Chapter 1

30 13 19
                                        

19 tahun kemudian

Dengan langkah ringan dan wajah berbinar, Puteri Shinta berlari mendekati Paduka Prabu yang tengah fokus merapal isi dokumen kerajaan. Ia memilih duduk dengan anggun di samping Baginda, mengharapkan perhatian dari sang Prabu yang sibuk dengan tumpukan kertas dan segala urusan kerajaan. Ekspresi wajahnya mencerminkan keceriaan seorang anak yang haus akan sentuhan kasih sayang Ayahandanya.

“Ayahanda...” suara Puteri memperdengarkan rengekan lembut, bibirnya manyun, mencoba merayu hati sang Prabu.

Prabu Basudewa masih tenggelam dalam dunianya yang dipenuhi dengan tinta dan pena diiringi bersenandung pelan. Meskipun putrinya telah hadir, sang Raja tetap tidak tergoyahkan dari fokusnya. Puteri yang merasa tidak dihiraukan, memutuskan untuk memulai babak kedua rayuannya.

“Ayah, lihatlah Puterimu ini...” keluhnya merengek, memperlihatkan ekspresi manja. Tanpa mengangkat kepala, Prabu akhirnya memberikan perhatian yang ia minta. Senyum lembut melintas di wajahnya, dan sebuah kecupan lembut mendarat di kening Puteri.

“Baiklah, ada apa, putriku?” tanya Paduka Prabu dengan lembut, terhanyut dari kekakuan pekerjaannya. Wajah Puteri pun berubah menjadi ceria, namun seketika kembali muncul ekspresi cemberut ketika ia menyadari masalahnya.

“Tidak ada pakaian kebesaran untuk upacara di Astina, Ayahanda. Lemari pakaian Puteri sudah dikacaukan mencari, tetap tak ada yang pantas,” keluh Puteri dengan wajah sedih.

Prabu Basudewa tertawa lembut, lalu menjawab bijak, “Pasti ada yang cukup layak bagi Puteriku.” Meski sang Raja menggoda, Puteri tetap bersikeras.

“Sungguh tiada, Ayah. Puteri sudah mencari hingga kamar berantakan.”

“Baiklah, kalau begitu. Ayah akan sampaikan pada Permaisuri. Pasti beliau akan membantu Puteri,” ucap Prabu dengan lembut. Wajah Puteri kembali ceria, dan ia memeluk erat Ayahandanya, mengecup pipinya dengan penuh kebahagiaan.

Dengan langkah yang riang, Puteri meninggalkan ruangan. Prabu hanya tersenyum, menggeleng-geleng geli melihat tingkah laku putrinya walaupun meski telah menginjak usia 20 tahun, tetap mempertahankan sisi anak kecil di dalam dirinya. Suasana kehangatan dan keakraban di dalam istana terus bersemi, mengalir begitu alami seperti sungai kerajaan yang tak pernah surut.

*****

Kerajaan Astina, wilayah subur yang terhampar di bawah cakrawala kekuasaan Prabu Basudewa. Di dalam istana yang megah, suasana haru dan tegang saling berdansa di udara, diiringi langkah tegas Pangeran Wikanta.

“Bagaimana persiapannya?” desak Pangeran, suaranya tak bisa ditantang. Dayang-dayang yang hadir merapatkan diri, tak berani menatap mata sang pangeran yang memancarkan keberwibawaan luar biasa.

Meski Pangeran Wikanta bukanlah sosok jahat, aura ketegasannya selalu terasa. Keanggunan yang melekat padanya menciptakan daya paksa yang tak terelakkan. Jika ia menyadari, beliau adalah sosok yang ramah, tapi ketegasan bicaranya membuat siapa pun gemetar di kehadirannya. Pangeran sendiri tak jarang merasa bingung mengapa orang-orang begitu gentar padanya, sementara ia melihat dirinya sebagai individu yang sangat menyenangkan.

“P-persiapannya hampir selesai, Paduka,” jawab seorang dayang dengan gemetar. Pangeran mengangguk, memberi isyarat untuk melanjutkan.

“Pastikan semuanya sempurna. Hari ini amat penting bagi kerajaan kita,” titah Pangeran dengan keanggunan yang melekat pada setiap kata. Dayang itu membungkuk dalam, merasakan beban tugas yang menggantung di pundaknya. Pangeran melanjutkan perjalanannya dengan langkah mantap, meninggalkan jejak ketegasan di belakangnya.

Pangeran Wikanta, pewaris kedua takhta Astina, menciptakan bayangan kekuatan yang luar biasa. Meski lebih muda dari Putra Mahkota Darmaraksa, gelar sebagai yang terkuat dan paling dihormati tak terbantahkan. Karismanya membangun kisah tersendiri, bahkan sang ayahanda dan kakanda tunduk pada ketegasannya.

Di tengah kehebatannya, Pangeran Wikanta merasa kebingungan mengapa orang-orang takut padanya. Menurut pandangannya, ia hanyalah pribadi yang ramah dan bisa dipahami. Mungkin penampilan yang terlalu agung dan aura yang menyertainya membuat orang-orang melihatnya sebagai sosok yang sulit didekati.

Langkah Pangeran Wikanta terus melangkah membawa beban kepemimpinan dan pertanyaan tentang dirinya yang terus menggelitik di benaknya.

Pangeran Wikanta memasuki ruang tamu dengan langkah mantap, tanda sikapnya yang tak tergoyahkan. Di tengah ruangan yang bernuansa istana, Paduka Prabu Satyaraksa, Kakanda Pangeran Darmaraksa, dan Puteri Gayatri tengah duduk bersama dalam keheningan yang penuh makna. Wikanta—dengan sikap hormat yang khas—memberi salam pada para sesepuh, lalu duduk di samping kakaknya.

“Persiapan upacara sudah saya periksa, semuanya berjalan lancar,” ujar Pangeran Wikanta dengan sopan dan membawa berita baik. Sorot tajam Prabu Satyaraksa melintas, sebuah senyuman mengisyaratkan persetujuan atas laporan yang diberikan.

“Undangan untuk tamu kerajaan tetangga hampir selesai dikirim, tinggal beberapa lagi yang akan diberangkatkan esok,” lanjut Pangeran menjelaskan setiap langkah dengan penuh tanggung jawab. Prabu kembali mengangguk, mendengarkan dengan serius sambil sesekali bersenandung.

“Ayahanda tak perlu cemas jika urusan diserahkan pada kalian. Ayah bangga pada putra-putraku,” ucap Prabu dengan nada lembut, suara yang meresapi hati kedua putranya. Senyum haru melintas di wajah mereka, rasa bangga menciptakan atmosfer hangat di ruangan itu.

“Ternyata para pria menikmati waktu tanpa kehadiran Ratu,” celetuk Permaisuri Yuliana dengan dramatis saat memasuki ruangan. Senyum lembut menghiasi wajah para pria, yang seketika hidup dengan keceriaan melihat kedatangan Ratu mereka. Gelak tawa pun meletus memecah keheningan.

“Tentu, ini pembicaraan pria yang tak akan Ibu pahami,” candanya Pangeran Darmaraksa, memberikan komentar khasnya. Sebelum Permaisuri sempat menegur, Pangeran Wikanta sudah mendekat dan memeluknya dengan erat.

“Maaf ibu jika candaannya menyinggung perasaan Ibunda, Kami menyayangi Ibu. Terutama aku,” bisik Pangeran dengan suara lembut, mengungkapkan sisi perasaannya yang jarang terlihat. Permaisuri tersenyum, membelai rambut putranya. Inilah sisi Pangeran Wikanta yang hanya ditunjukkan pada orang-orang tertentu.

“Ibu juga menyayangimu, Nak,” sahut Permaisuri dengan penuh kasih lalu tertawa. Kecupan lembut mendarat di kening Pangeran sebelum pelukan mereka terlepas dan mereka duduk bersama.

Dalam suasana akrab itu, terlihat bahwa ikatan penuh cinta tetap hadir di antara mereka. Meski kerajaan dan tanggung jawab besar melekat pada nama mereka, namun esensi keluarga dan cinta tetap menjadi pondasi yang dijunjung tinggi oleh Astina dan Ayodya.

*****

Yuhuuu, akhirnya bisa update lagi nih!

Jangan lupa kasih vote dan komen ya, dan tambahin cerita ini di reading list kalian biar makin banyak yang baca

Share juga cerita ini ke temen-temen kalian yang suka genre cerita serupa, biar semakin banyak yang baca.

Jangan ragu buat kasih kritik dan saran yang membangun di ceritaku ya.

Nah, itu dulu ya.

Sampai jumpa di part selanjutnya, guys!

19 Januari 2024

Puteri ShintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang