"Tolong! Tolong!" Teriakan keras meminta pertolongan dan kesakitan dimana-mana, mengelilingi rumah Sastra. Saat itu dilanda kepanikan serta kekacauan tak karuan.
Terdengar langkah kaki manusia, aura dari pintu rasanya seperti ingin menghantam kami. Justice langsung menarik lenganku untuk masuk ke dalam rumah dan bersembunyi di ranjang kotoran baju.
Banyak orang yang menggusur rumah-rumah kala itu, mereka memporak-porandakan isi rumah. Menyeramkan.
Setelah menunggu selama hampir 30 menit kami pun keluar dari ranjang itu, lalu ada seseorang yang datang kembali, tadinya kami sudah siaga mengambil tongkat untuk memukulinya tapi ternyata itu bukan orang jahat.
"Non, kita harus pergi Non." ajak seorang pelayan menggunakan kemeja putih yang sudah lecek dan ternodai oleh debu dengan rambutnya yang sudah acak-acakan.
"Apa? Apa yang terjadi?" Justice kebingungan dengan ajakannya yang tiba-tiba.
"Nanti akan saya ceritakan setelah kita pergi dari sini, Non."
"Bagaimana dengan temanku?" Justice melirikku.
"Dijamin dia akan aman Non. Mari pergi." Sang pelayan terlihat tergesa-gesa dan khawatir.
"Baik."
"Sastra, maaf aku tidak bisa menemanimu. Tapi..," Justice melepaskan gelangnya dari tangannya lalu menjulurkan ke Sastra. "Ambillah gelang ini sebagai bukti kita pernah bersahabat. Maaf kalau aku belum bisa menjadi teman yang baik. Kalau kamu merindukanku, lihatlah saja gelang ini. Jiwaku ada disini, dan sekarang ada padamu."
"Sampai jumpa." pamit Justice
Aku hanya menatapnya kosong dengan air mata yang semakin mengucur, tanganku ingin menggapainya tapi aku tidak mampu.
Kata-katanya itu sudah bagaikan wasiatnya dan seakan kita tidak akan pernah bertemu kembali.
Usai Justice pergi, orang tuaku tak lama kembali ke rumah. Mereka cemong dan baju Papa sobek dengan lumuran darah di tangannya, melihat itu semua aku menjadi tahu apa yang terjadi di luar sana. Tapi, aku memilih diam.
"Sastra, anggap saja ini tidak pernah terjadi ya, Nak. Maafkan Papa dan Mama." Papa berbicara dengan napasnya yang sudah tidak teratur.
"Mama akan disini bersama Sastra." ucap Mama lalu Papa meninggalkan kami berdua.
"Yuk masuk ke dalam Nak. Papa masih ada urusan."
"Baik, Ma." Aku masuk ke dalam kamarku, merebahkan diri dan akhirnya tertidur pulas seakan-akan tidak ada yang terjadi.
Ketika aku terbangun, aku keluar dari kamarku lalu melihat Mama menangis terpuruk sampai duduk di lantai. Saat itu aku tidak tahu pasti apa yang terjadi, Mama hanya menghentikan tangisannya usai melihatku berdiri di depannya. Mama tidak bercerita. Mama mengusap matanya berusaha membersihkan air mata dari matanya. "Sastra lapar? Sastra mau makan buah?" tawar Mama
Aku menerimanya supaya Mama tidak repot dengan kesedihanku. Mama sudah tampak sangat sedih, kalau aku menangis juga mungkin tangisannya akan pecah. Dan aku tidak mau itu terjadi.
Selama 3 hari berlalu tidak ada kabar apa-apa bahkan dari Justice. Dia benar-benar meninggalkanku hanya dengan gelangnya. Mama tidak mengizinkanku menonton TV, Papa juga tak kunjung pulang. Aku masih belum mengerti situasi sebenarnya. Apa yang terjadi pada Justice dan Papa membuatku janggal. Apa aku tanya Mama sesekali ya?
"Ma, Papa kenapa belum pulang?"
"Papa masih sibuk sayang. Nanti tunggu kabar dari Papa ya."
"Oke, Ma. Aku boleh main keluar? Kangen sama teman-teman Ma."
"Boleh sayang. Tapi jangan jauh-jauh ya."
"Iya, aku cuman main ke rumah Takashi."
Takashi adalah salah satu dari sekian banyak teman Sastra yang ia paling dekat, mereka sering disebut sebagai duo tampan yang paling terkenal di sekolah. Takashi yang paling jago bermain basket di timnya, lalu Sastra partner basketnya yang selalu disatukan sudah seperti paket. Selain itu, Sastra juga dikenal sebagai murid terpintar dan jago dalam fotografi. Banyak murid perempuan ingin mencuri perhatiannya dengan modus meminta tolong memotokannya.
Aku berjalan di depan banyak rumah orang, kios-kios pada sudah rusak, terlihat seperti bekas kekerasan disini. Bahkan warga yang lewat hanya sedikit tidak seperti biasanya. Biasanya banyak yang membeli makanan ke supermarket.
Aku sampai di rumah Takashi, memencet bel rumahnya. Tak lama ia membuka pintunya. "Sastra? Ada apa?"
"Ayo masuk." Takashi mengajakku masuk ke dalam, aku duduk di Sofanya lalu ia menyajikan ku sebuah teh dan cemilan.
"Maaf tidak banyak."
"Tidak apa."
"Ada yang mau diceritakan kah?" Takashi berhati-hati dalam bicaranya.
"Papa belum pulang."
Takashi menelan ludah, seperti berusaha menyembunyikan sesuatu. "Apakah Mamamu tidak tahu keadaan Papamu?"
"Tidak, dia tidak tahu. Bahkan dia menyuruhku menunggu kabar dari Papa. Apa kamu tahu sesuatu, Taka?"
"Aku juga kurang tahu."
"Ekspresimu tidak meyakinkan Taka, aku tahu jelas kau sedang berbohong."
"Maaf. Aku disuruh Mamamu untuk tutup mulut."
"Kenapa memangnya?"
"Papamu..."
"Sudah tiada, Sas. Tragedi yang terjadi 3 hari yang lalu. Maaf aku tidak bisa mengatakannya tadi, aku sungguh tidak enak. Aku takut kamu terpuruk, Sas."
"Hah? Bohong, kan?"
"Beneran Sastra. Papamu berusaha melindungi Pemimpin negara ini, kamu tahu kan kalau Papamu bekerja sebagai bawahan yang tugasnya melindunginya?"
"Tidak, berarti selama ini Papa dan Mama berbohong. Papa sering bercerita tentang pekerjaannya, tapi tak pernah sekali pun menceritakan permasalahan itu. Papa bercerita selayaknya sebagai pekerja pabrik."
"Pemimpin sekarang juga sudah berganti, pemimpin yang sebelumnya sudah meninggal dunia, katanya sebenarnya anak perempuannya masih hidup tetapi dia kabur entah kemana. Dia dikejar-kejar untuk dibunuh, meringis sekali bukan?"
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Banyak berita beredar di TV bahwa pemimpin yang lama telah dibunuh yang disebabkan kebencian dan keirian calon pemimpin sebelumnya."
"Selama 3 hari ternyata sudah sebanyak ini permasalahan yang terjadi. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa."
"Itu wajar Sas. Mamamu berusaha menjagamu, dia tidak mau kamu sengsara dan sedih. Tolong jangan benci padanya. Mamamu adalah orang baik."
"Ya, terima kasih Taka."
Usai bercerita banyak hal, untuk meredakan kesedihan aku dan Takashi menonton pertandingan bola basket. Jagoan kami adalah Yuki Kawamura dari YBA, dia jago dalam mencetak 3 point dan bahkan shooting nya selalu tepat sasaran. Mereka mencetak 100 point dalam melawan Kanada di menit 20, bahkan Kanada sangat jauh terlampau point nya dibanding mereka.
"Yes! Gila, Yuki sangat jago! Keren." puji Takashi bersemangat.
"Memang panutan kita!" Aku tertawa.
"Kanada kalah telak. YBA isinya betulan orang-orang emas. Tidak main-main bakatnya."
"Ayo kita juga berusaha Taka, supaya bisa menjadi seperti mereka. Pertama, kita jadi atlet sekolah mengikuti pertandingan antar provinsi, lalu nasional dan terakhir internasional!"
"Ya! Aku setuju! Kita berjanji ya! Besok aku akan bilang ke teman-teman. Kita akan sering mengikuti pertandingan."
Setelah itu aku pulang ke rumah, suasana hati kian membaik dan rasa penasaranku sudah hilang.
