"UWAAAAA!"
Manusia yang ternyata laki-laki itu menutup telinganya merasa berdengung mendengar teriakan histeris dari mulut Finola.
"Syuttt!"
"Eh?" Teriakan Finola berhenti. "L-lo siapa? K-kenapa bisa ada di kamar gue hah!?"
Finola berdiri mengambil sapu untuk pertahanan dirinya. Jaga-jaga kalau laki-laki itu berbuat macam-macam padanya. Lagi pula, kenapa dan bagaimana dia bisa masuk ke rumah bahkan sampai kamarnya? Bukankah Finola sudah menyuruh Fino untuk mengunci pintu depan maupun pintu belakang?
Tanpa menghiraukan pertanyaan Finola, laki-laki itu berbaring serta menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Eh woy! Bukannya pergi malah tidur lagi? Orang gila lo ya?!" bentak Finola.
Namun, ada yang aneh di sini. Laki-laki itu memiliki wajah yang tampan. Masa iya dengan tampang seperti itu disebut orang gila? Tapi kan bisa aja, gila itu tidak memandang tampang.
"Lo mau pergi atau mau gue pukul hah?!"
"Berisik banget. Gue numpang tidur di sini semalam," jawab laki-laki itu.
"Gak ada ya, lo harus pergi sekarang juga!" teriak Finola. Kesabarannya sudah habis menghadapi laki-laki aneh ini.
Tidak ada jawaban lagi, Finola sudah kesal setengah mati. Dengan gagang sapu sebagai senjata, ia berancang-ancang untuk memukul. Sebelum gagang sapu mengenai tubuh laki-laki yang tengah tertidur itu, tiba-tiba tangan besar tersebut menahannya.
Bukan hanya Finola yang habis kesabaran, laki-laki itu pun sama halnya. Ia menarik gagang sapu tersebut membuat Finola jatuh menimpa badannya. Jangan tanyakan bagaimana reaksi Finola, terkejut dan panik yang dirasakannya.
"Lo yang bawa gue masuk ke sini. Itu berarti lo ngebiarin gue tidur di sini. Lagi pula gue di sini udah dua hari," tekan laki-laki itu.
"D-dua hari?" tanya Finola gagap. Matanya membulat begitu ada sesuatu yang melingkari pinggangnya. Bukan tangan, melainkan benda panjang seperti buntut berbulu halus. Finola dapat dengan jelas merasakannya dikarenakan piyama tersebut tersingkap memperlihatkan pinggang putihnya.
Kepala Finola menoleh ke belakang melihat benda apa yang melingkari pinggangnya, dan lagi-lagi berteriak histeris. Itu adalah ekor.
"AAAAAA! APA ITU?!"
Laki-laki itu memutar bola matanya malas. Dalam hati dirinya mendumel kesal, kenapa harus bertemu dengan gadis berisik ini? Lagi pula apa ini hidup tersialnya? Sudah dikutuk jadi kucing tanpa sebab dan malah bertemu gadis ini.
Tanpa basa-basi, laki-laki itu mendorong tubuh Finola dari atas tubuhnya hingga terjatuh ke lantai.
"Bangsat!" jerit Finola kesakitan akibat didorong dan membuat bokongnya sakit.
Mata laki-laki itu menyorot tajam ke arah Finola. Entah kenapa tatapan tersebut membuat Finola bergidik ngeri. Ia tak tahu harus berbuat apa jika manusia aneh yang ada di hadapannya marah.
Dering ponsel berbunyi memecah keheningan suasana malam. Dengan secepat kilat Finola mengambil ponsel yang berada di atas meja belajarnya. Namun sayang, ponsel tersebut sudah disambar oleh laki-laki itu.
Melihat nama yang tertera di layar ponsel, laki-laki itu tahu kalau yang menghubungi Finola adalah adiknya. Dia menyeringai seraya melirik ke arah Finola yang sedang ketakutan. Jarinya menekan tombol merah untuk menolak panggilan.
Laki-laki itu berdiri mendekati Finola, untungnya tidak telanjang dan hanya mengenakan celana panjang hitam. Ia memegang kuat tangan gadis itu serta mengusap pipi halus tersebut.

KAMU SEDANG MEMBACA
CAT CURSE
FantasíaTerkejut melihat masa lalu kucing yang ia temukan di bawah pohon rambutan, Finola bingung, kenapa kucing tersebut memiliki masa lalu begitu kelam dan menyeramkan? ~o~ Finola Fay memiliki kelebihan yang jarang dimiliki orang lain. Mungkin hanya diri...