleks bersuara.
"DUH!"
Vanka langsung memutarkan kepalanya ke arah kanan. Ia mendapati seorang pria dengan dobok sabuk hitam berdiri di sampingnya. Seseorang yang tidak asing di matanya. "Maaf, nggak sengaja," Vanka buru-buru minta maaf sementara adiknya malah cekikikan karena Vanka tidak berhasil memukulnya.
Orang itu langsung menatap ke arah Vanka. Alisnya naik satu tingkat. Begitu juga dengan Vanka yang refleks mengangkat jemari telunjuknya mengarah tepat ke hidung orang itu dengan jarak sepuluh senti.
"Bastian?" tegas Vanka.
Butuh sepersekian detik bagi Bastian untuk merespons. "Ju-anda?" suaranya terbata.
Bola mata Vanka mendadak membulat. Berpikir ulang siapa sosok yang Bastian maksud. Dilihatnya arah kanan, kiri, dan belakang. Memastikan bahwa Bastian sedang memanggil orang lain. Namun, tak ada seorang pun di sekitar Vano dan Vanka. Jari telunjuk Vanka lalu berputar balik―ke arah dirinya sendiri. Vanka menunjuk dirinya dengan seringai gigi yang terlihat kaku.
"Aku?" tanya Vanka dengan senyuman aneh.
"Iya, kamu. Kamu yang di Starbucks Bandara Juanda itu, kan?"
Bola mata Vanka berputar. Senyuman palsunya kian mengudara. Rupanya Bastian masih mengingat momen itu―hanya saja ia lupa nama asli Vanka.
"Ada perlu apa di sini?" tanya Bastian lagi. Tatapannya kini mengarah kepada Vano.
"Lagi bujuk Adek buat mau latihan di sini. Susah banget bujuknya. Banyak alasannya. Yang ketuaan-lah, yang kemahalan-lah. Pusing saya." Vanka tiba-tiba malah curhat.
Untung saja Bastian tidak malas mendengarnya. Wajahnya lebih ceria dibandingkan saat pertama kali mereka bertemu di Starbucks. Bastian merespons dengan tawa sederhana. Tangannya refleks memegang bahu Vano. "Memulai taekwondo itu nggak mengenal usia, kok. Justru malah bagus kalau kamu mau memulainya dari sekarang. Usia bukan pembatas segalanya. Di tempat ini pernah ada murid yang usianya 32 tahun dan belum berpengalaman sama sekali. Yang penting itu adalah niat bukan usia." Nasihat Bastian rupanya lebih enak didengar dibandingkan kicauan Vanka kepada Adiknya.
Terlihat sorot mata Vano yang berbinar. Sepertinya ucapan Bastian berhasil membuat Adiknya luluh. Vanka berusaha berbasa-basi dengan Bastian. "Kamu sendiri di sini latihan atau―"
Belum sempat melanjutkan ucapannya, tiba-tiba terdengar suara dari lapangan memanggilnya. "Sabeum Ibas, sini dulu."
Bastian mengangguk pada seseorang di lapangan. Sebelum ia pergi meninggalkan Vanka dan Vano, Bastian berpesan kepada Vano. "Taekwondo itu bela diri yang paling menyenangkan. Semoga kamu mau berlatih di sini. Nanti kita latihan bersama." Bastian membalikkan badannya berlari kecil ke lapangan. Namun, selang beberapa langkah, dirinya berhenti sejanak, dan membalikkan badannya ke belakang. Ia lupa menjawab pertanyaan Vanka. "Saya sabeum di sini, Ju." Bastian menyunggingkan senyumannya, tapi Vanka malah kebingungan. Siapa lagi, Ju? Kenapa namanya harus diganti dengan nama bandara?
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello You Apps! [COMPLETED]
RomanceTivanka adalah seorang penulis novel fiksi yang sangat terkenal. Pada buku kesepuluhnya, ia menuliskan sebuah cerita romansa yang menceritakan tentang 'cinta monyetnya' semasa sekolah yaitu Ali. Tivanka secara eksplisit memasukkan nama Ali ke dalam...
![Hello You Apps! [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/320067754-64-k875726.jpg)