Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

34. Rencana yang Gagal

183 19 0
                                        

2023

Maksud hati ingin masuk magister demi melupakan seseorang. Realitanya tidak berkata demikian. Vanka gagal dalam seleksi beasiswa. Niat awal yang buruk tentu saja tidak akan dipermudah dalam memperolehnya. Memang mungkin ini jalan Semesta membiarkan Vanka tetap berada di Indonesia. Melakukan kegiatannya sedia kala.

Vanka sudah tidak pernah mendengar kabar Bastian lagi sejak acara Indonesia Berbakat berakhir. Dengar kabar dari Vano, Bastian telah pindah ke Surabaya dan membangun Dojang baru di sana. Dojang Birendra cabang Bekasi dan Jakarta tidak lagi dikelola oleh Bastian melainkan oleh adik tirinya, Bima.

Suatu hari Vanka memasuki kamar Vano. Ia membereskan kamar adiknya yang berantakan. Sampai di mana ada sebuah amplop biru terjatuh. Vanka tersenyum geli melihat adiknya mendapatkan surat cinta di zaman modern ini. Vanka membalikkan surat itu dan mendapati sebuah tulisan tangan yang rapi.

Untuk : Tivanka Arundaya, @pankarung.

Dear Vanka.

Hai, Van. Kalau kamu baca surat ini berarti saya sudah tidak lagi tinggal di Bekasi atau pun Jakarta. Saya sudah memutuskan untuk tinggal di Surabaya agar bisa lebih dekat dengan Mama dan Caca Tendri. Oh iya, saya belum pernah cerita ya kalau Caca Tendri sudah punya anak laki-laki yang menggemaskan? Bola matanya yang cokelat kehitaman itu mirip sekali dengan saya. Namanya Dylan. Bule banget, kan? Padahal keluarga kami nggak ada bule-bulenya.

Van, jika saya sedang senggang, saya pasti akan membaca novelmu berulang kali. Ternyata candu juga ya tulisanmu. Semuanya sangat menginspirasi dan meneyejukkan hati saya. Tidak heran jika sejak dulu saya berani jatuh hati kepadamu hanya dengan melihat sebuah tulisanmu di aplikasi Hello You. Insting saya mampu membuktikan bahwa tutur kata yang baik akan mencerminkan pribadi yang baik. Dan semua itu ada pada diri kamu.

Van, maafkan saya yang tidak pernah memberikan kabar lagi kepadamu. Seperti katamu, saya perlu menyelesaikan masalah saya dulu dengan Emily. Dia adalah wanita yang sama hebatnya seperti kamu. Hanya saja, memaafkan seseorang mungkin tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya dan Emily hanya butuh waktu untuk berdamai dengan masa lalu. Dan saya percaya bahwa waktu akan menyembuhkan semua luka yang dialaminya.

Saya selalu bertanya-tanya mengenai kabarmu. Apakah kamu masih marah dengan saya? Apakah kamu masih menyalahkan dirimu sendiri? Apakah kamu akan membenci saya selamanya? Saya hanya mampu menanyakan kabarmu lewat adikmu, Vano. Vano bilang kamu sehat dan selalu ceria. Kamu sering jalan-jalan bersama Gita. Kamu senang dengan rutinitas promo buku. Dalam hati saya, tentu saya sangat bahagia atas kebahagiaanmu.

Sampai di mana Vano mengatakan kamu sudah memiliki pacar dari teman SMP-mu dulu. Mungkinkah orang yang pernah saya temui di musik festival? Jika iya, beruntunglah dia karena telah memilikimu. Saya berharap kalian bahagia dan bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.

Van, terima kasih telah membuat cerita yang indah di The Distance of Us. Terima kasih telah mewujudkan tokoh Ali yang pemberani mengutarakan perasaannya kepada Kana. Rasanya mereka benar, jika jarak dan waktu tidak akan menghalangi kisah cinta mereka berdua. Namun sayangnya, semua itu hanyalah fiksi yang tidak akan bisa terwujud dalam realita saya.

Satu hal yang perlu kamu tahu. Semua pertemuan yang kita alami adalah jalan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Pertemuan kita adalah takdir yang tidak pernah kita duga. Mungkin pertemuan kita di masa sekarang adalah bentuk manivestasi doa-doa kita di masa lalu. Waktu tidak pernah salah mempertemukan kita. Tapi, waktu yang membuat kita bisa bertemu dalam keadaan siap dan bertumbuh. Pertemuanmu memberikan kesan yang mendalam untuk saya. Seharusnya bukan hanya kamu saja yang mengucapkan terima kasih kepada saya. Tapi, saya pun harus mengucapkan terima kasih juga kepadamu.

Van, maaf karena telah membuat semuanya menjadi kacau. Saya berharap agar suatu hari nanti hubungan kamu dengan Emily akan membaik seiring waktu yang berjalan. Percayalah, Emily adalah wanita yang memiliki hati yang sangat lapang. Biarkan dia dengan waktunya agar bisa kembali sedia kala.

Mungkin hanya ini pesan terakhir saya untukmu. Berbahagialah dengan pacarmu yang sekarang. Dan satu hal yang saya minta, tolong jangan kirim undangan pernikahanmu kepada saya (meskipun kamu juga nggak akan tahu alamat saya ada di mana, tapi saya mohon jangan kirimkan). Saya juga sudah mengganti nomor dan tidak lagi muncul di layar televisi. Semoga kamu tidak akan kesal lagi melihat saya yang ada di TV.

Vanka, you are my first love that never been replaced. Thank you for the efforts!

Salam,

Pemilik akun @dualima / Bastian Alrie Sangadji―bukan Siregar.

Air mata Vanka mampu membasahi separuh isi kertas. Ia menangis sejadi-jadinya. Dan secara mengejutkan, Vano mendorong pintu kamarnya. Matanya terbelalak mendapati secarik kertas yang selama ini ia sembunyikan dari kakaknya.

Vanka mengangkat kertas itu menunjukkannya kepada Vano.

"Kenapa kamu nggak nunjukin ini ke Kakak?"

Vano gelagapan. Bola matanya terus berputar. "Vano melakukan ini supaya Kakak nggak bersedih terus-terusan." Suara Vano meninggi. "Kakak selalu menangis dan menyendiri setelah bertemu sabeum dan diliput media. Aku nggak mau biarin Kakak terpuruk karena seorang pria yang pengecut."

Vanka mengatur napasnya. "Terus kenapa kamu harus berbohong mengenai kakak yang udah punya pacar?"

"Aku melakukan itu supaya sabeum mau menemui Kakak secara langsung. Bicara dengan Kakak. Atau minta maaf karena apa yang dia perbuat telah menyakiti hati Kakak. Tapi dia selalu mengelak. Dia malah lebih memilih bersama Emily. Aku pernah lihat Emily ada di Dojang. Aku pikir mereka balikan. Makanya aku terpaksa berbohong agar harga diri Kakak nggak terinjak. Agar sabeum tahu kalau tanpanya, Kakak masih kuat dan bertahan." Suaranya semakin parau. "Sampai aku baca surat itu, aku baru tahu apa alasan sabeum nggak pernah mau menemui Kakak. Aku terlalu malu menghadapi Kakak. Maafin aku, Kak. Aku terlalu gegabah dalam bertindak," ucapnya dengan suara bergetar yang kemudian berlari memeluk Vanka.

Kedua kakak adik itu berpelukan hebat dengan tangis yang tersedu. Kertas itu membasah oleh tetesan air mata. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan dan disalahkan. Cinta ini sejatinya memang rumit. Atau mungkin takdir yang membuatnya perlu menerima─layaknya amor fati. Usaha mencintai takdir dengan menerima apa pun yang telah terjadi.

--------------------------------------------------------------

Author's note:

Hai, terima kasih yang masih setia dan sabar menunggu. Semoga penantian kalian terbayarkan setelah membaca part 34.

Tak terasa Hello You Apps tersisa 1 bab lagi. Apakah kalian sudah siap untuk berpisah dengan Tivanka, Bastian, Ali Nando, dan Emily?

Jangan lupa baca cepat ya setelah notif ini muncul, karena aku gatau kapan naskah ini akan di unpub atau beberapa part akan dihapus dan pindah ke KaryaKarsa.

Semoga hari kalian menyenangkan. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan love, comment, and share sebagai bentuk kerja samanya.

Cheers,

Elsinna W.

Hello You Apps! [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang