Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

25. Perjuangan Yang Sama Besarnya

214 25 0
                                        

Vanka tergugu tak merespons lagi. Menatap Bastian tanpa berkedip.

"Bas, lo kenal nggak sama Ali dari Saleman?" Vanka tahu ini pertanyaan konyol. Tapi bisakah ia mengorek dari pertanyaan sederhana dulu?

Bastian menatap Vanka bingung. Kemudian tertawa kencang. "Yang namanya Ali di sini banyak, Van. Raja adat di sini namanya Ali. Pemilik resort ini namanya juga Ali. Kamu mau cari Ali yang mana? Tawanya semakin kencang. Lalu terhenti. "Nama panggilan saya juga Ali."

"Bukannya nama lo Bastian?" tanya Vanka menggebu.

"Iya, Tete dan Nene memanggil saya Ali karena nama Alrie terlalu sulit diucapkan. Sementara nama Bastian adalah nama panggilan dari Mama. Emang kenapa, Van?"

Vanka menggeleng. Tidak mungkin, batinnya. Ia menyiapkan beberapa pertanyaan lagi. "Dulu di sini sering mati lampu ya, Bas?"

Bastian menoleh semangat menatap Vanka. "Kok, kamu tahu, Van?" Bastian mulai mengingat-ingat masa lalunya. "Di Saleman itu susah sekali mendapatkan sinyal dan listrik. Tempat wisata belum sebesar sekarang. Dulu sempat ada demo gara-gara listrik sering mati dan pembayaran tetap berjalan normal. Karena seringnya mati lampu itulah akhirnya saya disuruh Tete pindah ke Ambon. Nggak lama setelah saya pindah, Tete saya meninggal. Dua bulan kemudian disusullah Nene yang juga meninggal."

Vanka berusaha sekuat tenaga mengingat momen masa kecilnya yang tidak sempat ia tuliskan di buku hariannya. Mengenai kisah Ali. Cerita Ali dan Bastian hampir serupa. Apakah Ali yang sebenarnya adalah Bastian? Kemudian Vanka bertanya lagi.

"Kamu tahu aplikasi Hello You nggak, Bas?" Ini pertanyaan penting. Jika Bastian tahu berarti memang dia orang yang Vanka cari. Jika Bastian menggeleng, berarti bukan orangnya.

Bastian menggeleng dengan ringan. Tatapannya natural. Tak ada yang disembunyikan dari raut wajahnya. Sejujurnya, Vanka kecewa, tapi tidak seratus persen. Karena jika memang Bastian adalah Ali, ia akan bersedih karena Ali yang asli sudah memiliki kekasih dan lupa akan kehadirannya. Tapi syukurlah, Bastian bukanlah Ali.

Tak lama Choki dan Gita datang. Mereka terlihat semakin akrab dan lengket. Mungkin Gita berhasil bergerak cepat dalam proses pendekatannya. Sejak SMA, Gita adalah orang yang agresif. Ia tak pernah malu untuk mengekspresikan rasa sukanya kepada seseorang. Hal itulah yang membuat Vanka selalu iri dengan keberaniannya.

"Pan, besok kita wajib ke Tebing Batu Hutapia. Tempatnya bagus banget. Sekalian snorkeling di sekitaran sana. Jadi hari ini kita ke Negeri Saleman aja dulu untuk melihat panorama burung Lusiala yang katanya mirip seperti kelelawar dengan jumlah yang banyak," jelas Gita sambil megetuk-ngetuk ponselnya mencari sinyal.

Burung Lusiala ini selalu ada menjelang magrib tiba. Burung atau kelelawar ini biasanya terbang secara massal seperti sebuah garis hitam panjang yang mengudara di angkasa. Menurut warga sekitar, burung Lusiala ini berasal dari dua suku kata. Lusi yang berarti nenek moyang dan ala yang berarti anak cucu. Kelelawar diartikan oleh warga sekitar sebagai perumpamaan burung yang terbang membawa roh nenek moyang. Burung magis ini sangat dijaga habitatnya oleh penduduk Saleman.

Setelah menyaksikan panorama burung Lusiala, rombongan Vanka kembali ke resort. Secara bersamaan, rombongan kru TV Explore Indonesia Ceria datang setelah berpetualang ke Pulau Tujuh dan Mata Air Belanda.

Semua rombongan bersatu sambil merayakan pesta perpisahan sebelum kembali ke Jakarta. Terlihat Emily, Bastian, dan Alejandro duduk di pesisir pantai bersantai bersama. Begitu pula dengan Vanka, Gita, dan Choki yang duduk memisah lima meter dari jarak Emily dan rombongannya. Sambil menyiapkan tripod untuk memotret bintang di langit pantai, Choki menceletuk Vanka pelan.

Hello You Apps! [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang