Setiap orang selalu berdoa agar memiliki anak yang sholeh dan sholehah. Tetapi, tahukah bahwa anak yang sholeh dan sholehah tidak lahir dari orang tua yang bermalas-malasan?
🌷🌷🌷
Abram dan Ayu berjalan begitu cepat menyisiri seluruh rumah. Mereka tampak begitu cemas.
"Hafshah?" teriak Ayu.
Beberapa waktu lalu Abram dan Ayu mengantarkan Shafiyyah dan Syafiq yang diajak oleh Arsel dan Faruq jalan-jalan, meninggalkan Hafshah yang bermain sendiri di ruang keluarga dan Kayyisa yang tertidur terlelap di kasur lantai.
Tetapi begitu Ayu kembali ke ruang keluarga, yang nampak di penglihatannya hanya Kayyisa yang perlahan mulai membuka mata dan bangun dari tidurnya.
"Bi, Hafshah kok nggak ada?" teriak Ayu ikut mengangetkan Abram.
Ayu berjalan begitu cepat menuju lantai dua setelah ia dan Abram sudah mencari di seluruh ruangan bahkan bilik kecil setiap sudut, namun tidak mendapati keberadaan gadis kecil itu.
"Udah Ummi duduk di situ dulu aja sama Kayyisa, biar Abi yang nyari," cegar Abram setelah keduanya naik ke lantai dua.
"Nggah ah, Ummi mau ikut nyari juga," tolak Ayu.
"Ummi, kasihan itu Kayyisa goyang-goyang terus Ummi gendong begitu, capek juga."
Setelah melihat wajah Kayyisa yang juga menatapnya polos membuat Ayu mau tidak mau menuruti perkataan Abram. "Yaudah," ujarnya kemudian menyerah.
Jika sampai terjadi sesuatu kepada Hafshah, Ayu tidak yakin bisa memaafkan dirinya sendiri yang teledor. Apalagi membayangkan marahnya Arvin nantinya bagaimana.
Abram membuka satu per satu ruangan, mulai dari kamar mandi sampai kamar Arvin yang kosong. Sebenarnya tidak mungkin Hafshah bisa membuka ruangan yang pintunya tertutup tersebut mengingat knop pintu jauh lebih tinggi dari badan cucunya itu.
Tetapi karena kekalutan batinnya, juga memikirkan segala kemungkinan bisa terjadi, Abram lebih memilih mengecek semua ruangan di sana.
Abram bahkan sampai menunduk melihat kolong kasur dan sofa, tapi sama sekali tidak ada keberadaan Hafshah. Jangankan keberadaan gadis kecil itu, suaranya saja ia sama sekali tidak mendengarnya.
"Hafshah?" panggil Abram mencari.
Tidak mungkin Hafshah bisa keluar rumah, Abram meyakini cucunya itu ada di dalam rumah. Tiba-tiba ia ingin menyalahkan dirinya sendiri yang mendesain rumah begitu besar sehingga membuatnya kalang kabut saat ini.
"Astaghfirullah," batin Abram berusaha menyadarkan diri sendiri.
Baru saja Abram hendak membuka kembali kamar Arvin yang sudah ia cek tiga kali—karena berpikir Hafshah lebih tahu letak kamar Arvin dan Haifa—tetapi Abram mengurungkan niatnya ketika melihat kamar Arvan yang seperti tidak tertutup.
Abram mendorong kamar Arvan dengan pelan. Pintu itu memang tertutup tetapi tidak rapat, hanya pintunya saja yang menempel.
"Kak Arvan?" panggil Abram pelan. Dari depan pintu, ia bisa melihat kaki Arvan yang sepertinya tengah tertidur.
Abram masuk lebih jauh ke dalam, dan di sana ada Hafshah yang tertidur tengkurap di dada Arvan, sementara Arvan memang benar tertidur dengan mulut sedikit terbuka.
"Hahh..." Abram menghela napas lega. Mengesampingkan memikirkan bagaimana cara Hafshah bisa naik tangga ke lantai dua, atau kemungkinan Arvan yang membuatnya dan Ayu kalang kabut mencari Hafshah, setidaknya untuk saat ini cucunya itu dalam kondisi yang aman.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEQUEL HAIFA ON PROCESS
SpiritualitéADA SEQUEL HAIFA BACA YUK! [TELAH TERSEDIA DI GRAMEDIA DAN TOKO BUKU LAINNYA] BLURB VERSI WATTPAD Di balik buku yang menutupi sebagian wajahnya, Haifa mengamati dalam diam setiap tingkah laku Arvin. Bagaimana laki-laki itu berbicara dan tertawa, sem...
