Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

17. Bujuk Rayu yang Berhasil

263 37 0
                                        

Akhirnya Vano mau berlatih taekwondo di Dojang Birendra. Jika Vanka mendapatkan waktu luang, ia akan mengantar dan melihat adiknya latihan. Sebetulnya Vano tidak suka jika diantar jemput oleh Kakaknya. Ia terlalu jaim untuk dikatakan anak kecil oleh teman-temannya. Tapi percayalah, tujuan Vanka mengantar jemput adiknya itu bukan sekadar untuk mengantarnya saja melainkan ia memiliki tujuan lain yaitu melihat Bastian dari kejauhan.

Sejak pertemuan pertama mereka di bandara, Vanka tidak pernah berhenti menatap wajah manis Bastian. Bola mata cokelat hazelnya itulah yang menarik perhatiannya. Rambut potongan french crop dengan aksen gradual cut membuat bentuk wajahnya terlihat simetris dan karismatik untuk dipandangi. Dan aroma parfum woody yang selalu ia kenakan membuat Vanka selalu teringat oleh bayang-bayang kehadirannya.

Vanka selalu tiba setengah jam lebih awal sebelum Vano keluar dari kelasnya. Ia biasanya memarkirkan mobil di parkiran Dojang dan berjalan ke seberang untuk membeli makanan pinggir jalan. Ia terlalu malu menatap Bastian dari dekat. Vanka lebih memilih memandangi Bastian dari kejauhan meskipun harus terhalang oleh pepohonan yang rindang dan jaring-jaring besi yang membatasi jarak pandangnya. Tidak bisa dipungkiri Bastian semakin tampan jika sedang mengenakan dobok sabuk hitam dan mencontohkan gerakan kyorugi kepada anak muridnya. Vanka tidak peduli tentang adiknya berlatih gerakan apa dan sudah sampai di tahap mana. Yang jelas, tujuannya datang ke Dojang Birendra adalah untuk melihat Bastian.

Bastian selalu ada di hari Jum'at dan Sabtu. Kebetulan hari ini Bastian sedang mengajarkan fight basic kepada anak muridnya. Dimulai dari gerakan moving fight―mengayun naik turun badannya sambil menekuk lututnya. Gerakan front step―melompatkan kedua kakinya secara bersamaan ke depan. Gerakan back step―yang hampir sama dengan gerakan front step hanya gerakannya ke belakang. Ia benar-benar cekatan dalam mengajarkan segala teknik.

Pernah sekali Bastian menyapa Vanka saat mereka tak sengaja berpapasan di depan parkiran. Bastian menyapa Vanka dan akhirnya mereka berkenalan. Wajah Vano mendadak menyeringai. Ia tahu kalau kakaknya sedang berusaha menahan salah tingkahnya.

Suatu hari Vano menyuruh Vanka untuk menjemputnya pukul 19.00. Tanpa ada gerik kecurigaan, Vanka menyanggupi permintaan adiknya itu. Setibanya di lokasi, Vanka merasa aneh. Suasana Dojang Birendra sunyi dan tak berpenghuni. Hanya menyisakan lampu jalan yang menerangi sudut ruangan. Vanka turun dari mobil dan segera menelepon adiknya itu. Ponsel Vano mendadak mati dan tak bisa dihubungi. Suara angin serta dedaunan yang terus berjatuhan itu kerap menyolek sudut bahunya. Membuat Vanka semakin bergidik ketakutan. Tiba-tiba seseorang meletakkan jarinya di atas pundak Vanka. Suara beratnya itu mengagetkan Vanka dan membuat Vanka refleks balik badan dan memukul orang itu dengan sling bag-nya. Vanka berteriak histeris ketakutan dan berlari. Tangan berkulit kasar dan kering itu menggenggam lengan Vanka. "Vanka, ini saya Bastian," ucapnya menenangkan ketakutan Vanka.

Lutut Vanka bergetar. Berusaha mengatur napasnya. "Bikin kaget aja kamu, Bas."

Bastian terkekeh minta maaf. Tiba-tiba tangannya menyentuh pangkal rambut Vanka. Menunjukkan daun pohon ketapang yang terselip di rambutnya. "Kamu cari Vano, Van?"

Pipi Vanka mendadak panas. Matanya mengerjap dan memperlihatkan panggilan telepon yang tidak diangkat Vano. "Vano bilang suruh jemput jam segini."

"Di sini udah nggak ada orang, Van. Kelas tutup jam lima kalau weekend." Bastian terkekeh. "Kayaknya kamu dikerjain deh, Van."

"Aku nggak kepikiran kalau dibohongin. Dia bilang tadi ada latihan tambahan persiapan UKT. Makanya aku percaya aja," Vanka mengeluh kesal. "Dasar kutu kupret!" umpat Vanka.

Dengan susunan gigi yang rapi dan putih itu Bastian tertawa mendengar umpatan Vanka kepada Vano. Cepat-cepat Vanka menepuk bibirnya yang tidak terkontrol itu. Kemudian memandangi Bastian dengan tas ransel hitam Adidas-nya. "Kamu mau pulang, Bas?"

Hello You Apps! [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang