bab 3 ✔️

9.6K 556 13
                                        

"apa?! sumpah Zidan?!” salah satu pemuda melotot tak percaya. “boong lu kan? ngeprank ini mah!”

Zidan hanya melipat tangan di dada sambil mendengus. “ngga boong. udahlah, cepet kenalin diri lo semua.”

Suasana jadi hening sebentar. Satu per satu mereka memperkenalkan diri.

“nama gw Raihan Bakti Sanjaya.”

“kalo gw Haikal Arnendra.”

“gw Samuel Elgar Sebastian.”

belum sempat lanjut, pintu terbuka pelan, krekkk
Bi Susi masuk sambil menenteng nampan berisi makanan.

“Lohh, ada temen-temennya Aden ya?” katanya sambil tersenyum ramah lalu meletakkan makanan di meja.

“Iya Bi, mereka baru aja selesai perkenalan,” jawab Zidan.

“Oh yaudah, nih bibi bawain makanan. ayo makan dulu ya, sama bibi bawain hp lama aden” kata Bi Susi lalu menaruh HP nya dan langsung menyuapkan makanan ke mulut Zidan.

Zidan tidak menolak, malah lahap menerima suapan bibinya.

“bii, kapan sih aku bisa pulang? males banget di sini, bau obat semua,” keluh Zidan sambil melirik bibinya

“sebenernya udah boleh pulang, Den. tapi bibi masih khawatir.”

"ayolahh bi... kalau di rumah kan enak, bibi juga ngga usah bolak-balik ke sini" Zidan memasang wajah memelas, matanya berbinar seolah minta dikasihani.

“hmm... tapi Den—”
“pleaseee, Bi Susiii...” suara Zidan manja sekali.

Raihan melongo. “ANJ*R! itu Zidan? yang biasanya pemarah? kok jadi manja gitu?!"

Zidan langsung melirik tajam. “Lo sok asik bangs*t!” ucap Zidan sinis, lalu kembali menatap bibinya dengan manja.
Teman-temannya cuma bisa terdiam melongo melihat perubahan sikap Zidan yang terasa “beda orang.”

“ya sudah, nanti bibi bilang ke dokternya yah.”
Bi Susi tersenyum, mengelus kepala Zidan lembut, lalu melanjutkan menyuapinya sampai habis.

selesai makan, bi Susi keluar menemui dokter. suasana kembali cair.

“sumpah, lu kayak beda orang Zidan ..” kata Haikal masih terheran-heran, dan teman teman yang lain mengangguk setuju akan kata haikal.

'ya iya lah beda orang, gw aja dari dimensi lain. salahin aja Zidan kesayangan lo semua' batin Zidan sambil rolling mata.

“SSG dong,” celetuk Zidan tiba-tiba.

“apaan tuh artinya?” tanya mereka serempak.

“serah-serah gue dong.” lanjut zidan

Mereka pun tertawa bareng. Tapi di antara tawa itu, Haikal tanpa sadar celetuk “duh, muka lu gemes banget sih, tapi kok garang yah...”

Zidan langsung melotot tajam kearahnya “lu ngga sadar diri yah? kalian semua boti apa gimana?!”

“yee... kalo kita boti, lu juga boti dong!” sahut Raihan cepat.

hehh, gue mah seme. ganteng gini dibilang boti.” Zidan mengibaskan rambutnya ala model catwalk.

“Iya deh, terserah lu aja,” sahut Samuel, geleng-geleng.

Obrolan pun lanjut ke arah lain. Zidan sesekali menanyakan soal keluarganya, sekolah, bahkan hal-hal pribadi. Tapi teman-temannya sering mengalihkan topik. Tanpa sadar, hari sudah menuju malam.

“Eh, hampir malem nih. Kita pulang dulu, Zidann,” kata Raihan sambil cek jam tangannya.
“iya weh kalo kelamaan emak gue ngamuk,” timpal Haikal buru-buru berdiri.

PERAN Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang