06. Masalah

97 68 2
                                        

REMINDER ─ Untuk setiap adegan cerita ini hanyalah fiksi, bukan merupakan sindiran ataupun pencemaran.

***

"Sialan, siapa dia? Bagaimana dia bisa tahu serinci itu?" gerang kesal seorang pria menggunakan kemeja denim dengan celana hitamnya berjalan mondar-mandir memainkan rambutnya─gelisah sambil memegang erat koran berisikan berita televisi kemarin.

Berita yang dibawakan kemarin langsung diinput oleh para wartawan dari berbagai media televisi. Sudah banyak tersebar di penjuru negeri. Mereka banyak menulis tuntutan hak asasi manusia yang tidak bisa diberikan oleh pemerintah. Bahkan mereka mengaitkan dengan masalah penggelapan uang pembangunan yang menjadi hasutan masyarakat dalam melakukan demo, terutama masyarakat yang dijanjikan akan mendapat pembangunan handal.

Penggelapan uang tersebut dijadikan taktik untuk menutupi masalah sebelumnya. Pembangunan fasilitas yang dipercayakan para menteri ternyata dana anggarannya dikurangkan demi kepentingan pribadi. Sudah banyak kasus seperti ini, tapi kasus ini lebih besar bahkan dananya sebesar 500 miliar. Hutang negara yang sudah banyak bertambah lebih banyak lagi.

Lama-kelamaan negara ini akan hancur lebur dengan pemikiran pembodohan orang berkuasa. Mereka hanya mementingkan diri sendiri, dalih berkata untuk rakyat tetapi semua itu hanya omongan belaka.

Pria yang gelisah itu pun mengambil tindakan, ia memanggil salah satu anak buahnya. Ia mengetuk dan membuka pintu perlahan, "permisi. Ada apa Tuan?" tanyanya sambil menundukkan kepala, tangannya disatukan di paha─sikap hormat.

"Tolong panggilkan semua kantor majalah ataupun berita untuk tutup mulut semua. Kasih mereka uang berapapun yang mereka mau."

"Baik, Tuan."

"Dan juga, tolong selidiki wanita yang waktu itu muncul di berita. Dia berbahaya."

"Baik, Tuan." Orang itu masih bersikap sopan, mengikuti kemauan Tuannya lalu pergi.

Setelah anak buahnya itu pergi meninggalkan ruangannya, ia langsung mengumpat kesal. "Kenapa semua ini tidak sesuai dengan kemauanku?!"

"Komite sialan. Memberikan semua tugas berat kepadaku."

Ia menelpon beberapa orang yang dipercayainya, menanyakan bagaimana tindakan yang seharusnya ia ambil. "Apa kau gila?! Membuatku menjadi tumbal?!"

"Itu hanya kalau saja kemungkinan terburuk terjadi. Nanti juga kan kau akan mendapatkan kompensasi segera dari orang di bawahku. Kau akan langsung dibebaskan dan akan mendapatkan uang dalam jumlah yang cukup besar. Yang ku perlukan hanya wajahmu untuk menutupi wajahku. Bagaimana?"

"Beneran?"

"Kau lupa aku siapa?"

"Ya, ya. Kaulah yang paling berkuasa. Kau tahu sekali aku lemah terhadap uang. Baiklah, aku akan mengikuti kemauan mu." Setelah terjadinya kesepakatan, telepon itu ditutup.

"Bagus sekali, untung mereka bodoh."

Tok! Tok!

Suara ketukan pintu terdengar dari luar, entah siapa. "Masuk."

"Permisi Tuan. Saya membawakan teh karena sepertinya Tuan sangat kelelahan."

Ia menghirup teh tersebut sebelum diteguk olehnya. "Harum. Bau melati yang menyengat. Terima kasih Justice."

Hai, bunga!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang