10. Mama, Papa

50 31 9
                                        

Pelayan itu dipanggil olehnya. Ditanyakan berbagai macam pertanyaan, tetapi tidak ada kalimat pengakuan yang keluar dari mulutnya.

"Tapi kau mendengarkan."

"Sama sekali tidak Tuan. Kami pelayan sudah dilatih untuk tidak mendengarkan."

"Oh begitu? Aku bisa memotong telingamu sesuai perkataan mu. Ku pastikan kau tidak bisa mendengar. Skakmat."

Pelayan itu kaget, matanya membesar─dilanda ketakutan. Detak jantungnya mengencang, membuat lututnya lemas dan pikirannya dipenuhi oleh bayangan-bayangan darah yang mengerikan berasal dari bagian tubuhnya. "Ba-baik Tuan."

"Kenapa gemetar begitu? Takut ketahuan?"

"Tidak Tuan. Saya permisi." Ruangan itu menjadi semakin kecil saat ia menjauh, seiring dengan langkahnya yang semakin menjauh dari tempat itu. Di belakangnya terdapat bahaya yang mengancam, kalau tidak berhati-hati dalam bicaranya bisa-bisa bukan hanya telinganya yang dipotong. Nyawanya pun bisa menjadi korban.

***

Keesokan paginya kami bertemu lagi. Justice baru saja turun dari mobil mewahnya tepat di depan toko kue kami. "Terima kasih Pak."

"Tentu, Non." balas supirnya

"Sastra, ada Justice tuh." Mama berbisik-bisik. Mendengar perkataan Mama membuatku langsung terbirit lari ke arah pintu.

Justice mulai berjalan perlahan menciptakan nuansa dirinya yang berkelas tinggi, membuka pintu dengan pelan. Pintu pun terbuka sempurna. "Hai, Justice." panggil ku sambil melambaikan tangan. Tersenyum ke arahnya.

Justice menengok, "hai, Sastra." Ia balik tersenyum. Senyumannya membuatku terdiam─terpukau oleh wajahnya. Yang cantik bukan hanya parasnya. Hatinya yang sangat lembut, setiap gerakan tubuhnya mengalir keanggunan, senyumannya yang mampu menghangatkan hati.

"Bagaimana kabarmu, Sastra?"

"Tentu saja baik. Bagaimana denganmu?"

"Sangat baik."

"Siapa itu Sastra?" tanya Mama agak berteriak karena ia sedang membersihkan meja─berpura-pura tidak melihat.

"Justice Ma!" Aku tertawa.

Mama segera mengakhiri kegiatan bersih-bersihnya lalu menemui kami. "Oh Justice. Halo, Nak." Mama menyambutnya, memeluknya erat sudah selayaknya anaknya sendiri.

"Selamat pagi, Tante." Salam Justice sembari menundukkan kepalanya.

"Selamat pagi. Kamu sudah sarapan belum?"

"Belum sempat, Tan."

"Tante sudah memasak banyak, sengaja karena kamu mau datang. Ayo masuk. Kita makan dulu."

"Tidak usah Tante."

"Jangan malu-malu. Tante tahu kamu lapar."

"Terima kasih. Maaf merepotkan."

"Tidak merepotkan sama sekali."

Kami makan bersama, berbincang bagaikan sesama keluarga yang sudah merasa sangat dekat.

"Justice sekolah dimana?"

"High Art Academy. Saya mengambil kelas menggambar, melukis dan merangkai Tan."

"Wah, Justice bisa menggambar? Justin pasti sangat bangga padamu."

"Saya bersyukur karena Ayah selalu mendukung."

"Sekolah kalian tidak jauh ya ternyata. Kalau Sastra mengambil sekolah khusus fotografi."

"Oh, begitu Tan. Semangat ya Sastra." Kalimat per kalimatnya tampak memberikan kesan kurang semangat dan tak tertarik.

Hai, bunga!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang