imagine about you and BOY NEXT DOOR member.
❁ •• Ini adalah tempat dimana kalian terlena dengan dunia tak nyata yang menyenangkan. Berikan waktu luangmu dan mari, kita para pengembara dunia khayalan bersatu disini. •• ❁
HYBE UNIVERSE [03]
-since 202...
Jaehyun hanya bisa memeluk tubuhmu sembari terisak keras. Sementara di sisi lain, kak Sana yang sesugukan menelfon ambulance. Deras hujan menemaninya. Jaehyun tak ingat apa saja yang dia lakukan di sepanjang perjalanan selain menangisimu.
Dia bertemu ayahmu di rumah sakit dan mendapat tinjuan keras. Dengan air mata berlinang, dia menyalahkan Jaehyun atas kematianmu dan menyebutnya sebagai pembunuh meski dokter telah menyatakan kematianmu murni takdir. Tak ada riwayat penyakit atau luka fatal yang memicunya. Hanya, memang sudah waktunya kamu untuk 'pergi'.
Jaehyun tak membalas meskipun dicaci maki hingga membuat Kak Sana yang membelanya sedari tadi frustasi. Karyawan rumah sakit juga nampak kewalahan memisahkan. Jaehyun sendiri tak bergeming. Pandangannya kosong. Jaehyun masih tak percaya kamu telah tiada.
Dia.. mati rasa.
Tubuh Jaehyun merosot jatuh saat dia mengingat luka sayatan di lengan kirimu. Ia kembali menangis histeris sambil kepalanya dia pukuli keras berulang kali. Jaehyun merasa buruk karena tak mengetahui hari-hari berat yang selama ini kamu lalui. Junkyu yang baru sampai tak bisa menghentikan tindakan gilanya. Jaehyun baru berhenti setelah Junkyu memukulnya keras. Kini, tinggal terdengar tangisnya yang memilukan. Disanalah semuanya kembali menangis.
Jaehyun memang tidak mendengarnya dengan begitu jelas, namun samar, ayahmu memanggil nama asing saat memeluk jasadmu tak bernyawamu di dalam ruangan sana. "Sieun.. kenapa kamu meninggalkanku lagi??"
Jaehyun hanya bisa mengintip dikejauhan karena dia dilarang untuk menghadiri pemakamanmu. Ketika semua orang sudah pergi, barulah dia bisa menyapamu. Ada junkyu dan Belle yang menemaninya kala itu.
Begitu bunga dia letakkan, air matanya tumpah lagi. Jaehyun meringkuk dan menangis sesugukan. Hatinya sangat sesak. Bunga yang dia rencanakan untuk diberikan padamu di kencan selanjutnya, malah dia letakkan di atas tumpukan tanah tempatmu bersemayam.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jaehyun turun dari mobil sedannya dengan sebuket tulip putih dalam pelukan. Pria yang kini perawakannya semakin gagah itu berjalan menaiki bukit yang dipenuhi rerumputan hijau.
Angin yang kuat namun sejuk menerpa tubuhnya di area dataran tinggi nan luas ini.
Suara desiran angin, suara serangga yang bertempat tinggal disini, serta kicauan dari burung liar yang singgah menemani tiap langkah yang Jaehyun ambil. Ada perasaan tenang yang memenuhi hatinya. Ini adalah kedamaian yang tak pernah ia rasakan diperkotaan.
Pria itu menundukkan tubuhnya ketika sampai ditujuan. Perlahan, Jaehyun meletakkan tulip bawaannya ke atas gundukan tanah dihadapannya. Ditatapnya batu nisan itu getir.
"Padahal sudah bertahun-tahun, tapi rasa sakitnya tidak juga berkurang ya?" Dia bermonolog sendiri.
Jaehyun tersenyum kecil. Entah mengapa, namun angin yang berdesir kencang saat itu seolah ingin menghiburnya. Mau tak mau dia jadi teringat lagi pada hari kematianmu.