Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

23. Masa Lalu yang Belum Usai

261 30 3
                                        

"Pan, comblangin gue sama Choki dong," ujar Gita yang membuat Vanka tersedak.

"Ada angin apa lo minta dicomblangin Choki?" Vanka mengingat kejadian kemarin. "PDKT lo sama Rasyid nggak mulus emang?"

Gita menggeleng kencang. "Terlalu childish. Gue lebih suka yang dewasa kayak Choki." Gita senyum-senyum di hadapan Vanka. "Kalau kita dapat tawaran job di Semarang lagi, usahain agak lama ya di sana. Biar gue bisa mengenal Choki lebih dekat."

Vanka bergidik geli. "Choki nggak selalu ada di Semarang, Git." Vanka menunjukkan Instagram Story Choki. "Nih, dia lagi ada di Makassar." Kemudian menatap Gita. "Jam terbang Choki padat, Git. Mesti janjian dulu dari jauh-jauh hari."

Gita mengerucutkan bibirnya kecewa. Tak lama ponselnya berdering. Ia mendapati sebuah e-mail dari Universitas Pattimura untuk mengajak Vanka melakukan talkshow Pemuda Literasi. Acara tersebut akan diselenggarakan minggu depan.

"Pan, terima nggak job-nya? Minggu depan jadwal lo kosong, kok," ucap Gita sambil mengecek Google Calendar-nya. "Baru ada lagi nanti bulan depan. Acara bedah buku di Perpusnas."

Vanka sedikit bimbang. Bukan karena dirinya tidak senang. Hanya saja Vanka takut akan mabuk perjalanan lagi. Vanka benar-benar takut naik pesawat. Tidak mau pula naik kapal laut karena pasti akan mabuk laut berhari-hari.

"Ayo, Pan. Kapan lagi kita bisa ke timur Indonesia? Habis talkshow kita healing aja dulu tiga hari di Ambon." Gita mulai antusias. "Atau sekalian lo mau cari Ali? Mumpung kita di Ambon kita bisa sambil menjelajah ke Pulau Seram." Gita menggulirkan jemarinya pada ponselnya. "Pan! Lihat deh di Instagram @/explore_maluku. Cakep-cakep banget pantainya. Yuk, Pan. Gue semangat banget nih kalau dapat talkshow ke kota-kota cantik."

Vanka mendecakkan lidahnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Vanka mendecakkan lidahnya. "Gue sih mau aja, Git. Tapi gue takut mabuk. Perjalanannya jauh banget. Lebih jauh dari Surabaya."

Gita mengangkat bahu Vanka untuk berdiri. Lalu berlari mengobrak-abrik tasnya. "Tenang, Pan! Gue bakal bawa banyak kantung plastik, obat anti mabuk, minyak angin, dan duit receh buat lo kerokan di sana. Gue bakal jamin seratus persen badan lo akan selalu hangat dan nggak mual di atas pesawat. Gue janji." Gita mengangkat dua jemarinya membentuk huruf V.

Apa boleh buat jika Gita sudah seantusias itu untuk liburan berkedok bekerja. Tanpa menunggu lama Vanka langsung menyanggupi acara talkshow tersebut dan bersiap-siap untuk menyiapkan materi yang akan disampaikan di sana.

Semua janji Gita kepada Vanka benar-benar dipenuhi lengkap. Gita membawakan satu kotak P3K untuk obat-obatan Vanka selama di pesawat. Ia menyuruh Vanka memakai jaket tebal agar tidak kedinginan serta menyuruh Vanka mengolesi minyak angin di pusar perut dan dadanya. Gita menyuruh Vanka untuk tidur selama di pesawat. Jangan melek sebelum pesawat itu lepas landas. Perjalanan selama 3 jam 35 menit itu akhirnya mendarat dengan sempurna tanpa ada drama mabuk oleh Vanka.

Hello You Apps! [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang