Di kamar hotel, aku sedang asyik menonton televisi dan Bayu sedang menyaksikan acara penobatan Om Wahyu secara daring. Ia tidak ikut menghadiri acara tersebut bersama orangtuaku secara langsung karena ingin menjagaku yang sedang sakit. Tiba-tiba, pintu kamar kami diketuk.
"Yu," aku memanggil Bayu. "Ada yang ketuk pintu, tuh! Coba lihat siapa yang datang." Bayu masih serius menonton saat aku memintanya. Namun, akhirnya ia terusik setelah beberapa kali aku mencolek lengannya.
"Ada apa, sih, Kak?" jawabnya sambil menoleh padaku.
"Itu ada yang ketuk pintu. Kamu nggak dengar?" ketusku. Aku terus mengganggunya agar ia memeriksa siapa yang dari tadi mengetuk pintu kamar. Tetapi, Bayu tetap tidak beranjak dari tempat tidurnya. Ia hanya menoleh sesaat ke arah pintu sembari mendengar suara apa yang kumaksud. Namun, itu tidak terdengar lagi.
"Siapa yang ketuk pintu, sih, Kak? Orang aku nggak dengar apa-apa," jelas Bayu. Aku heran karena aku benar-benar mendengar ada yang mengetuk pintu berkali-kali.
"Masa, sih? Kamu nggak dengar sama sekali?" tanyaku heran. Saat itu, waktu masih menunjukkan enam magrib. Jadi, kupikir orangtuaku sudah kembali ke hotel. "Coba kamu buka pintunya dulu, Yu. Siapa tahu itu Mama atau Papa."
"Nggak mungkin, Kak. Ini aku masih nonton acaranya, Kak! Berarti mereka belum pulang," jawabnya. Namun, aku terus mendesaknya untuk memeriksa siapa yang mengetuk pintu kamar dari tadi.
Bayu mendesah dan akhirnya ia menaruh ponselnya di atas tempat tidur. Lalu, ia beranjak dari tempat tidur menuju ke pintu. Kudengar daun pintu dibuka. Tetapi tak lama, terdengar pintu terbanting.
Bayu sudah kembali ke atas tempat tidur dan lanjut menonton acara pelantikan Om Wahyu di ponsel. Matanya menyipit dan dahinya mengerut saat kutanya ada siapa di depan kamar. Dengan ketus, ia menjawabku singkat.
"Nggak ada siapa-siapa di depan, Kak!"
Tepat pukul tujuh malam, orangtuaku kembali ke hotel. Mereka membawa dua kantung makanan untuk makan malam. Mama lantas menaruh bungkus makanannya di atas meja kecil di bawah televisi dan membukanya satu per satu.
Aroma daging rendang dan kentang cabai kesukaanku menyebar ke seluruh ruang kamar saat ia membuka kotak makanan yang pertama. Aromanya membuatku ingin sekali menyicipinya, walau hanya sedikit.
Ketika ia membuka salah satu kotak makanannya, dahinya mengerut. Ia mencium aroma makanannya, tetapi ada yang aneh dari makanan tersebut.
"Kenapa, Ma?" tanyaku penasaran dengan tingkah laku Mama.
"Kok, rasanya aneh, ya?" keluhnya.
"Aneh?" sahut Bayu yang menghampirinya. "Aneh bagaimana, Ma?" tambahnya. Papa menghampirinya dan ia juga mencicipi makanan itu.
"Wah, ini mah sudah basi," jawab Papa dengan nada kecewa. Mama tampak terheran.
"Basi? 'Kan kita baru beli, Pa," protes Mama yang tidak percaya. "Masa tiba-tiba bisa basi?" Papa terdiam sejenak memandangi lauk dan nasi yang ada di dalam kotak makanan itu.
"Mungkin memang sudah basi sewaktu kita beli, Ma," jawab Papa kemudian. Mama lantas mengambil makanan yang lain. Ia mengendusnya, bahkan mencicipinya untuk memastikan apakah semua makanan yang dibelinya sudah basi semua. Namun, herannya makanan lainnya tidak tercium atau terasa basi.
Alhasil, satu kotak makanan yang masih utuh terpaksa harus dibuang. Mama tidak keberatan dan menganggap itu adalah jatah untukku, yang kebetulan aku memang belum boleh menyantap makanan itu karena kondisiku saat ini.
Malam itu, kami memakan lauk pauk seadanya di kotak makanan lain yang masih bisa dimakan. Sementara, aku dipesankan makanan khusus sesuai kondisiku saat ini melalui layanan pesan antar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Banyuwangi
HorrorJudul: Banyuwangi QRCBN: 62-782-3021-039 Sinopsis: Sosok itu terus muncul di hadapanku. Menerorku untuk meminta roh dan jiwaku. Buku ini termuat kisahku. Kisah pengalaman mencekam saat aku berkunjung ke Banyuwangi pertama kali bersama keluargaku unt...
