18

52 4 0
                                        

Di rumah mewah Elbert, Zidan terbaring di kasur, masih dilingkupi selimut tebal. Di ruangan lain, Elbert berlutut di lantai marmer, kepalanya tertunduk di depan Bunda.

"Kamu ini! Sudah dibilang dari dulu jangan dekat-dekat sama Kinan, malah makin menjadi-jadi!" hardik Bunda, "Jadi begini, kan? Siapa yang kena? Calon mantu saya!"

Elbert mengangkat kepala sedikit, mencoba membela diri. "Tapi, Bun... kan dia (Kinan) yang salah. Kenapa aku yang dimarahi?" ucap Elbert.

"Sudah bisa melawan ya kamu" Ia mencondongkan tubuh, mengancam. "Kalau kejadian seperti ini terulang lagi, Ibu pukul kamu! huh!" bentak bunda.

Elbert hanya bisa menelan ludah, ia gelagapan. Zidan, yang mendengar keributan dari kamar lain, perlahan berjalan menghampiri.

Ia melihat bunda sedang memarahi elbert, sungguh lucu pikir zidan, "Hahaha..." Zidan tertawa kecil, 'elbert seperti anak kecil yang di marahi karna ketahuan makan permen diam diam' batin Zidan.

"Bunda, sudah... Jangan marahi Elbert lagi. Di sini aku yang salah. Aku yang terlalu keras kepala tidak mau mendengarkan nasihat." lerai Zidan.

Ekspresi Bunda langsung berubah, dari marah menjadi khawatir. Ia menghampiri Zidan. "Jangan bilang begitu Sayang..." ucap bunda seakan akan menyesal.

"astaga .. sudah gapapa bunda. aku saja sudah baikan" jawab Zidan lembut.

Ayah Elbert, yang sedari tadi diam, menatap Elbert dengan tatapan penuh celaan. "Ini gara-gara kamu, sih!" sindir Ayah.

"sudah sudah, ayah. pasti bunda capek, kan? istirahat saja ya bunda" lerai Zidan.

Bunda menghela napas panjang. "Baiklah. Kalian juga istirahat, ya." ucap bunda, "kalo elbert nakal pukul aja yah tuh anak" ucap Ayah lalu mengikuti Bunda dari belakang.

Bunda dan Ayah meninggalkan mereka berdua, menyisakan keheningan yang canggung.

Zidan menarik lengan Elbert yang masih diam terduduk, untuk duduk di sofa "om ell, Aku mau bilang sesuatu..." gumam Zidan

Elbert mendekat, ia melihat ke arah Zidan dengan sorot matanya penuh penyesalan.

"Om, aku pengen pulang..." pinta Zidan dengan suara pelan.

"Kenapa? Kamu bisa istirahat di sini dulu, Nanti kalau mau berangkat, aku antar" bujuk Elbert.

Zidan menatap kearah elbert sebentar lalu
"Nggak... Aku cuma pengen pulang," ucap Zidan bersikeras.

"Hah... Oke, oke." Elbert menatap Zidan lekat-lekat. "kamu yakin tidak kenapa-kenapa? atau... kamu kurang puas 'melawannya' tadi?"

Hening. Zidan mengerutkan kening, menatap Elbert dengan ekspresi tidak percaya. "Kamu tahu?"

"Hahaa... You don't make any excuses?" tanya Elbert santai.

"Ehemm... Indo..." tegur Zidan.

"Oh, sorry, Honey," koreksi Elbert, senyum tipis terukir. "Kamu tidak ingin membuat alasan?"

"ehh nyosor amat mulutmu bilang Honay-Honey..." Zidan mendengus. "Buat apa? Kan kamu juga sudah tahu. huhh sia-sia dong aku nampar muka sendiri."

"Iya iya, maaf. aku tidak akan lagi seperti itu" Elbert berjanji, menahan tawa. "tapi itu pipimu tidak apa apa kan??" tanya Elbert khawatir.

"haha gapapa aku kan yang salah disini, gapapa kok" jawab Zidan

hufhh..

"lain kali jangan seperti itu lagi yah? kasian pipi kamu" ujar Elbert sambil mengelus pipi Zidan.

PERAN Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang