08. Rumah Hantu

86 59 6
                                        

Badut itu berjalan menggunakan sepeda roda satunya dengan lincah dan lihai, tidak terlihat kaku sama sekali. Bahkan dia bisa mengendalikan sepedanya dan bersikap pura-pura jatuh untuk menakut-nakuti penonton.

Pertunjukan atraksi ditutup dengan membuat gabungan balon-balon dan membentuk rupa yang unik. Justice yang termasuk di barisan depan dihampiri oleh badut itu lalu diberikan setangkai bunga tulip berwarna merah muda memiliki kelopak yang lembut serta balon yang berbentuk rubah. "Untukmu Nona kecil cantik."

Dengan senang hati Justice menerimanya, ia menarik simpul mulutnya, mulai tersenyum. Bahagia. "Terima kasih." ucapnya

Badut itu membalas perkataan terima kasihnya dengan melipat tangannya ke arah dada dan menunduk─tersenyum seperti seorang pangeran yang mengajak seorang putri berdansa.

"Badutnya lucu ya."

"Iya."

"Setelah ini mau kemana?"

"Itu rumah hantu?" Justice yang sedari tadi memperhatikan akhirnya berucap.

"Iya."

"Ayo kesana!" ajak Justice dengan semangat.

"Serius? Kamu tidak takut?"

"Tidak sama sekali. Biasanya kalau bepergian bersama Ayah aku selalu mampir ke rumah hantu. Kenapa? Kamu takut?"

"Tidak. Tidak sama sekali. Aku sangat berani." Bulu kudukku seketika naik semua, menggigil. Melihatnya yang begitu semangat ketika mau memasuki rumah hantu membuatku berpikir bahwa sebenarnya dia punya kepribadian ganda atau memang kepribadian yang tersembunyi. Aku jadi takut padanya.

"Ya sudah, mari masuk."

"Baiklah." Aku membuang napas berat, takut yang ada hal memalukan yang terjadi.

Kami sudah memasuki rumah hantu tersebut. Gelap, kami hanya diberikan sebuah lampu lentera sebagai penerang jalan. "Kamu yang memandu kan?" tanya Justice

"Ha-hah? O-oke." Dasar diriku. Asal mengiyakan saja, padahal aku sudah berjanji pada diri sendiri tak mau pergi ke rumah hantu karena saat memasuki rumah hantu dengan perasaan penasaran, aku selalu dibuat kaget sampai terjadi hal memalukan dan membuatku benar-benar tak ingin kembali.

Justice tertawa, "kamu beneran tidak apa? Wajahmu terlihat takut sekali. Aku tidak kuat menahan tawa." Justice lanjut menertawakan diriku sampai terbahak-bahak.

"Aku tidak apa. Tenang saj-."

"Baa!" Tiba-tiba hantu dengan mulut robek muncul di hadapanku. "Aku cantik, atau tidak?"

Aku memekik sampai hantu itu tak ku hiraukan langsung aku menarik lengan Justice untuk segera kabur.

"Adik laki-laki, kamu salah menarik. Teman perempuan mu tertinggal di belakang." Tapi ternyata yang kutarik bukan tangan Justice melainkan hantu itu. Alhasil aku menjerit-jerit.

Suara langkah kaki dari belakang terdengar berlari dan diselingi tawaan. "Ternyata kamu benar-benar takut ya. Maaf kakak hantu, temanku sangat ketakutan jadi tak mengira akan salah menarik lengan."

"Kamu bawa celana lebih tidak?" tanya hantu itu

Aku diam sejenak, "tidak"

"Lihat celanamu, basah." Aku memindahkan pandangan ku ke bawah. Terkejut karena hal ini terjadi lagi, diriku yang mengompol akibat ketakutan.

Justice benar-benar tidak bisa menahan tawa, dia benar-benar sudah kehilangan sikap elegannya itu.

"Dasar! Jangan tertawa!" Pipiku memerah, memasang ekspresi marah karena menahan malu.

Hai, bunga!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang