[50] ⚠️🔞

36.3K 467 97
                                        

Bab 50[Membaik]

Happy reading:)

_____________________________________

_______________________

Malam harinya Gio dan Rania tengah makan malam bersama di ruang makan yang bisa memuat banyak orang itu.

"Kamu udah nerima aku lagi, Ra?"

Rania yang ingin menyuap nasi ke mulutnya terhenti ketika mendengar Gio bertanya. Ia menatap Gio yang juga menatapnya.

"Lagi makan gak boleh ngobrol," ucapnya datar.

Gio seketika menunduk, "iya, maaf ya."

Suasana hening kembali, hanya terdengar suara dentingan alat makan saja. Gio sedikit terburu-buru menghabiskan makanannya agar ia bisa mengobrol dengan Rania.

Suapan terakhir dimasukkan ke mulut Gio lalu mengambil air untuk di minumnya.

"Udah makannya, boleh ngobrol?"

"Gak, mau tidur."

"Kamu masih marah sama aku? Sampe kapan?"

"Gak tau."

"Aku mau ngomongin tentang postingan Nancy."

Rania yang sedari tadi enggan menatap Gio kini tertarik untuk menatapnya karena mendengar ucapan yang Gio bilang barusan.

"Ayo ke ruang TV."

Gio tersenyum senang kemudian berjalan mengikuti Rania yang berjalan duluan di depannya.

Setelah sampai Rania duduk di sofa dan Gio duduk di sebelahnya, ada jarak yang cukup jauh. Gio seperti takut untuk mendekati Rania lagi.

"Aku minta maaf."

"Kenapa minta maaf?"

"Aku udah ngelakuin itu sama Nancy," Gio berujar sangat pelan.

Rania mengulum senyum, sebenarnya ia sudah tau fakta dibalik postingan itu. Namun ia akan mengerjai Gio dulu sebelum mengatakan yang sebenarnya.

"Kamu jahat banget kak, aku sakit hati."

"Maaf Ra, aku gak tau dia bakal jebak aku."

"Tetep aja kamu udah lakuin itu ke dia. Aku benci kamu kak."

Deg

Gio mengangkat kepalanya ketika mendengar ucapan terakhir Rania. Pertahanannya luntur, ia tak kuat menahan tangisannya lagi. Gio mendekati Rania dan berlutut di depan gadis itu.

"Ra, please jangan benci aku. Jangan tinggalin aku lagi, walaupun aku udah kotor tapi aku masih tetep suka sama kamu, selalu."

Rania hanya menatap Gio yang menangis sesenggukan. Bahkan suaranya pun jadi tidak jelas. Rania heran kenapa Gio sangat cengeng sekali.

Air mata sudah banyak membasahi celana piyama-nya, karena kasihan melihat Gio menangis sesenggukan sampai batuk-batuk, ia mengelus rambut Gio lembut.

Possessive Gio [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang