Marley dan Ellos sempat membisu menyimak kegiatan pabrik.
Marley mengangkat pembicaraan. "Bagaimana dengan kondisi pabrik ini jika penyebaran sudah meluas?"
"Sepertinya mau tidak mau kita harus mengkarantina sejenak." balas Ellos
"Aku belum pernah mendengar tanaman bisa terinfeksi penyakit ini. Jadi seharusnya aman, bukan?"
"Penjualan semakin hari semakin menurun akibat penyakit ini. Interaksi pasar pun hanya di beberapa tempat saja yang masih terbuka."
"Maaf Ellos, ini semua sebenarnya terjadi karena anak buahku. Mereka menggunakan virus entah berantah."
"Memang apa tujuan kalian? Sampai kepikiran menggunakan virus?"
"Maaf kami tidak bisa memberi tahu, kalau kami sudah siap untuk menginformasikannya maka akan ku beritahu nanti."
"Baiklah sobat."
"Oh ya, aku ingin menanyakan sesuatu." Ia merogoh kantong blazernya lalu mengeluarkan foto yang disimpannya tadi.
"Apa?"
"Kamu kenal dia?" tanya Marley sambil memperlihatkan foto tersebut pada Ellos.
"Tidak kenal. Tapi wajahnya tampak tak asing seakan-akan kita pernah bertemu."
"Benar, aku juga tidak asing dengan wajahnya, tapi siapa namanya ya?"
"Pakaiannya terlalu bagus untuk dikatakan rakyat jelata." Mereka sibuk memusingkan hal itu hingga terdiam sejenak.
"Mungkin saja kenalan atau saudara jauhku." ucap Marley masih dengan perasaannya yang janggal.
"Ya." balas Ellos. "Kamu sudah mau kembali, Mar?"
"Iya, pekerjaan sedang padat walaupun dokumen sudah selesai diuruskan."
"Baiklah kalau begitu. Semangat menteri kami."
Marley tertawa, "tentu saja. Walau setiap hari harus bertemu dengan banyak manusia konyol."
"Ya begitulah pekerjaan Mar.., banyak berbagai macam orang, menjadikan kita harus bisa beradaptasi dengan baik."
"Benar Los, setelah beberapa tahun sekarang aku sudah mulai bersabar menghadapinya."
"Tapi umpatan mu masih sering keluar, 'kan?"
Marley tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat yang sangat menggambarkan dirinya itu keluar dari mulut temannya.
Usai sudah perbincangan ini. Ellos mengantar Marley sampai gerbang keluar. Marley memasuki mobil lalu menyalakan mesinnya. "Sampai jumpa!" pamitnya seraya melambaikan tangannya.
"Sampai jumpa."
Ia berangkat pergi menginjakkan gas dan kopling. Sekarang yang tersisa hanya suara mesin mobil yang semakin menjauh tidak terdengar. Ellos tersenyum lalu kembali masuk ke dalam pabrik.
***
“November — dengan sihir yang luar biasa pada pepohonan yang berubah. Dengan matahari terbenam berwarna merah keruh yang menyala dalam warna merah tua berasap di balik bukit-bukit yang menghadap barat. Dengan hari-hari yang indah ketika hutan yang keras itu indah dan anggun dalam ketenangan yang bermartabat dari tangan yang terlipat dan mata yang terpejam — hari-hari yang penuh dengan sinar matahari yang cerah dan pucat yang menyaring melalui warna emas pohon juniper yang tak berdaun dan berkilauan di antara pohon beech yang kelabu, menerangi tepian lumut yang hijau dan membasahi tiang-tiang pohon pinus.”
― LM Montgomery, The Blue Castle
