11. Cat Ears and Tail

136 15 5
                                    

Malam ini Finola sudah berada di rumah. Siang tadi dokter mengatakan kalau hari ini kondisi Finola membaik dan sudah diperbolehkan pulang. Bagaimana dengan Neo? Tepat saat pukul 12 siang, Neo berubah menjadi kucing dan berlari keluar melalui jendela.

Kini Finola berbaring di kasur kesayangannya. Baru saja menutup mata, suara kucing membuatnya terbangun dan duduk di tepi ranjang. Kucing itu menatapnya di lantai.

"Apa?" tanya Finola.

Tanpa menjawab, hewan berbulu putih itu naik ke pangkuan Finola. Dengan kode ingin dielus, Finola pun mengelusnya dengan senang hati. Kucing ini sangat lucu, bulunya pun begitu lembut. Ia penasaran bagaimana bisa Neo dikutuk menjadi kucing selucu ini.

Tok tok tok

"Finola," panggi Nora dari luar kamar.

"Masuk aja, Ma," sahut Finola.

Nora masuk membawa makanan serta beberapa camilan dan segelas susu. Ia mengernyit heran melihat Finola mengelus seekor kucing.

"Sejak kapan kamu pelihara kucing?" tanya Nora heran.

Finola tampak berpikir. "Sejak mama sama papa ke Kalimantan, mungkin."

"Dulu mama nawarin kamu pelihara kucing malah nolak. Bilangnya repot harus ngasih makanlah, mandiinlah, inilah, itulah."

"Itu kan dulu, Ma." Finola terkekeh.

Nora tersenyum mengusap kucing di pangkuan Finola. Mungkin putrinya ini merasa kesepian sehingga lebih memilih pelihara kucing, sama seperti Fino yang memelihara hamster.

Jika diingat kembali, setiap Nora pulang ke rumah dari rumah sakit, ia tak pernah sekalipun melihat kucing ini.

"Selama kamu sakit, kucingnya di mana?" tanya Nora penasaran.

"Ada di Elisa, Ma," jawab Finola berbohong. Padahal sepertinya kucing atau yang bisa ia sebut laki-laki brengsek, Neo, pasti sering berkeliaran di luar.

"Oh, ya udah. Kamu makan dulu nih, mama sama papa mau keluar sebentar."

"Makasih makanannya, Ma."

Dirasa Nora sudah hilang dari pandangan, makanan yang berada di atas meja belajarnya ia makan. Tak lupa memberi sepotong ayam pada kucing yang sepertinya kelaparan itu.

~0~

Pukul 12 malam tiba. Kesunyian malam diiringi suara detik jam bersamaan dengan cahaya mengitari hewan berbulu putih di atas ranjang. Finola tidak tidur karena belum mengantuk, pandangannya tak lepas dari perubahan wujud si kucing menjadi manusia.

Rasanya hilang akal ketika sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dengan ajaibnya cerita dongeng tersebut menjadi nyata. Apa mungkin cerita pangeran kodok akan benar-benar ada di dunia ini?

"Kenapa belum tidur?" Suara berat khas dari seorang Neo memecah keheningan.

"Gak ngantuk," jawab Finola singkat.

"Gak ngantuk atau lagi nunggu gue berubah?" Neo tersenyum jahil membuat Finola mendengus jengah.

"PD tingkat dewa!" sungut Finola sebal. Tanpa mau berdebat, ia memilih untuk tidur walaupun kantuk belum melanda.

"Bokap gue sakit."

Finola yang menghadap ke arah tembok pun berbalik menatap laki-laki menampilkan wajah murung. Mungkin Neo butuh pendengar dan ia siap menjadi pendengar semua cerita Neo. Toh dirinya belum merasa ngantuk.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 08, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

CAT CURSETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang