Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

24. Hal yang Tidak Terduga

230 26 2
                                        

Mungkin hampir sepuluh tahun Bastian tidak pernah menampakkan kakinya lagi di kota Ambon atau pun Saleman. Ia terlalu lama menghabiskan waktunya di Surabaya dan Jakarta.

Sudah dari bulan lalu Emily memaksanya untuk ikut liburan ke Ambon mengingat dirinya akan ada syuting acara Explore Indonesia Ceria di sana. Tadinya Bastian enggan untuk ikut bersamanya. Namun, secara kebetulan Bunda meneleponnya. Ia menyuruh Bastian untuk pulang ke Ambon segera karena penyakit kolesterol Papanya tinggi. Dan juga Papanya sudah sangat merindukan Bastian.

"Berarti kita berangkatnya nggak bisa barengan ya, Bas?" tanya Emily kepada Bastian.

Bastian mengecek ponselnya. "Enggak, Mil. Aku harus ke Ambon dulu nengokin Papa."

Emily mengerucutukan bibirnya. "Yah, tapi aku juga mau ketemu orangtua kamu. Kenapa nggak dimajuin aja, sih, tanggalnya?"

"Nggak bisa, Mil. Aku juga mau ke Saleman. Ziarah ke makam Tete dan Nene."

Emily terkesiap. "Bas, kalau dari Saleman ke Pantai Ora dekat nggak?"

Bastian mengangguk. "Lima belas menitan. Kenapa emangnya?"

"Oh, ya udah. Kalau gitu kita ketemuan di sana aja. Aku ada syuting juga di Pantai Ora. Aku akan extend di Ora kalau kamu mau ke Saleman. Sekalian kita ziarah ke makam Tete dan Nene. Nah, setelah ziarah, kita pergi ke Ambon―rumah orangtua kamu. Gimana?"

"Nggak searah, Mil. Saleman dulu baru Ora. Aku harus naik kapal cepat dulu untuk bisa ke Ora."

"Yah, Bas," suaranya memelas. "Kalau gitu kamu jemput aku aja, Bas. Aku, kan, juga mau ziarah ke makam Tete dan Nene kamu. Masa nggak dibolehin, sih."

"Bukannya gitu―" Bastian sebenarnya tidak suka dengan cara Emily yang suka memaksanya. Emily selalu bersikap semaunya dan selalu menggampangkan segalanya. "Lihat nanti aja ya, Mil. Nanti aku kabari."

***

Setibanya di rumah Ambon, Bastian disambut hangat oleh Bunda dan adik tirinya, Bima. Terlihat Papanya sedang tertidur di kamarnya. Badan Papa semakin kurus, rambut putihnya semakin memenuhi kepalanya, dan kulitnya semakin mengendur. Bastian memeluk Papanya. Renta di tubuh Papanya seolah memberi bukti bahwa perjalanan waktu telah banyak mengubah fisik kokohnya. Bastian banyak melewatkan waktu kebersamaan dengan Papanya. Meskipun hubungannya dulu dengan Papa tidak berjalan baik, namun kehadiran Papa telah membuat dirinya seperti sekarang ini. Tanpa sadar pelukan erat Bastian mampu membangunkan Papanya yang terlelap.

"Nyong, kapan sampai?" Papa terbangun dan langsung memeluk Bastian.

"Baru saja, Pa." Bastian membantu menyenderkan Papanya dengan sempurna. "Nyong sudah makan? Ayo, kita makan bersama," ucap Papa bersemangat.

"Kata dokter apa, Pa?" tanya Bastian mencemaskan.

"Papa hanya kelelahan saja dan harus menjaga pola makan. Namanya juga penyakit tua."

Bunda sudah menyiapkan menu kesukaan Bastian semasa sekolah yaitu ikan kuah pala. Ia juga membuat rujak natsepa dengan irisan buah mangga, belimbing, jambu air, dan pepaya yang super pedas. Rasanya masih sama seperti dulu. Masih sangat enak.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hello You Apps! [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang