Malam sunyi berhembus nan angin malam, langit sudah tidak menunjukkan indahnya warna biru.
"Hai," ucapku
"Salam kenal bunga, aku suka sekali berkunjung kesini, mengunjungimu dan teman-temanmu."
"Kalian selalu tampak indah, ya."
"Walau langit sudah gelap, kalian masih bisa mengeluarkan warna benderang menenangkan hati."
Aku Sastra, orang yang sampai kapanpun tetap menyukai kalian.
Memang benar aku tidak punya bakat, tapi banyak orang tua bilang aku akan sukses. Kuduga itu hanya kata penyemangat saja, karena orang dewasa tak menginginkan harapan anak yang semakin dewasa ini pupus nantinya.
Teman-teman yang lebih muda dariku sudah punya pandangan mereka ingin menjadi apa dan sudah berambisi dari sekarang. Sedangkan diriku sama sekali tidak merasakan kecemasan akan duniawi, lelah.
Bahkan di dunia yang sempit ini aku tidak pernah sekalipun merasa ekspektasi ku terpenuhi.
Orang pintar banyak berkata bahwa perbedaan itu indah dan unik, tapi aku selalu merasa aku tidak punya keindahan apa-apa.
Aku tertawa kecil sembari menatap serangkaian bunga-bunga indah, "lucu bukan?"
"Mungkin saja ini keunikan yang aneh."
"Keunikan yang hanya bisa dimiliki oleh diriku seorang."
***
