Toko kue yang tersusun dengan segala pernak-perniknya. Papan selamat datang, hiasan yang tergantung, dan lukisan-lukisan lucu dipajang dengan memakai furnitur yang senada.
Sepanjang hari hanya membantu Mama mempersiapkan toko kuenya dengan membenahi meja-meja dan kursi-kursi, mengelapnya juga menaruh kain alas dengan hiasan di atasnya botol berisikan air dan bunga agar terlihat cantik dipandang.
"Ma, sudah selesai."
"Terima kasih Sastra, Mama boleh minta tolong lagi?"
"Sangat boleh."
"To-" Mama yang belum selesai bicara terjeda karena kehadiran dua orang yang masuk ke toko kami yang tampaknya seperti bapak dan anak lalu menyapa kami. "Selamat pagi." Sambil tersenyum.
"Selamat pagi." Mama membalas dengan senyuman khasnya.
Mereka berdiri di depan meja memesan. "Saya ingin memesan dua Cheesecake dengan satu minuman Strawberry Sundae dan satu Americano ya."
"Kenapa kau berpura-pura tidak mengenal kami begitu, Justin?" tanya Mama dengan nada mengejek.
Orang yang sudah tua dipanggil Justin itu oleh Mama tertawa atas pertanyaannya. "Aku bercanda, Cintya." Jeda sedikit, Justin memandangi sekitar. "Oh ya, dimana Ellos?"
"Dia sedang pergi mencari barang, entah apa itu. Katanya untuk keperluan pekerjaannya di pabrik."
"Dasar orang sibuk, bahkan aku yang seharian bekerja di depan meja mengurus dokumen masih bisa mampir kemari untuk menemuinya. Tapi dianya malah menghilang."
"Apa kau ingin menghampirinya?"
"Aku tahu ia pergi kemana."
"Tidak usah, aku datang kesini untuk mencicipi hidangan mu, Cintya."
"Oh ya, apakah anak yang beberes tadi adalah anakmu?"
"Benar, itu anakku, Sastra."
Melihat Mama yang akrab sekali dengan paman itu membuatku berpikir harus bersalaman dengan kenalan Papa. "Selamat pagi Paman. Perkenalkan, saya Sastra. Semoga Paman suka dengan hidangan disini. Tapi pastinya suka, karena Mamaku memang pandai."
"Wih, nama yang bagus untuk seorang pemberani. Apalagi dengan melihat putriku yang daritadi memandanginya. Ini jabat tangan persetujuan perjodohan ya? Tentu saya bolehkan Sastra."
Aku membalasnya dengan tawaan sambil memandangi gadis itu.
"Aku tidak memperhatikannya, kok." elak putrinya
"Umurmu berapa?" tanya Paman Justin.
"13 tahun Paman."
"Oh, ternyata berbeda 2 tahun dengan putriku. Dia lebih tua darimu, tapi tidak terlalu pandai bersosialisasi."
"Tidak apa Paman. Aku bisa menjadi teman mengobrol nya. Kita bisa berkeliling mencari teman baru atau pergi ke sekolah bersama."
"Terima kasih Sastra. Aku senang dengan tawaranmu. Kamu mau bukan?" Pertanyaan Paman tertunjuk pada putrinya.
"Aku mengikuti keinginan Ayah." balas anak perempuannya
