14. Beginning

134 16 7
                                        

°•○☆○•°

"Oke, semuanya udah aman sejauh ini. Gladinya udah lumayan bagus. Karena udah malem juga, kalian boleh istirahat di rumah, bawa stamina penuh buat besok. Buat divisi keamanan dan perlengkapan bisa dirapiin kabel-kabelnya habis itu kalian boleh pulang. Semangat tim!" ujar Christine di penghujung briefing gladi bersih event pengenalan kampus.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, para panitia pengenalan kampus termasuk Heeseung dan Harin baru saja menyelesaikan gladi bersih untuk acara besok. Hari ini benar-benar melelahkan, terlebih lagi Harin yang harus melaksanakan dua pekerjaan, bertugas menjadi panitia dan menjadi MC untuk acara hiburan nanti.

Walaupun dirinya sudah memiliki pengalaman, tapi tetap saja Harin merasa gugup karena harus menghadapi ribuan mahasiswa baru. Ia harus tampil percaya diri, lucu sedikit, tapi tetap sopan dan gak garing.

Harin menarik napas panjang. Ia butuh tenaga ekstra untuk memandu adik-adik mahasiswa yang akan menjadi bagian dari kampusnya itu, bukan cuma fisik, tapi juga mental.

Keraguan mulai menguasai pikirannya, menebar rasa cemas yang tidak bisa ia tolak. 'Kalau gue salah sebut nama jurusan gimana? Kalau mic-nya mati pas gue lagi ngomong? Kalau mereka malah diem semua dan nggak ketawa padahal gue udah narik semua sisa energi buat ngelempar jokes?'

Lamunannya terhenti ketika sebuah botol air mineral menempel di pipinya.

"Bengong aja lo. Lagi mikirin apa?" kata orang yang membawa botol minum itu.

"Biasa, Seung. Penyakit cewek, overthinking." Jawab Harin sambil mengambil air mineral pemberian Heeseung, "ini buat gue?"

"Menurut lo?" Heeseung sarkas, "yang lain udah pada beres-beres, cuman lo yang bengong di sini, gue takut lo kesambet," lanjutnya sambil duduk di samping Harin.

"Hehe, makasih lho. Gue kepikiran aja, apa gue bisa nge-handle mahasiswa baru yang jumlahnya ribuan gini? apalagi mereka asalnya dari daerah yang beda-beda. Nanti apa yang gue sampein malah gak sampe di mereka," ujar Harin sambil menenggak air minum sampai setengah botol.

"Event beginian buat seorang Harin mah kecil. Lo udah sering jadi host di acara sekolah dulu, pengalaman pidato pake bahasa inggris juga udah lo jabanin. Lo pasti bisa, Rin."

"Ya tapi kan beda. Ini acaranya semi formal gitu."

"Daripada lo overthinking, mending lo pulang, istirahat sekarang. Besok kita ke kampus pagi-pagi banget," saran Heeseung.

"Tumben otak lo bener. Trus lo gak balik?"

"Gue kan nungguin lo. Jangan bilang lo lupa kalo kita satu motor?"

Harin menepuk jidatnya pelan, "Oh iya. Hehe, ayo kita pulang, driver ojolku~" ujarnya sambil mengambil tas ranselnya dan berjalan lebih dulu meninggalkan Heeseung.

Heeseung hanya bisa memutar bola matanya malas sambil menyusul sahabatnya, seolah berkata, "Terserah deh."

Heeseung tau gadis itu sedang tidak mood diajak bercanda apalagi adu mulut, makanya Ia sengaja membiarkan Harin mengeluh dan mengeluarkan uneg-unegnya selama perjalanan pulang. Mungkin dengan begitu Harin menjadi lebih lega dan bisa mengurangi overthinkingnya.

"Besok mau bareng lagi atau gimana?" tanya Heeseung saat mereka sudah sampai di rumah Harin.

"Memangnya lo mau duluan berangkat? gue harus make-up dulu, jadi harus dateng lebih pagi."

"Gapapa sih. Biar gue jadi orang pertama yang ngejek lo setelah selesai make-up. Hmm.. biar gue cari foto ondel-ondel yang mirip sama lo." Namanya juga Heeseung, sehari tidak mengejek Harin rasanya seperti ada yang kurang.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 08, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cupid | Heeseung LeeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang