REMINDER ─ Beberapa tempat dalam cerita ini nyata tetapi tidak benar informasinya. Setiap adegan merupakan fiksi.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Setelah 5 tahun, ketahanan mantra ini akan pecah. Semuanya akan kembali seperti semula." ucap seseorang yang berjubah putih panjang dan menutup wajahnya dengan tudung─sedang berhadapan dengan seorang pria gagah berkemeja hitam dilengkapi celana dan sepatu formalnya.
Mereka bertemu di salah satu kota terpencil yang jarang orang ketahui. Kota ini disebut kota penyihir. Kota yang berisi warganya memiliki kemampuan mengeluarkan mantra yang berbeda-beda. Tak banyak orang yang bisa memasuki kota ini karena harus memenuhi syarat khusus.
"Hal itu bisa mengancam anda. Anda mau tetap memakainya, Tuan?"
"Tidak apa, aku akan tetap menggunakannya."
"Baik."
***
Salah satu anak buah yang membeli virus di pasar gelap bernama Yama mengetuk pintu ruang kerja tuannya. "Permisi Tuan."
"Masuk."
"Maaf Tuan, kami belum menemukan obat penawarnya karena sangat sulit penanganannya." Orang itu terus membungkuk.
"Sial, kalau sampai setengah negeri terjangkit penyakit ini mau tidak mau kita harus mengungsi."
"Sembari menemukan obat penawar kalian ditugaskan mencari wilayah yang aman untuk mengungsi."
"Hubungi pemerintah daerah."
"Baik, Tuan. Saya permisi."
"Dan satu lagi. Kamu kenal dengan pembantu bernama Nami itu?"
"Seingat saya dia pembantu yang dibawakan dari gereja Tuan." Yama masih terus membungkuk.
"Gereja yang kita sponsori?"
"Benar Tuan. Gereja Maha Kudus."
"Tolong carikan tentang dia juga."
"Baik Tuan." Akhirnya Yama memberikan hormat dan berdiri sempurna lalu berjalan keluar.
Kesunyian mengalir dalam ruangan itu. Tuan Marley membereskan dokumennya dan lanjut mengecap lembar per lembarnya lalu ia secara tak sengaja menemukan fotonya bersama seseorang. Mereka menggunakan pakaian rapih dan latar belakangnya gedung yang sedang ia berada sekarang. Mereka juga tampak sangat dekat. "Siapa orang ini? Familiar. Kenapa kami kelihatan dekat sekali? Tapi aku tidak mengenalnya."
Ia tidak begitu memusingkannya, disimpannya foto itu di kantong blazernya kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Sebentar lagi penyakit itu akan sampai ke pusat Tokyo. Kita harus pindah ke distrik. Setidaknya lebih aman." gumamnya