Sebelumnya maaf banget baru bisa update, karena kemarin emang harus fokus UAS dulu, habis itu langsung lanjut ramadhan. Terus ada sesuatu yang harus diurus juga, jadi maaf karena nggak bisa upate.
Karena udah lama nggak nulis jadi kaku banget, part ini benar-benar perjuangan ngetiknya. Dan aku ngaku kalau emang lebih pendek dari part-part sebelumnya, karena emang aku paksain buat cepet publish. Mohon dimaklumi ya :"))
._.
Tempatkan perasaan pada semestinya, jangan berlebihan mencintai makhluk-Nya.
***
"Kak Arvin, Kak Haifa, aku juga balik duluan ya? Udah dijemput di depan," ucap Nazla. Ia beranjak dari duduknya setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Sedangkan Kanzia sudah pulang terlebih dahulu dua puluh menit yang lalu karena ada urusan lain.
"Loh kok balik juga, kenapa nggak sekalian barengan aja?" cegah Arvin.
"Hehehe." Nazla hanya bisa cengengesan. Semenjak kepergian Kanzia, ia harus bertahan berada di situasi yang menurutnya cukup awkward. Bagaimanapun juga Arvin dan Haifa merupakan kakak tingkatnya yang tidak bisa ia ajak bicara secara asal. Nazla bukan seperti Kanzia yang mudah akrab dan berani menceletuk sesuka hati.
"Yaudah, hati-hati."
"Iya Kak, terima kasih traktirannya." Nazla tersenyum lebar sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan Arvin dan Haifa berdua. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Arvin menatap kepergian Nazla sekilas, kemudian mengalihkan pandangan ke arah Haifa yang kebetulan juga sedang menatapnya. Hal tersebut membuat keduanya salah tingkah dan langsung membuang tatapan ke segala arah.
"Emm.." Haifa menggumam ragu.
Arvin menolehkan kepalanya ke samping, hanya melirik Haifa sekilas, setelahnya kembali menatap ke depan. Tetapi telinganya mencoba fokus menanti ucapan perempuan itu.
"Aku juga langsung pulang kalau gitu," ucap Haifa.
"Yaudah." Arvin menyusul Haifa berdiri.
Haifa gelagapan. "Loh mau kemana?"
"Mau pulang 'kan?" tanya Arvin bingung.
"Pulang sendiri-sendiri aja," cicit Haifa.
"Hah?" Arvin mencoba memahami maksud perkataan Haifa. "Terus kamu naik apa?"
"Apa aja."
"Apa aja apa?"
"Yah apa aja pokoknya."
Arvin menghela napas. "Sama aku aja."
Haifa menggelengkan kepalanya pelan.
"Nanti kamu di belakang deh," rayu Arvin. Ia mulai berani menatap Haifa lama, meskipun yang ditatap sedari tadi tidak menatapnya sama sekali. "Lagipula kalau kamu mau naik ojol justru berduaan sama abangnya."
Haifa mendongakkan kepalanya melirik Arvin, kemudian langsung menunduk sembari memilin jari-jari tangannya.
"Gimana?"
"Yaudah," jawab Haifa malu-malu.
Arvin terkekeh melihat reaksi Haifa yang sedari tadi tampak salah tingkah. "Yaudah apa?"
"Barengan."
"Iya, iya barengan kamu sama aku."
Arvin memilih berdiri terlebih dahulu sembari menunggu Haifa membereskan catatannya yang sempat di keluarkan. Entah kenapa ia ingin tersenyum hanya dengan menatap perempuan itu yang tampak cekatan menata barang-barangnya di dalam tas.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEQUEL HAIFA ON PROCESS
SpiritualADA SEQUEL HAIFA BACA YUK! [TELAH TERSEDIA DI GRAMEDIA DAN TOKO BUKU LAINNYA] BLURB VERSI WATTPAD Di balik buku yang menutupi sebagian wajahnya, Haifa mengamati dalam diam setiap tingkah laku Arvin. Bagaimana laki-laki itu berbicara dan tertawa, sem...
