"Apakah kamu tau?"
"Hm?" balasku sambil menggowes pedal sepeda perlahan.
"Apa yang membuat dunia ini begitu indah?"
"Apa?"
"Karena banyak berbagai jenis manusia, permasalahan kota yang sering diperbuat, kebisingan, hal-hal kecil yang penting, perasaan, emosi, itu semua seperti kehidupan yang sungguh berarti." Selesai berbicara tiba-tiba gadis itu turun dari sepeda, akupun dengan reflek menghentikan sepeda lalu memindahkan pandanganku padanya.
"Maka dari itu, kamu harus berjuang ya! Untuk kehidupanmu yang terbaik ini. Jalan yang sudah kamu lalui itu bukan berarti tidak ada artinya. Bahkan dengan kamu yang membonceng ku ini punya arti, lho. Aku merasa bahagia. Karena mu.
Aku tersipu malu. Melalui perkataannya, tatapan, senyuman, gerak-gerik yang diberikan entah mengapa semua itu membuatku menjadi suka padanya. "Kenapa?"
"Kenapa kamu mengatakan ini?"
"Karena dari rautmu daritadi aku merasa kamu sedang ada masalah. Aku jadi mau menyemangati mu, deh." ucapnya sembari tersenyum.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
"Setelah ini mau kemana?"
"Kamu tau tempat yang seru?"
"Hm, tak banyak sih yang kutau. Tapi mungkin aku tau beberapa tempat yang akan kau suka."
"Hee, dimana? Dimana? Aku jadi tidak sabar."
"Aku akan membawamu kesana." Aku menggowes sepedaku dengan cepat, melewati jalan yang berliku, sawah hijau disertai ekosistemnya, orang-orang yang sendiri maupun berpasangan, kendaraan, kami mengarah ke tengah-tengah kota.
"Sudah sampai."
"Wahhh."
Kami berada tepat di depan menara yang ada di kota dekat desa kami, tempat ini lumayan terkenal, banyak wisatawan berkunjung kemari. Tak heran, disini banyak food court yang bisa disantap dengan nikmatnya udara yang masih sejuk oleh pepohonan serta pemandangan gunung Fuji.
"Wah! Banyak orang disini!"
"Iya. Tempat ini memang banyak pengunjungnya. Aku mau mengajakmu kesana." Jari telunjukku menunjuk ke arah menara tinggi di depan kami.
"Menara apa itu? Cantik sekali."
"Beppu Tower. Memiliki ketinggian 330 meter, kita bisa melihat pemandangan kota dari lantai paling atas dan banyak pekerja program televisi karena mereka memiliki pemancar siaran televisi." ucapku jelas memandangi menara tersebut.
"Hebat!! Kamu tau banyak ya."
"Lu-lumayan. Aku sering baca buku tentang siaran."
"Kamu mau menjadi penyiar?"
"Iya, selain membuka toko bunga aku ingin menjadi penyiar. Orang tuaku tak menyukai aku membuka toko bunga. Tidak menjanjikan."
"Menurutku tidak kok! Kamu yang memiliki impian seperti itu saja sudah sangat keren!"
"Terima kasih." lega ku membuahkan seringai-memandang ke bawah, mengelus tekuk leher kasar.
"Akhirnya! Kamu tersenyum." katanya dengan semangat, menyipitkan mata membentuk suatu lengkungan pada bibirnya.
Aku hanya bisa terdiam, membiarkan diriku yang menatapnya lembut. Entah mengapa, baru kali ini aku merasa mataku berbinar seperti saat pertama kali aku menampakkan bintang.
"Terima kasih ya telah mengajakku berkeliling."
"Hari ini aku senang sekali, aku akan menyisakan waktuku untuk datang kembali kesini."
