03. Dia

130 92 1
                                        

Entah sudah berapa lama aku sudah tidak memperhatikan gadis gubuk itu lagi. Tampak menghilang tanpa pertanda. Seakan semua itu hanya mimpi.

"Kemana?" Aku terus-terusan memandangi gubuk tersebut. Mengharapkan sosoknya menungguku disana.

Kemudian aku mengambil kamera di atas laci mencoba memfoto gubuk tersebut, siapa ahu setelah itu dia muncul.

Sepersekian detik, pintu berketuk pelan, "Sastra, Mama bawakanmu susu."

"Iya! Tunggu Ma!" Teriakku tapi lembut. Kakiku langsung bersiap menopang badanku, bergerak membukakan pintu.

Mama membawakan segelas susu dan pinggiran roti yang sudah dikeringkan. Itu favoritku.

"Makasih, Ma."

"Biar fokus belajarnya, perut ga boleh kosong." Intonasinya tak ada beban, terdengar lembut.

"Baik, Ma." Aku berdiri tegak, mengangkat tanganku, jemariku berdempetan bersikap seperti sedang hormat saat upacara pagi.

Sebelum Mama pergi, dia mengatakan sesuatu, "oh iya Sastra." Lanjutnya

"Iya, Ma?" Tadinya aku sudah mau berbalik badan, tapi tidak jadi karena perbincangan yang masih lanjut ini.

"Besok mau temani Mama mengantar baju bekas ke gereja?"

"Mau, Ma."

"Mama sekalian minta tolong bantuan kamu ya untuk beberes pakaiannya."

"Iya, Ma."

Mama yang tadinya ingin berbalik badan, kembali tapi berhenti dan berbicara lagi.

"Oh ya, pakaianmu yang tidak muat tapi masih layak pakai dirapihkan sekalian ya, dibawa besok."

"Iya, Ma. Ada lagi?"

"Ga ada. Kamu minum ya susunya, mumpung masih hangat."

"Iya, Ma. Terima kasih."

Baru tiga detik keinginan Mama kembali ke bawah, tapi ia balik lagi.

"Sastra, kamu benar-benar menyukai bunga?"

Kenapa Mama tiba-tiba bertanya begitu?

"Iya, Ma. Apakah ada sesuatu?"

"Tidak apa, Mama cuman asal bertanya saja karena setiap saat Mama memperhatikan anak Mama."

"Hanya saja, kamu benar-benar tidak ada keinginan lain? Mungkin menjadi dokter, guru, mungkin?"

"Untuk saat ini tidak ada Ma."

"Baiklah, tapi tolong kamu pikirkan sebaik-baiknya."

"Ya, Ma."

"Kamu sudah merawat rumah gubuk kesayanganmu?"

"Ya, Ma. Dia sudah ku buat lebih indah lagi. Kalau ada kesempatan, akan kubawa Mama kesana."

Mama tersenyum, menantikan. "Baiklah, Mama balik ke dapur dulu ya, kalau sudah habis taruh meja dulu aja, biar besok pagi Mama yang bereskan."

"Oke, Ma."

Kepergian besok membuat hatiku berdebar-debar, entah mengapa. Rasanya seperti ada suatu hal yang sangat ku nantikan.

***

Keesokan paginya, hari ini merupakan hari Minggu. Dimana sudah menjadi kebiasaan anak-anak bangun kesiangan karena keinginan memuaskan diri ketika libur.

Tapi aku adalah anak yang terbiasa bangun pagi, karena untuk menyiram tanaman-tanamanku serunya ya pagi-pagi. Ditambah hari ini Mama dan aku akan pergi ke gereja, kami harus packing beberapa pakaian dan memasukkannya ke koper juga merapihkan diri sendiri.

Hai, bunga!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang