bab 4✔️

8.6K 551 17
                                        

setelah malam yang panjang dan menegangkan, Zidan dengan rasa lelah yang luar biasa, dengan matanya yang terasa berat, namun pikirannya terus berputar, memutar ulang adegan semalam. Zidan tak bisa tidur.

bi Susi, masuk ke kamar dan terkejut melihat mata Zidan yang masih terbuka lebar.

"bi... pulang, yuk... di sini serem banget, bi," rengek Zidan, suaranya parau.

"astaga, ayo den kita pulang" jawab Bi Susi, menghela napas lega "kemarin kan dokter sudah izinkan kita pulang" seketika wajah Zidan berseri-seri.

"yukk lah! kita pulang!" ujarnya girang, sambil membatin, 'ahahahaha, akhirnya aku gak akan lihat hantu cab*l itu lagi!'

mereka berdua berjalan menuju pintu keluar, bi Susi di depan, Zidan di belakang. Zidan tidak bisa menahan diri untuk menoleh ke belakang. di ambang pintu kamar yang baru saja mereka tinggalkan, berdiri sosok hantu cebol itu, melambaikan tangan dengan senyum jahil.

'hah?! anjir! itu apaan?!' jantung Zidan serasa copot.

"den, kenapa melamun?" tanya Bi Susi. "ayo, supir sudah menunggu di luar."

"ahh... iya, Bi." Zidan mengalihkan pandangannya, mencoba mengabaikan sosok itu dan berjalan cepat menyusul Bi Susi.

sesampainya di luar rumah sakit, Zidan terpaku. di depan mereka terparkir sebuah Cadillac XTS Limousine hitam mengkilap, memancarkan aura kemewahan yang tak main-main.
"bi... ini beneran kita pakai mobil ini?" tanya Zidan, matanya membulat sempurna.

bi Susi hanya tersenyum dan membukakan pintu untuknya. "iya, den, ayo masuk."

Zidan masuk dengan hati-hati, seperti takut merusak mobil mahal itu. 'wow, g*la .. keren banget nih mobil! andai aja ini milik gw, gw pasti udah seneng banget.'

selama perjalanan, Zidan dan bi Susi mengobrol

Zidan beberapa kali bertanya tentang keluarganya, namun setiap kali ia mencoba, bi Susi selalu berhasil mengalihkan topik dengan cerita-cerita lain.

Zidan tak ambil pusing, ia terlalu sibuk menikmati perjalanan yang terasa seperti mimpi.

tak lama kemudian, mobil mewah itu berhenti di depan sebuah rumah yang lebih pantas disebut museum. halaman luas dengan taman terawat membuat Zidan terpana.

'gi*a! gede banget! ini rumah atau museum?' Zidan memandangi sekeliling dengan takjub.
"ayo masuk, den. bibi akan kenalkan keluarga aden," ajak Bi Susi.
"oke, bi. aku jalan di belakang bibi aja, ya," jawab Zidan, sedikit gugup.

bi Susi mengangguk dan menuntun Zidan masuk.

krekk
begitu pintu terbuka, suara nyinyir yang menusuk langsung terdengar.
"wah, wah... si cupu udah pulang, nih?"
"hahaha, iya. gw kira udah mati," sambung suara lain.

Zidan berhenti melangkah, bingung. Ia menoleh ke arah sumber suara, melihat dua pemuda sebayanya berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatapnya dengan tatapan meremehkan.

Zidan bingung. 'mereka ngomongin gw, ya? apa gw memang kelihatan cupu? tapi kayaknya foto-foto di HP-ku bener sihh...'

"heh, cupu! sini lo!" panggil seorang pemuda yang duduk disana.

"hahh? gw?" Zidan menunjuk dirinya sendiri.

"ya iyalah! emang siapa lagi kalau bukan lo!"

"nggak deh, males. bi, kamar Zidan di mana?" tanya Zidan, mengabaikan mereka.

"di lantai dua, den. ada kamar dengan papan nama aden," jawab bi Susi.
"oalah, oke." Zidan langsung melengos pergi, mengabaikan tatapan sinis dua orang di ruang tamu. mereka hanya bisa mendengus kesal. 'idih, kayak monyet lagi marah-marah,' pikir zidan.

PERAN Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang