salebaud

112 12 3
                                        

A/N : ⚠️This chapter penuh dengan kekerasan yang ga boleh ditiru⚠️

And jangan lupa vote dan commennya yaaw!!!

----------------------------------------

Alesya sedang berdiri gelisah dibalik pohon besar dekat pintu gerbang Akademi kesatria dan penyihir, matanya menelisik kearah penjaga gerbang yang terlihat lebih mirip seperti para penyihir itu.

"Oh shoot!.. gimana bisa ngelewatin gerbangnya coba? Kalau tadi prajurit gampang tinggal di tebas, nah ini penyihir.. gimana coba ngelawannya.. sialan!" Ucap Alesya frustasi

Hingga netranya mendelik tajam menatap seorang pria dengan ciri-ciri yang sama seperti Rainy katakan. Dengan santai pria tersebut berjalan mendekat kearah para penjaga, menepuk pundak keduanya, lalu seketika ada cahaya hitam mengitari kedua penjaga gerbang, dan seketika mata keduanya memutih lalu mereka kehilangan kesadaran.

"Lah anjir.. semudah itu?" Cicitnya Alesya terkejut.

Gadis beriris Ruby itu memerhatikan pergerakan sang target yang kini terlihat tengah menggumamkan mantra yang seketika sebuah asap gelap mengelilingi penyihir tersebut dan langsung hilang seperkian detik.

Alesya menyiritkan dahinya kebingungan. Mantra apakah yang penyihir ilmu hitam itu gumamkan? Mengapa pria aneh itu terlihat cukup bangga setelah menggunakan mantra tersebut?

"Dah la bodo amat. Pokoknya langsung cekok in racun terus hancurin tongkat sihirnya, oh atau hancurin tongkatnya dulu ya baru kasih racun? Lah gimana? Yaudah Pokoknya gitu deh.." Gumam Alesya sambil menggaruk kepalanya yang sudah pusing.

Gadis itu pun langsung keluar dari balik pohon tempatnya tadi bersembunyi, dengan kecepatan kilat ia berlari sambil meraih pedang silver kesayangannya.

"Rasakan ini penyihir ilmu hitam sialan!" Ucapnya.

Sringg..

Srakk..

Taakk!

Dan benar saja dengan sekejap mata tongkat penyihir ilmu hitam itu langsung terbelah menjadi dua bagian dengan potongan yang sangat rapih menyerong. 

Penyihir ilmu hitam tersebut terlihat cukup terkejut dan langsung mengumpat kesal. Wajah marahnya sangat ketara, bahkan pandangannya seolah-olah ia ingin membunuh Alesya saat itu juga.

"DASAR SIALAN!!! SIAPA KAU?!!!" Teriaknya

"Ck! Jangan berteriak paman! Aku tidak suka keributan! So.. mari kita selesaikan dengan cepat dan tenang.. oke?" Ucapnya Alesya santai sambil kembali ingin mengayunkan pedangnya kearah penyihir ilmu hitam tersebut. 

"KURANG AJAR!!" Teriak penyihir ilmu hitam itu, lalu ia segera berlari menghindari serangan dari Alesya.

"Ck! Oh Come on! Tidak perlu takut paman! Serangan yang barusan hanya serangan melumpuhkan.. tidak akan membelah tubuh paman seperti serangan sebelumnya.." Ucap Alesya santai

Peria paruh baya itu terlihat pucat dan kaku, pasalnya orang yang bisa mengendalikan pedangnya untuk melumpuhkan atau membunuh hanyalah para sword master yang sudah diakui dikerajaan atau orang yang akan segera menjadi seorang sword master.

Penyihir ilmu hitam tersebut langsung keringat dingin saat membayangkan sword master yang pernah ia temui dan berhasil membelah tubuh guru ilmu hitamnya didepan matanya.

"K-kau.. sword master?" Ucapnya kaku.

"Siapa? Aku? Tidak kok.. aku bahkan baru belajar ilmu pedang.. tapi.. benar sih.. aku memang langsung belajar dengan seorang sword master.. oh ralat.. dua orang lebih tepat.. memangnya kenapa paman?" Ucap Alesya yang sedikit bersemangat karena membahas hal yang ia minati.

The Three Figuran Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang