Aku terburu-buru menuruni udakan tangga, dan mataku bertatapan dengan mata papa. Aku mengamati punggung pria yang saat ini tengah di prototi oleh papa.
"Loh, Dirga?" Aku menghilang nafas dengan berat, rasanya sedikit kecewa karena bukan Raga yang datang.
Ya itu bukan salah Dirga, memang akunya saja yang terlalu berharap.
"Hai, Mit!" sapanya yang kurespon dengan anggukan.
Tak lama Mama datang menyuguhkan minum dan cemilan. "Jadi dia, Kak?" Aku mengernyit bingung, menatap papa dengan horor. Jangan aneh-aneh pah, dia ini orang lain. Orang lain kok ke rumah, si?
"Cemilan datang," ucap mama, membuyarkan ketegangan di antara kami. Lalu ikut bergabung.
"Maksudnya papa?" Daripada bingung terus menerus lebih baik aku tanya langsung kan?
"Dia yang semalam bikin kakak nangis?" tanya papa, terdengar sedikit mendesak, "dia bilang semalem kalian abis keluar bareng, bener kan Kak?"
Anjay, bisa-bisanya kepikiran sampe sana. Lagian ini juga ngapain Dirga pakai ke rumah ku segala!
"Bukan, Pah!" Aku menggeleng dengan panik, benar-benar takut papa akan macam-macam pada orang yang tidak bersalah.
"Cuma cowok berengsek yang bikin cewek nangis, berani-beraninya kamu bikin putri kesayangan saya nangis! Sampai dia juga membela kamu!"
Aku dan mama terkesiap ketika papa mencengkram jaket yang dikenakan Dirga, tapi calon korban terlihat sangat santai di tempatnya.
Mama mendekati papa dan langsung menciut ketika ditatap sangar oleh papa, kami paham betul bahwa saat ini beliau sedang emosi dan tidak ada dari kami yang berani.
Mama kembali menghampiriku dan menggenggam kedua tanganku, aku menatap Dirga berharap ia melirikku. Tapi ia malah diam saja, mengapa ia tidak membela diri?
"Pah, udah ah, jangan kayak gitu. Belum tentu Dirga yang nangisin Mita, iya kan, Nak?" Mama mencoba untuk bernegosiasi dengan papa, namun nahas beliau malah dihiraukan.
"Bisa saya jelaskan dulu, Om?" tanya Dirga, "setelahnya Om boleh menghajar saya."
Ini Dirga nyari mati banget, sih! Kenapa harus nantang gitu! Ini aku kenapa jadi khawatir gini coba? Jelas khawatirlah, kan bahaya kalau dirinya sampai babak belur sama papah.
Kulihat papa memberi kode dan beliau melangkah ke arah ruang kerjanya, sedangkan Dirga mengikuti dari belakang. Jadi apa yang sebenarnya ingin dijelaskan, kenapa aku tidak diajak?
"Dir!" Aku memanggilnya dengan panik, berharap agar pria itu mendengarkanku.
Tapi ini sangat menyebalkan, aku diabaikan! "Jangan kesel gitu lah, Kak, biar dulu papa sama Dirga bicara," ucap Mama ketika aku hendak menyusul mereka.
"Wajar papa bersikap begitu, karena papa khawatir sama kakak. Belakangan ini kakak kelihatan murung, papa dan mama kepikiran sampai gak tidur. Jadi biarin dulu mereka dulu ya," sambung Mama seraya membelai suraiku.
Aku mengganggu dan menatap nanar pintu kerja ruangan papa. Kuharap tidak ada hal yang tidak diinginkan terjadi.
______
Aku segera menyeret Dirga ke halaman belakang begitu keduanya keluar dari ruangan papa, lalu mengamatinya dari atas sampai bawah. Syukurlah tidak ada bagian yang lecet, bahkan ketika aku menyeretnya ia tidak kesakitan. Huft, bikin khawatir saja!
"Ngapain sih lo pake acara ke sini segala?" protesku, berkacak pinggang.
"Terus apa yang yang lo omongin ke papa?"
"Kenapa kalian lama banget?"
"Kenapa papah keluar dengan muka lesu?"
"Terus kenapa lo keluar nggak lecet sedikitpun?"
Aku melontarkan banyak pertanyaan, cukup heran dengan pria yang ada di hadapanku saat ini. Bagaimana bisa ia membuat papa tenang tanpa babak belur, aku sangat ingat ketika Raga pertama kali main ke rumahku sepulang dari ospek kampus, dan ia dipukul habis-habisan oleh papa. Tapi kali ini? Justru ia keluar bersama papa yang terlihat lesu sekali. Jinjja?
"Mau balikin tas lo yang masih nyantol di badan gue semalem, tapi tadi udah gue kasihin ke nyokap Lo," jawabnya yang sungguh-sungguh tidak memuaskan. Bukan itu jawaban yang kuinginkan!
"Jawab semua pertanyaan gue!" Aku kembali mencacarnya.
"Gue nggak ada bilang yang macam-macam sama bokap lo kalau itu yang lo takutin. Kalau lo bingung kenapa bokap lo mukanya tiba-tiba lesu gitu, kenapa nggak ditanya langsung aja? Kalau gue keluar gak lecet-lecet harusnya lo bersyukur dong, emang gua keluar harus babak belur?" Aghjkk, menyebalkan sekali pria ini.
Aku menatapnya dengan nafas ngos-ngosan, menahan amarahku.
"Udah kan?" tanyanya yang tidak ku gubris sama sekali.
"Kalau gitu gue pamit pulang dulu ya," sambungnya kalau membelai rambutku.
Aku termenung ketika ia melewatkanku, lalu aku mengikutinya yang saat ini sudah berada di ruang tamu. Ia berpamitan dengan papa yang kini tersenyum senang. Astaga, aku tidak paham dengan situasi ini!
"Hati-hati, ya," ucap papa seraya menepuk pundak Dirga.
Lalu ia bersalaman dengan Mama yang merangkulnya, ini aku ketinggalan sesuatu atau bagaimana? Mengapa mereka terlihat seperti keluarga?
Aku semakin menganga melihatnya yang mengerlingkan mata lalu berbalik keluar dari rumahku. "Kak, ayo antar nak Dirga!" Kulihat Mama melambai, menyuruhku untuk mendekat.
Aku mengantar Dirga pulang, ia menghidupkan mesin motornya dan melaju meninggalkan pekarangan rumahku. Aku segera berbalik dan menatap horor kedua orang tuaku.
"Kalian kenapa begitu, sih?" tanyaku dengan kesal, lalu aku masuk dengan menghentakkan kakiku. Kesal.
To be continued...
ANNYEONG!!!
HIHI, MIANHAE YAK AKU BARU SEMPET UP LAGI, CUKUP SIBUK SOALNYA!!!
DOAIN AKU SEHAT TERUS YAK, BIAR BISA RUTIN UPDATE-NYA!
SEE YOUU!

KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Cinta Dan Rahasia
JugendliteraturBagaimana rasanya ketika dalam 1 hari pacarmu tiba-tiba berubah dan memilih wanita lain? Ku akui diriku salah saat mengatasi rasa bosan ketika menjalani sebuah hubungan. Tapi dirinya lebih salah, karena meninggalkanku demi orang baru. Padahal aku ti...