Berkat acara Indonesia Berbakat, nama Bastian Ali mengudara hebat. Ia mendapatkan sorot ketenaran yang baik di mata masyarakat. Sosok tampan, baik hati, sopan, dan berperstasi adalah dambaan kaum hawa dalam mencari seorang idola.
"Bas, aku senang deh sama respons masyarakat tentang kamu. Aku jadi nggak sabar nunggu kontrak settingan berakhir agar kita bisa cepat-cepat go-public," ujar Emily antusias. "Nggak sia-sia aku membujuk produser buat bawa nama kamu di acara IB."
Bola mata Bastian tak berkedip. Rupanya ini semua adalah rencana yang sudah diatur oleh Emily. Ia tidak kepikiran sama sekali. Bastian pikir dirinya adalah orang yang kejam karena telah memanfaatkan Emily untuk mencari Visalikipan, namun Emily bertindak lebih gegabah dari yang ia bayangkan. Entahlah, bagaimana caranya keluar dari lumpur pekat ini, batinnya.
Bastian perlu mempelajari ulang tentang teknik-teknik taekwondo untuk meningkatkan pengamatannya menjadi juri di acara TV besar. Ia mencari-cari buku taekwondo sebagai referensi. Secara kebetulan Bima memasuki kamar Bastian. Ia menunjukkan sebuah buku lusuh besampul cokelat—seperti buku sekolah. "Abang masih ingat buku ini? Beta bawa buku ini yang sempat Abang tinggal di Ambon. Beta banyak belajar dari buku-buku ini."
Bastian mengecek buku yang dimaksud oleh Bima. Membuka halaman demi halaman. Rupanya buku latihan gerakan taekwondo dari sabuk putih sampai sabuk hitam. Segala jenis gerakan teknik ada di dalam buku itu. Bastian terkekeh mengingat masa kecilnya. Dari dulu ia tidak pandai menghafal nama, tapi ia pandai dalam mengingat bentuk. Dulu ia sering dimarahi Papa akibat lupa mengingat nama gerakan dari teknik dasar. Tapi lama kelamaan ia mulai berlatih sendiri menghafal nama gerakan melalui buku latihannya. Gerakan tangannya mendadak berhenti pada akhir halaman. Ada sebuah tulisan yang memudar.
Tivanka Arundaya, Hello You Apps : @pankarung, Bekasi, 01 Maret 1995. Rambutnya mengembang jika terkena angin laut. Telinganya memerah setiap kali terkena udara dingin. Pastinya ia secantik penyanyi Taylor Swift. Dan satu lagi, ia sangat suka dengan pantai pasir putih yang memiliki ayunan di dekatnya.
Dibawah tulisan itu ada sebuah kalimat penghubungnya:
VISALIKIPAN FOREVER: Vienha, Saraz, Ali, Choki, Panpan, Hanin.
Bastian terbelalak. Badannya kaku setelah membaca halaman terakhir buku miliknya. Ia langsung mencari novel The Distance Of Us. Membaca halaman terakhir pada bab tentang penulis. Di halaman itu memuat biodata Vanka. Dan semua isinya valid. Vanka adalah orang yang selama ini ia cari. Bodohnya, Bastian baru bisa mengingat kembali semua tentang Tivanka. Semua tentang aplikasi Hello You. Juga tentang Visalikipan. Semua memori itu langsung teringat jelas di kepalanya.
Cepat-cepat Bastian pergi ke Dojang Birendra. Mencari kontak Vano pada data administrasi milik Mbak Mia. Dengan segera Bastian menelepon Vano. Meminta nomor Vanka karena ia ingin bertemu dengannya.
Butuh dua kali panggilan untuk membuat Vanka mau mengangkat teleponnya.
"Van, kamu di mana?" tanya Bastian cepat.
Suaranya pelan. Terdengar ragu. "Maaf ini siapa?"
"Saya Ali," terjeda, "Bastian." Kemudian terburu-buru. "Saya mau ketemu kamu sekarang. Ada hal yang perlu saya omongin."
Vanka berdeham pelan. "Gue di Grand Indonesia, Bas. Mau ngomong apa?"
"Tunggu sampai saya datang. Saya ke sana sekarang," Bastian langsung mematikan teleponnya.
***
Vanka menutup panggilan teleponnya. Jantungnya ikut berdebar. Lebih tepatnya, apa yang membuat Bastian memintanya untuk menunggu? Dan dari mana ia tahu nomor Vanka? Namun, ia tetap setia menunggu kedatangan Bastian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello You Apps! [COMPLETED]
Storie d'AmoreTivanka adalah seorang penulis novel fiksi yang sangat terkenal. Pada buku kesepuluhnya, ia menuliskan sebuah cerita romansa yang menceritakan tentang 'cinta monyetnya' semasa sekolah yaitu Ali. Tivanka secara eksplisit memasukkan nama Ali ke dalam...
![Hello You Apps! [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/320067754-64-k875726.jpg)