°•○☆○•°
2 Tahun kemudian
"Hahaha... kalo diinget lagi, ternyata seru juga ya masa-masa SMA? jadi kangen temen-temen kelas deh.." ujar Harin sambil menaruh minuman berkafein yang dia pesan di atas meja.
"Ngapain kangen? kan gue setiap hari selalu bareng elo," jawab laki-laki di depannya.
Harin menatapnya malas, "Dih? itu sih gue juga udah bosen ngeliat muka lo tiap hari, Seung."
"Kalo kata gue sih, life must go on, Rin. Lo-nya aja yang kurang bergaul di kampus, jadi belum dapet keseruannya bareng temen-temen kampus," sindir Heeseung.
"Yeu.. gue kan cuman mengenang masa SMA. Oh, wajar sih lo gak suka mengenang masa-masa SMA, kan kenangan SMA lo gak ada yang berkesan, hahahaha… sering remidi fisika, hampir dikunciin gara-gara terlambat, selalu gagal kalo mau dapet pacar," ejek Harin.
“Heh, yang terakhir tuh lo melebih-lebihkan ya! lagian lo juga ngalamin hal yang sama, ngaca!” jawab Heeseung gak terima.
“Gak ada tuh gue remidi fisika, apalagi terlambat masuk sekolah. Gagal dapet pacar? gue kan emang gak nyari, wle!” sanggah Harin.
“Dahlah. Debat sama lo gak bakal selesai sampe matahari terbit dari selatan. Ini bahan rapat untuk panitia besok belum kelar.”
“Iya ya.. sampe lupa gue. Tadi sampe mana ya?”
“Resiko punya temen pikun gini amat.”
“APA?”
Kini giliran Heeseung terkekeh pelan.
Harin dan Heeseung berada di kampus dan jurusan yang sama. Mereka menjadi panitia OSPEK atau kegiatan pengenalan dunia kampus untuk mahasiswa baru di kampusnya.
Sebenarnya Heeseung malas sekali untuk mengikuti kegiatan panitia seperti ini. Menurutnya hanya membuang-buang waktunya saja. Lebih baik liburan semesternya digunakan untuk tidur dan beristirahat.
Namun, dengan hasutan mautnya, Harin berhasil membuat Heeseung bersemangat mengikuti langkah sahabatnya itu untuk mendaftar sebagai panitia OSPEK universitas.
“Yakin lo gak mau ikutan? lumayan loh bisa ketemu adik-adik mahasiswa baru yang gemes-gemes. Lo bisa tebar pesona sama mereka. Siapa tau lo bisa ketemu pacar di sana. Daripada lo tidur-tiduran gak jelas,” hasutan Harin.
Hm.. apa yang dibilang Harin gak ada salahnya sih, pikir Heeseung.
“Yaudah deh. Gue mau aja ikutan asalkan sama lo,” ujar Heeseung tegas. Gak ada salahnya dia mencoba untuk mengikuti panitia pertama kali. Lumayan juga untuk menambah pengalaman organisasinya.
“Iyaa.. gampang itu mah. Tuh, gue udah kirim linknya. Lo tinggal daftar. Nanti gue bantu sisanya,” tutur Harin sambil mengirim link pendaftaran panitia yang dimaksud.
“Makasih cantik.”
“Iya, sama-sama jelek.”
Harin mulai terbiasa dengan keberadaan Heeseung di sampingnya. Gadis itu sudah mulai memaafkan Heeseung perlahan. Walaupun saat mereka bertemu selalu saja ada hal yang diributkan, mereka tetap saling membantu satu sama lain. Inilah yang membuat Harin mulai berdamai dengan Heeseung.
Setelah Harin merenung dan memikirkannya kembali, pasti ada sebuah alasan mengapa Heeseung meninggalkannya dulu. Entah benar atau tidak, terkadang Harin juga menyadari kalau Heeseung menatapnya dengan perasaan bersalah.
Bagi Harin, berdamai dengan keadaan bukan tentang melupakan atau mengabaikan kenangan buruk, melainkan tentang bagaimana kita mulai menerima dan memaafkan kenangan itu. Dengan begitu, Harin berharap dirinya akan menjadi orang yang lebih bahagia menjalani hari-harinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cupid | Heeseung Lee
Fanfiction"Lo terus-terusan berhasil bantuin masalah percintaan orang, tapi diri lo sendiri belum punya pacar." "Well, lo pasti tau kan, kalo pelatih itu gak main di lapangan?" "Halah, bilang aja gak ada yang mau sama lo." "Sialan." ︶꒦꒷ ꜰᴏʟʟᴏᴡ ᴅᴜʟᴜ ʏᴜᴋ ꜱᴇʙᴇʟᴜ...
