Siblings (Final)

1.8K 97 31
                                        

Author POV

Pagi ini, seperti biasa. Boby dan kedua putrinya sarapan bersama. Biasanya mereka menyelingi dengan candaan hangat, namun tidak kali ini. Mereka terjebak dalam keheningan yang canggung.

"Bi, rasa masakkannya kok beda?" tanya Feni.

"Karena biasanya bukan saya yang memasak, nona. Biasanya nona Gita yang memasak." jawab ART mereka lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

Mereka berhenti mengunyah, Gita memasak tiap hari untuk mereka. Namun, tidak pernah sekalipun Gita ikut makan bersama mereka.

Gracia dan Feni berpamitan untuk berangkat kuliah pada Beby. Sesekali mereka melirik ke arah kamar Gita ketika menyadari Gita masih belum keluar dari kamarnya pagi ini.

Keduanya sampai di sekolah dengan lesu, mereka hampiri Shani yang tengah sibuk dengan bukunya. Melihat wajah kelelahan dan kurang tidur si kembar ini membuatnya mengernyit.

"Kalian kenapa?" tanya Shani bingung.

"Berantem sama Gita." jawab keduanya bersamaan. Feni menelungkupkan kepalanya ke atas meja, menutup kepalanya dengan hoodie miliknya. Gracia sendiri mendekatkan kursinya pada Shani dan bersandar pada pundak gadis itu.

"Bukannya tiap hari ya?" sahut Shani. Iya, baginya ini bukanlah hal asing melihat si kembar begitu tidak menyukai Gita.

"Engga tau, kali ini sakit banget." jawab Gracia lirih.

"Semalem aku ketemu Gita pulang kerja, bukan pertama kali sih. Keliatan capek banget dia." ujar Shani.

"Bukan pertama kali? Kamu tau Gita kerja di mana?" Feni mengangkat wajahnya, menatap Shani dengan antusias sekaligus penasaran. Ia berharap apa yang ia ucapkan semalam adalah kesalahan.

"Setau aku sih dia jadi fotografer gitu, pernah ga sengaja ketemu soalnya pas dia lagi kerja. Tapi gatau deh freelance atau studio. Kenapa?"

"Semalem aku ngatain Gita jual diri." Shani memukul kepala Gracia dengan keras menggunakan bukunya karena tidak terima.

"Bodoh banget sih kalian. Aku aja yang bukan siapa-siapanya Gita bisa tau kalo Gita ga akan ngelakuin hal serendah itu!" sentak Shani membuat dua saudara itu menunduk.

"Jangan keterlaluan, kalau suatu saat Gita pergi dari kalian, kalian bisa aja nyesel. Bagaimanapun, sebenci apapun, darah lebih kental daripada air." ujar Shani sebelum dosen mereka memasuki kelas.

Pagi ini, mereka sarapan bersama dengan keadaan yang masih sama dengan kemarin. Sunyi.

"Tuan, maaf, saya akan mengundurkan diri hari ini juga." ucapa ART paruh baya yang sudah mengabdi selama dua puluh tahun itu sontak membuat tiga orang di sana terkejut.

"Loh, kenapa bi? Ada masalah?" tanya Boby kaget namun sang ART hanya menggeleng kecil.

"Sebenarnya saya sudah ingin berhenti sejak jauh hari, tuan. Tapi, saya terikat janji dengan nyonya untuk menjaga nona Gita. Karena sekarang nona Gita sudah tidak di sini, saya bisa berhenti dengan tenang." jawab sang ART lagi.

"Maksudnya? Bibi harusnya masih tetep di sini, dong. Kan Gita masih masa sekolah juga." protes Gracia.

"Nona Gita sudah tidak di sini, nona." ujar ART itu lalu pamit undur diri.

Gracia dan Feni sontak berlari ke arah kamar Gita. Mereka masuki kamar yang tidak terkunci itu untuk pertama kali.

Kamar bernuansa putih dan biru itu begitu rapi. Jajaran piala-piala yang tidak pernah mereka lihat sebelummya tertata baik dalam sebuah almari kaca.

Aroma baby powder memasuki hidung mereka. Sepi, ranjang itu begitu rapi seolah tidak ada yang menempati. Gracia membuka pintu kamar mandi, kosong.

Feni menuju ke walk in closet, kosong. Keduanya panik. Gita tidak ada!

ONE SHOOT JKT48Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang