3. Finola's Plan

131 25 0
                                    

Dinginnya ruangan ber-AC tak membuat Fino kedinginan, melainkan sebaliknya. Suasana sunyi dan mencekam ditatap tajam oleh kakaknya. Kini mereka berada di ruang tamu, Finola membawanya untuk mengintrogasi adiknya ini.

"Mabok lo!" tekan Finola.

Fino berlutut di hadapan sang kakak. "Kak, gue minta maaf. Iya gue tahu gue salah, harusnya gue gak ke tempat itu. Tapi gue dipaksa. Tolong jangan aduin ini ke mama papa. Gue mohon, Kak."

Melihat Fino begitu putus asa, Finola jadi tak tega terus memarahinya. Jika masalah ini terdengar sampai ke telinga orang tuanya, bisa habis dimarahi bahkan dihukum. Lagi pula Fino tidak sepenuhnya salah, ini karena paksaan dan Fino pun memang benar terpaksa.

Dari kemampuannya, Finola melihat Fino dipaksa oleh seorang gadis yang diketahui kekasih adiknya ini pergi ke club. Bukan hanya itu, ternyata Fino juga dicekoki minuman beralkohol oleh teman-teman kekasihnya. Memang kurang ajar. Walaupun begitu Fino juga tetap saja menuruti kekasihnya itu. Yang salah pun tetap salah dan tidak dapat dibenarkan.

Finola memijat keningnya terasa pusing. Sudah masalah semalam yang menimpanya, kini ditambah masalah adiknya. Namu, seketika ia mengingat sesuatu.

"Semalam yang telepon gue itu Azka, 'kan?" tanya Finola karena ia tahu Azka, temannya Fino, menghubunginya menggunakan ponsel Fino.

"Iya, tapi katanya lo reject. Azka nyuruh gue nginep di rumanya semalam karena kondisi gue yang lagi mabuk," cicit Fino.

Finola mengembuskan napasnya. Bukan dirinya yang menolak panggilan Fino, melainkan laki-laki kurang ajar itu. "Ya udah sana mandi, nanti gue pesan makanan."

"Lo gak akan bilang soal ini ke mama, papa, 'kan?" tanya Fino cemberut.

"Nggak," jawab Finola membuat Fino senang. "Tapi ada syaratnya."

"Apa?"

Finola mendekati telinga adiknya itu serta membisikkan sesuatu yang membuat Fino mengangguk setuju. Kemudia Fino pun pergi ke kamarnya untuk mandi dan Finola memesan makanan untuk sarapan adiknya.

Miaaaw

Mata Finola terbelalak mendengar suara kucing yang tak asing ditelinganya. Saat kepalanya menengok ke arah belakang, lebih tepatnya ke arah pintu, Finola terjatuh dari sofa. Kucing berbulu putih itu kembali, itu artinya kucing yang berubah jadi seorang laki-laki semalam pun benar-benar kembali.

Mata biru milik kucing itu menatap Finola. Namun, tatapan tersebut mengingatkan Finola pada laki-laki aneh itu. Jadi, apa artinya ia mulai mempercayai cerita Elisa? Kutukan kucing itu benar adanya? Kini ia tampak merasa sudah gila.

"Kucing gila!"

~0~

Sementara itu di tempat lain, Elisa berjalan-jalan sendiri di taman dekat rumah Finola. Masih agak sebal dengan temannya itu karena telah meninggalkannya.

Bruk

Kedua bahu bertabrakan dan Elisa langsung tersadar dari lamunannya. Ia melamun karena cerita Finola. Sebenarnya apa yang ia sampaikan pada temannya itu benar adanya. Ia pernah mendengar kutukan kucing tersebut dua tahun lalu dan kini Elisa pun tak tahu apa yang terjadi setelahnya.

"Maaf, Kak. Saya ngelamun tadi. Kakak gapapa?" tanya Elisa.

"Gapapa," jawab laki-laki berhoodie hitam itu.

"Eh, Kak Aries ya? Ya ampun, sorry banget ya tadi gue gak lihat jalan hehe."

Laki-laki itu bernama Aries Raphael. Kakak tingkat semester tujuh di kampus yang sama dengan Elisa dan Finola yang baru saja semester empat. Sangat kebetulan bertemu di taman. Apalagi Elisa ini sebenarnya penggemar berat Aries saat dirinya masih menjadi mahasiswa baru.

CAT CURSETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang