bab 2 ✔️

11.4K 640 6
                                        

"eh iya, kan gw udah bangun, gw harusnya pencet tombol, 'kan?" Zidan bergumam pada dirinya sendiri, jemarinya langsung menekan tombol di samping ranjang.

TUT ... TUT ...

Tak lama kemudian, seorang dokter dengan jas putihnya dan seorang suster masuk. Zidan hanya diam terpaku, matanya mengerjap perlahan.

'huh, apa gw perlu pura pura hilang ingatan??' batin Zidan, matanya melirik ke arah mereka.
'iya deh, biar ngga ada yang curiga,' tekadnya dalam hati.

"em... maaf, saya kenapa bisa di rumah sakit, ya?" tanya Zidan, menatap mereka satu per satu, memasang ekspresi bingung.

dokter itu hanya menghela napas. "ternyata tuan muda hilang ingatan," ujarnya pelan sambil memeriksa infus di tangan Zidan.

"suster, tolong telepon keluarganya. beri tahu kalau tuan muda sudah siuman," perintah dokter itu pada suster di sebelahnya.

setelah pemeriksaan selesai mereka semua keluar

"tadi... dokternya bilang tuan muda kan?" Zidan menatap tangannya yang diinfus. "Berarti..." Zidan menunjukkan ekspresi terkejut, "berarti dia anak orang terhormat dong! anj*ng, kok gw ngga tau yah?" lanjutnya, ekspresinya campur aduk antara kaget dan kesal.

"tapi di novelnya juga ga ada keterangan dia ini anak keluarga apa, jadi yaudah lahh mending turu" Zidan menarik selimut sampai ke leher, mencari posisi paling nyaman, lalu memejamkan mata. Ia pun terlelap dengan nyenyak.

saat Zidan terlelap, pintu kamarnya terbuka perlahan. Masuklah seorang wanita tua dengan langkah hati-hati.

"Ah, Aden sedang tidur tohh ..." bisik wanita itu, lalu ia duduk di kursi, menunggu Zidan bangun.

Satu jam berlalu, Tirai jendela yang terbuka membuat Zidan terganggu oleh sinar matahari yang menembus jendela. matanya terasa berat, tapi ia dipaksa bangun oleh cahaya yang menusuk, jadi ia hanya memunggungi cahaya yang masuk.

"ugh... mnh... tolong, siapa pun, tutup tirai sialan itu..." Zidan bergumam tanpa sadar ada orang di dalam ruangan. wanita tua itu tersenyum kecil, Ia bangkit menjadalani perintanya, mendekati jendela, dan menutup tirai. Cahaya yang menyilaukan pun menghilang.

'hmn ... kok punggung gw gak terasa panas lagi, ya?' batin Zidan, bingung.

wanita tua itu kembali duduk, tapi perutnya terasa tidak nyaman. Ia bergegas masuk ke kamar mandi, meninggalkan Zidan sendirian.

Zidan memberanikan diri.
'Duh, dalam hitungan ketiga, gw harus bangun. Satu... dua... tiga!' Ia langsung bangkit dan duduk, "Ee halo? Ada orang?" teriak Zidan, matanya menjelajahi ruangan.

Dari dalam kamar mandi, wanita tua itu mendengar suara Zidan. Ia bergegas menyelesaikan urusannya, tapi saat akan keluar, ia terpeleset karena lantai licin.

BRUK

Zidan mendengar suara itu dan mencoba mendekati pintu kamar mandi.
'duh ... takutnya itu setan, anj*r' batin Zidan ketakutan. namun ia malah terus mendekatinya.
'nggak mungkin ada setan, pasti itu orang ... pastii ...' Zidan meyakinkan dirinya.

"ugh... tolong... saya..." suara lemah terdengar dari dalam.

tapi Zidan berpikir lain, 'Hah? suara nya... suara manusia, tapi kenapa rasanya mirip suara hantu di film horor?' Zidan semakin bingung dan takut. namun, rasa penasaran membuatnya tangannya gemetar saat memutar kenop pintu.

pintu terbuka, Zidan melihat sosok wanita berambut panjang sedang duduk lemas di lantai.
"AAAA! HANTU!" Zidan langsung jatuh terduduk, saking kagetnya. Ia hampir menangis, tapi tiba-tiba wanita itu berbicara, "Aden jangan takut, Bibi bukan hantu, Bibi manusia" katanya.

PERAN Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang