chapter 09

35 4 0
                                        

Eiji membuka pintu rumahnya. Kami baru saja jogging bersama. Tadinya aku ingin langsung pulang ke rumah, tapi Eiji mengajakku sarapan di rumahnya.

Saat ini aku duduk di kursi meja makan berhadapan dengan Eiji. Satu panci soto tersaji di atas meja makan.

“Mama gue beliin soto sebelum pergi ke kantor. Karena kebanyakan, jadi gue ngajak lo,” kata laki-laki itu.

Oh, aku kira dia yang memasak soto ini. Aku agak kecewa karena tidak bisa melihatnya memasak. Akhir-akhir ini Eiji yang sedang memasak di dapur menjadi tontonan kesukaanku. Tubuhnya semakin tampak tinggi ketika berdiri di dekat dapur.

Setelah Eiji mulai makan, barulah aku menyendokkan satu suap nasi. Rasa soto yang familiar. Sepertinya aku tahu di mana mama Eiji membelinya. Ibu pernah membelinya juga.

“Setelah ini temenin gue mandiin Nyan,” ujar Eiji.

Aku langsung membulatkan mata. “Boleh?”

Eiji mengangguk. “Temenin gue beberes rumah juga.”

Aku mengernyit. Tumben. Ada apa dengannya? Eiji bukan orang yang betah kalau ada orang lain di rumahnya.

Sarapan berlangsung dengan tenang. Kami hanya saling diam, tapi rasanya tetap menyenangkan. Setelah selesai sarapan, aku yang mengambil alih dapur. Sekarang saatnya aku yang menyuci piring. Sementara itu Eiji memasuki sebuah ruangan, mungkin kamarnya. Dia keluar dari sana sambil menggendong Nyan.

“Nyan!” Aku berseru senang. Kakiku melangkah mendekatinya, hendak memegang Nyan, tapi Eiji segera menjauhkannya dariku.

“Tangan lo masih ada busanya,” katanya. “Habis cuci piring ikut gue ke atas.”

Setelah dipikir-pikir, bukannya sekarang aku menjadi babunya? Dengan mudahnya aku terbuai dengan balasan dapat memandikan Nyan.

Cuci piring beres. Sesuai perkataan Eiji, aku naik ke lantai atas. Tidak hanya tempat nongkrong, di sini juga dijadikan tempat laundry. Eiji duduk di kursi, memangku Nyan yang sedang dipotong kukunya.

Eiji mendongak saat aku mendekat. Tangannya terulur, menunjuk sesuatu. “Isiin air di bak di sana,” suruhnya.

Aku merengut. Aku benaran dijadikan babunya. Aku menghentakkan kaki ke ujung ruangan untuk mengambil bak.

Setelah mengisi air ke dalam bak, Eiji memasukkan Nyan ke dalamnya. Kami berjongkok mengelilingi bak. Aku terkekeh geli melihat Nyan yang tidak memberontak ketika tubuhnya terkena air. Eiji mengusap tubuhnya dengan lembut. Aku meraih sampo dan memberikannya kepada Eiji begitu laki-laki itu meminta.

Eiji terlihat menikmati waktunya. Tanpa sadar senyumnya mengembang, membuatku tertegun. Ah, Nyan sangat beruntung memiliki Eiji. Lihatlah, Eiji sangat menyayanginya.

“Lo sayang banget sama Nyan,” ujarku.

Eiji mengangguk pelan. Itu pasti.

Sampo di tubuh Nyan sudah bersih. Aku mengambil dua handuk di rak, menatanya di lantai dan satunya lagi untuk menggosok Nyan yang basah.

Hair dryer-nya di bawah. Bawa Nyan ke ruang tengah.” Lagi-lagi Eiji memberi titah.

Argh, nada bicaranya itu menyebalkan.

Selesai menggosok Nyan dengan handuk, tubuhnya sudah tidak sebasah tadi. Aku membawanya ke bawah. Eiji berada di ruang tengah, sedang mencolokkan hair dryer. Aku segera bersila di hadapannya, kemudian menaruh Nyan di tengah.

Eiji menyalakan hair dryer, mulai mengeringkan rambut Nyan. Suara mesin pemanas itu menghiasi ruangan. Tidak ada yang berbicara, hanya suara mengeong kecil Nyan yang menggemaskan. Semakin lama keheningan ini membuatku terbiasa.

Aku menyadarinya. Eiji menahanku pulang dengan mengajak sarapan dan memandikan Nyan. Aku tidak tahu apa alasannya, tapi sepertinya sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi.

“Besok gue mau liburan sama teman gue.” Perkataan Eiji menggema. Kepalanya tertunduk, menyembunyikan wajahnya. “Tiga hari. Untuk sementara kita nggak bisa main bareng lagi.”

Aku termenung. Mungkinkah itu alasannya menahanku pulang ke rumah, karena dia akan liburan?

“Bagus dong. Kenapa lo sedih?”

Eiji langsung mendongak, menatapku dengan kecewa. “Lo nggak sedih pisah sama gue?”

Aku mengedipkan mata. “Cuma tiga hari, kan?”

Eiji kembali menunduk, tangannya masih sibuk mengeringkan Nyan. “Tiga hari tanpa lo rasanya bakal sepi, Ra. Semua yang gue lakuin bareng lo rasanya menyenangkan. Lo nggak berusaha membicarakan banyak hal, lo tetap mau melakukan banyak hal bareng gue walaupun gue nggak banyak bicara. Rasanya nyaman.”

Aku menelan ludah. Apa ini? Udara di sekitarku memanas. Detak jantungku menjadi berpacu cepat.

“Gue juga merasa gitu. Tapi lo juga perlu nikmatin liburan sama teman-teman lo. Setelah lo balik, kita main bareng lagi. Kita punya banyak watch list, kan?” Aku tertawa kecil. “Gue bahkan nggak nyangka lo punya teman.”

Eiji mengangguk. Untuk pertama kalinya aku melihat sisi Eiji yang seperti ini. Dia terlihat menggemaskan. Aku harap dia kembali tenang dan menikmati liburannya.

Walaupun aku merasa agak tidak rela jauh dari Eiji.

≽^⩊^≼

Hands Off My Nyan!✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang